Kisah empat hari tiga malam ini berawal pada suatu senja di bulan Juli tahun 2012. Waktu itu Radit sedang main ke rumah. Dia bilang kalau dia baru punya kartu kredit. Salah satu alasannya punya kartu kredit adalah untuk berburu tiket promo pesawat.
Berhubung komputerku tersambung internet selama 24 jam (kalau Telkom dan PLN kompak ), jadilah malam itu kami melewatkan waktu beburu tiket murah. Kami itu sebenarnya sudah sering bertualang ke mana-mana sejak masih muda dulu. Tapi baru kali ini kami berdua berencana bertualang naik pesawat. Maklum, dulu kan kantong kami masih kempes (padahal sekarang juga masih kempes
).
Now everyone can fly kalau punya duit...
Radit bilang kalau dia seumur-umur belum pernah pergi ke Bali. Jadilah kami menetapkan tujuan untuk pergi ke Bali dan didapatlah tiket promo Air Asia ke Bali seharga Rp159.500 per orang sudah termasuk pajak. Beruntung pula, Garuda Indonesia waktu itu juga sedang promo dan kami peroleh lagi tiket pulang ke Jogja Rp235.000 per orang sudah termasuk pajak.
Berhubung tiket promo itu jadwal keberangkatannya di tahun 2013, kami memutuskan berangkat ke Bali pada tanggal 4 April 2013. Sebab, dari kalender yang aku baca, hari itu bertepatan dengan minggu Galungan. Untuk lebih tahu mengenai hari Galungan silakan klik tautan ini.
Aku sih penasaran dengan perayaan Galungan serta Kuningan. Katanya di mana-mana banyak yang menggelar piggie party ya? Hahaha.
Radit sih nggak punya tujuan khusus. Baginya asal sudah ke Kuta, Tanah Lot, dan Joger itu sudah cukup. Jadilah aku yang merancang agenda selama di Bali, dan sudah jelas kalau aku yang dipasrahi tugas pastilah air terjun jadi objek sasaran. Hehehe.
#1, Hari Pertama
Hari demi hari berlalu dan tibalah bulan April tahun 2013. Pada Kamis pagi buta, kami berangkat melajang menuju Bali dari Bandara Adisutjipto. Kenapa aku sebut melajang karena pada waktu itu kami masih lajang dan perginya hanya berdua, hahaha.
Pukul 8 pagi waktu Indonesia tengah kami sampai dengan selamat di Bandara Ngurah Rai, Bali. Begitu keluar dari gedung bandara kami langsung disambut oleh cuaca Bali yang luar biasa panas! Beh! Apalagi aku memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke gerbang masuk bandara yang berbatasan dengan jalan raya. Kurang kerjaan sekali!
Trotoarnya sempit dan banyak pohon tumbuh di tengah trotoar. Ini maksudnya harus lebih bersabar ya?
Ternyata, jarak dari gedung bandara sampai ke gerbang masuknya itu lumayan jauh. Mungkin ada sekitar 1,5 km dan itu berpanas-panas ria. Yang disayangkan adalah area pejalan kakinya sempit sekali dan tidak rindang. Kalaupun ada pohon perindang, posisinya dengan trotoar ngawur. Padahal bandara Ngurah Rai ini kan bandara internasional walaupun ya sebagian besar lokasi sedang dibangun ulang. Intinya, kalau tidak siap fisik jangan coba-coba deh jalan kaki seperti kami!
Kami sempat putus asa ketika polisi lalu lintas mengabarkan kalau tidak ada angkutan umum dari bandara yang menuju Jl. Legian. Selang beberapa saat, datanglah angkot yang menawarkan kami untuk naik. Ternyata angkot itu rutenya lewat Jl. Raya Tuban – Jl. Raya Kuta sampai Pasar Kuta. Jadilah kami naik angkot itu, nanti turun di Pasar Kuta dan jalan kaki ke Jl. Legian. Tarif angkotnya itu Rp5.000 per orang. Tapi kok aku curiga, mahal banget nggak sih?
Naik angkot biar lebih merakyat (padahal pingin ngirit).
Kami menginap di kawasan Jl. Legian tepatnya di Losmen Arthawan yang katanya susah banget dapat kamar kosong pas musim liburan. Setelah menyewa sepeda motor kami pun berangkat menuju objek wisata Danau Batur untuk “pemanasan” kegiatan berburu foto. Sayangnya kami dapat pengalaman yang tidak mengenakkan selama di Kintamani. Kapok nggak ya ke sana lagi?
#2, Hari Kedua
Hari Jum'at pagi kami bergegas menuju Air Terjun Sekumpul. Lewatnya ya Bedugul. Pikir kami, karena jaraknya hanya sekitar 15 km dari Bedugul jadi ya bisa lah dapat kesempatan salat Jum'at di Bedugul sepulang dari air terjun. Eeee, ternyata karena medan jalan ke Air Terjun Sekumpul itu rusaknya bukan main ditambah dengan guyuran hujan, kami baru sampai lagi di Bedugul setelah lewat waktu salat Jum'at. Haduuuh, berdosa ini...
Di puncak gunung di Bali berdiri masjid, di kota besarnya malah jarang ada.
Mumpung di Bedugul, seusai salat Zuhur dan makan siang dirangkap pagi, kami menyempatkan berkunjung sejenak di Pura Ulun Danu Bratan yang fotonya ada di lembaran uang Rp50.000 itu. Kunjungan di Pura Ulun Danu Bratan bertepatan dengan habisnya baterai kameraku. Alhasil, hari itu seusai dari Bedugul kami ke Tanah Lot dan aku tidak motret. Biarlah Radit saja yang motret, hehehe.
#3, Hari Ketiga
Hari Sabtu pagi kami telat bangun untuk bisa memotret matahari terbit di Pantai Sanur. Kami juga janjian dengan Ervan yang rumahnya pernah aku jajah sewaktu masih unyu-unyu. Berhubung Sabtu Ervan libur, jadilah kami bertiga jalan-jalan dengan mobilnya Ervan ke Air Terjun Tegenungan, Goa Gajah, Pura Gunung Kawi, dan Pura Uluwatu.
Yang dua di samping kiriku sudah tidak lagi lajang.
Tebing di Uluwatu mengingatkanku pada traumaku di Pantai Bekah.
Yang membuat Bali terasa berbeda mungkin karena budaya mereka yang berbeda dari yang ada di pulau Jawa.
Satu lagi, harap berhati-hati dengan DSLR yang pembaca bawa ketika berjumpa dengan makhluk satu ini.
SILAKAN DIBACA
#4, Hari Keempat
Malam terakhir di Bali kami lewatkan dengan bermalam di rumah Ervan. Selain akomodasi, kami juga dapat konsumsi cuma-cuma dari ibunya Ervan. Untuk konsumsi sebenarnya sih nggak sulit kok menemukan makanan halal di Bali. Karena dimana-mana pasti ada yang namanya tempe dan tahu penyet.
Lokasi tidur kami tidak banyak berubah (atas tahun 2009 dan bawah tahun 2013).
Makan ngirit ala anak kos-kosan walau harganya ya lebih mahal dari di Jogja.
Hari Minggu sebelum kami bertolak kembali ke Jogja, Ervan mengajak kami muter-muter Bali lagi untuk mencari oleh-oleh dan mengunjungi tempat-tempat di kawasan Bali selatan semacam Nusa Dua. Yang aku masih penasaran itu kawasan Bali bagian barat. Katanya di sana hutan semua ya? Aku juga belum kesampaian ke Singaraja. Semoga kalau aku ke Bali lagi bisa berkunjung ke tempat-tempat yang aku sebutkan itu dan juga ke air terjun yang lain, hahaha.
Selama di Bali aku juga membuat banyak “kekacauan”, hahaha . Seringnya dengan sikapku yang mendadak jadi jutek. Lalu saat motret, aku merasa nggak nyaman aja kalau motret diikutin Radit terus ke mana-mana, jadi terasa nggak bebas gitu. Yah, aku harusnya lebih bisa menjaga sikap selama terpisah jauh dari bumi Mataram. Halah, malah curhat...
Maaf ya Dit, aku merasa diikuti...
Berhubung aku juga merangkap jabatan sebagai bendahara, berikut ini adalah daftar pengeluaran kami yang sempat aku catat. Siapa tahu Pembaca keuangannya mepet tapi pingin jalan-jalan ke Bali, hehehe.
Pesawat Air Asia Jogja-Denpasar | Rp159.500 per orang |
Pesawat Garuda Indonesia Denpasar-Jogja | Rp235.000 per orang |
Airport Tax Bandara Adisutjipto Jogja | Rp35.000 per orang |
Losmen Arthawan | Rp50.000 per orang/malam |
Sewa Sepeda Motor | Rp50.000 per hari |
Parkir Motor di Dermaga Kedisan Danau Batur | Rp2.000 |
Parkir Motor di Pantai Kuta | Rp2.000 |
Makan Malam Penyetan Lamongan | Rp11.000 per porsi |
Parkir Motor di Air Terjun Sekumpul | Rp2.000 |
Makan Siang di Bedugul | Rp17.000 per porsi |
Tiket Masuk Pura Ulun Danu Bratan | Rp10.000 per orang |
Tiket Masuk Pura Tanah Lot | Rp11.000 per orang |
Makan Malam Nasi Tumpang | Rp15.000 per porsi |
Parkir Motor di Pantai Sanur | Rp2.000 |
Tiket Masuk Air Terjun Tegenungan | Rp5.000 per orang |
Tiket Masuk Pura Goa Gajah | Rp15.000 per orang |
Tiket Masuk Pura Gunung Kawi | Rp15.000 per orang |
Tiket Masuk Pura Uluwatu | Rp15.000 per orang |
Sekian dulu ya pembaca kilas balik tentang petualangan ke Bali yang aku lakukan di bulan April 2013. Sampai berjumpa di petualangan berikutnya! Terima kasih sudah membaca sampai sini!
NIMBRUNG DI SINI
nanti mungkin saya post ceritanya. Membaca postingan ente menambah pengetahuan saya ttg Bali, mungkin sya mau kesana lagi.
salam kenal dari qoreader . com
Wah, saya nggak kepikiran sama Couchsurfing, tapi memang saya bukan anggotanya juga sih. Kalau dirimu lebih enak ya sudah bawa \"bekal\" kendaraan sendiri dari Makassar, hehehe. Mungkin kalau di Bali ada akomodasi yang bisa ditumpangi dan biaya pergi-pulang domisili-Bali tidak dihitung biayanya lebih murah. Yang mahal kan memang di transportasi antar pulau dan akomodasi.
dapetin tiket murah...
Tapi,
duh keren..
pengeluarannya itu loh, detail banget..
haha :D
sukses deh ^_^
Numpang ninggalin jejak, siapa tau besok-besok butuh list harganyaa :D