HALAMAN UTAMA

PROFIL

ARSIP ARTIKEL

BUKU TAMU

 

KATEGORI

Pilihan yang Tersisa ke Air Terjun Gurok Beraye

Selasa, 14 Februari 2017, 05:22 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Di dekat kandang tarsius yang ada di Taman Wisata Alam Batu Mentas, di sanalah aku menunggu Bapak yang sedang menuntaskan hajat di salah satu bilik toilet.

 

Di saat aku sedang iseng mengabadikan foto kalkun lucu yang wira-wiri, di saat itulah aku mendengar Bapak berujar dari dalam bilik toilet.

 

“Lho? Masak nggak mau ke Marsila sih? Kan sudah dekat kalau dari sini? Alasannya apa?”

 

Di bilik toilet sebelah, Ibu membalas pertanyaan Bapak. Ibu bilang, Bang Dedy nggak memberikan jawaban yang spesifik atas ketidak berkenaannya mengantar kami ke Air Terjun Marsila. Jelaslah jawaban yang seperti itu nggak bisa diterima Bapak. #sedih

 

 

Dan begitulah...

 

Di luar bilik toilet, seorang pemuda yang kian tak pantas disebut muda berjongkok mendengarkan kedua orangtuanya bersahutan-sahutan dari dalam bilik toilet. Tentang ke mana tujuan berikutnya pada hari Selasa (8/3/2016) siang di Pulau Belitung. Tentang air terjun yang sepertinya dijauhi karena sesuatu hal.

 

Sementara di dalam kandang, seekor tarsius mungil tidak ambil pusing dengan segala macam urusan ini....

 

...

 

Eh, kenapa bawa-bawa tarsius ya?

Kasihan dia...

Sudah kecil, mungil, tak bisa menguasai dunia pula.... #eh

 

Air Terjun Marsila yang Ternyata....

Setelah kedua pasangan yang telah berjasa melahirkanku ke dunia 29 tahun silam itu selesai menyucikan diri dari hadas kecil, kami pun beranjak memasuki mobil. Di dalam, Bang Dedi sudah menanti di belakang setir.

 

“Ini kita ke mana Pak?”, tanyanya

 

Weh!? Setelah apa yang diceritakan oleh Ibu beberapa saat yang lalu, ini adalah pertanyaan yang sungguh kontroversial! Sungguh suatu umpan panas yang tentu nggak disia-siakan oleh Bapak.

 

“Ke Air Terjun Marsila ya? Dekat kan dari sini?”, balas Bapak

 

Aku sempat berharap Bang Dedy membalasnya dengan sematan kata “tidak” atau mungkin sekadar “tapi”. Akan tetapi, Bang Dedy ternyata sendiko dawuh dengan ucapan Bapak. Ia hanya membalas singkat,

 

“Ya, Pak.”

 

Kemudian mobil pun dibawanya keluar dari parkiran Taman Wisata Alam Batu Mentas, menuju jalan beraspal sepi nan lebar yang terbentang panjang.

 


Pemandangan khas di jalanan Pulau Belitung. Tanpa lampu merah dan ayam atau sapi yang melintas. #eh

 

Seperti lazimnya obyek-obyek wisata yang tersebar di Belitung, di sepanjang jalan tak ada satu pun papan petunjuk yang mencantumkan arah ke Air Terjun Marsila. Eh, jangankan papan petunjuk, rumah-rumah warga saja jarang!

 

Jadi, aku hanya bisa berharap semoga Bang Dedy benar-benar mengantar kami menuju ke Air Terjun Marsila. Sepanjang perjalanan, dirinya sama sekali tak membuka percakapan. Sementara itu di jok belakang, Bapak dan Ibu tampak pulas tertidur.

 

 

Beberapa menit kemudian, mobil pun menepi ke pinggir kiri jalan aspal. Sekelilingnya semak-semak. Suasananya sepi. Hanya ada segelintir sepeda motor yang melintas.

 

“Ini, Air Terjun Marsila masuk sini.”, kata Bang Dedy

 

Dari kejauhan aku melihat adanya sepasang bangunan kayu serupa pos jaga. Mobil pun bergerak pelan mendekati kedua bangunan tersebut. Semakin didekati, aku semakin merasakan ada sesuatu yang janggal.

 

 

Betul saja, begitu sepasang bangunan tersebut tampak jelas di pelupuk mata, aku serta-merta berujar,

 

“Lho? Kok dilarang masuk!?”

 


Air Terjun Marsila terlarang dimasuki untuk sementara waktu!?

 

Bang Dedy memajukan mobil. Sedikit melewati dua bangunan pos jaga tersebut. Aku mengamati dari balik jendela. Tak ada manusia yang berlalu lalang. Tak ada orang yang bisa ditanyai. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Sepi....

 

Aku lihat ada konstruksi serupa kolam. Aku lihat ada gundukan tanah. Aku lihat ada semacam wahana permainan anak. Tapi dari kesemuanya, aku nggak berinisiatif untuk turun dari mobil dan mendekatinya. Nggg... mungkin karena hawa sejuk AC mobil bikin aku malas gerak? #hehehe

 

Bang Dedy pun memutar mobil kembali ke jalan aspal. Tidak jauh dari sana ada warung. Bang Dedy turun dari mobil, membeli minum sembari ngobrol dengan ibu pemilik warung. Lagi-lagi, aku hanya mengintai dari dalam mobil sembari menikmati sejuknya hawa AC. #hehehe

 


Mengulik informasi dari si ibu warung.

 

Menurut penuturan si ibu warung, Air Terjun Marsila ini sudah lama ditutup. Entah kapan bakal dibuka untuk umum lagi.

 

Sebetulnya, Air Terjun Marsila hanyalah satu dari sejumlah air terjun yang terdapat di dalam kawasan wisata Sukma Alam. Marsila adalah nama pemilik lahan di mana air terjun tersebut berada.

 

 

Kata Bang Dedy, penyebab ditutupnya Air Terjun Marsila dikarenakan pernah ada yang meninggal di sana. Kabarnya, kawasan Air Terjun Marsila itu memang terkenal angker!

 

WEH! Jadi, pada hari ini ceritanya aku wisata ke tempat-tempat angker di Belitung? Apa mungkin kawasan Air Terjun Marsila itu sarangnya para “bayangan” seperti yang aku jumpai di Taman Wisata Batu Mentas beberapa jam yang lalu itu? #horor

 

 

Hmmm... mungkin itu sebabnya Bang Dedy awalnya sungkan mengantar kami ke Air Terjun Marsila. Mungkin juga dirinya sudah tahu bahwa Air Terjun Marsila ditutup. Ia berkenan mengantar kami ke sini bisa jadi karena tidak enak pada Bapak. 

 

Bapak dan Ibu sendiri nggak percaya dengan alasan angker macam itu. Walaupun ya... sekitar beberapa tahun yang lalu kami sekeluarga sempat berurusan dengan hal yang agak mistis. Perkara keris kecil di dalam lemari yang bikin gaduh pada malam hari. #hehehe

 

Ah, mistis....

 

Jalan Menuju Air Terjun Gurok Beraye yang....

Karena gagal menemukan air terjun di Taman Wisata Batu Mentas dan mendapati kabar angker bahwa Air Terjun Marsila ditutup, maka satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menyambangi Air Terjun Gurok Beraye yang lumayan populer di Belitung.

 

Untuk menuju ke Air Terjun Gurok Beraye dari Air Terjun Marsila, maka kami harus balik lagi sekian puluh kilometer ke utara setelah sebelumnya menempuh sekian puluh kilometer ke selatan. Tapi ya nggak masalah. Soalnya, yang nyopir mobil kan Bang Dedy. Terlebih lagi, jalan raya di Belitung itu kan SEPI TANPA ADA LAMPU LALU LINTAS! Jadinya cepat sampai deh. #hehehe

 


Kalau dari Kota Tanjung Pandan, rute perjalanan kami hari ini dari kiri ke kanan, ke bawah, kemudian ke atas. #hehehe

 

Oh iya, sekadar informasi. Air Terjun Marsila letaknya di Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur. Sementara Air Terjun Gurok Beraye letaknya di Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

 

Untuk menuju ke dua obyek wisata air terjun tersebut SAMA SEKALI NGGAK ADA ANGKUTAN UMUM lho!

 


Namanya juga menyusuri lereng Gunung Tajam, jadi medan jalannya seperti ini lah. #hehehe

 

Jam menunjukkan pukul 1 siang lebih sekian belas menit saat mobil mulai menapaki jalan hutan yang membelah Gunung Tajam. Di lereng gunung inilah letak Air Terjun Gurok Beraye yang menjadi obyek buruan kami.

 

Seperti biasa, rute jalan menuju kemari hanya Bang Dedy yang paham. Sebabnya ya itu, di sepanjang jalan sama sekali nggak ada petunjuk arahnya! Bahkan, di mataku setiap cabang jalan di mana mobil berbelok sepertinya sama saja. Tidak ada penanda yang unik dan khas.

 

Alhasil, segala macam pilihan jalan kami pasrahkan saja ke Bang Dedy. Terlebih, dirinya sudah berhasil meyakinkan kami dengan pernyataan,

 

“Saya sudah pernah ke Gurok Beraye...”

 

Yang kemudian ditambahi keterangan waktu,

 

“... tapi dulu sewaktu kelas 2 SMP.”

 

BEH!

 


Hujan turun di tengah kondisi jalan yang tidak tepat! #hehehe

 

Langit yang sedari tadi cerah merona, tiba-tiba bermuram durja. Entah siapa gerangan yang membuatnya bersedih. Tapi yang jelas, kami tak luput dari duka sang langit. Hujan lebat disertai petir dan angin kencang mewarnai perjalanan. #senyum.lebar

 

Bang Dedy meneguk minuman penambah stamina yang tadi ia beli. Kacamata hitam yang sedari tadi menutupi kedua matanya ia singkirkan. Tak hanya itu, kedua tangannya kini menggenggam erat gagang kemudi. Tubuhnya pun ia bungkukkan sedikit.

 

 

Dari gerak-geriknya aku mencium tanda-tanda yang nggak beres. Di lubuk hati yang terdalam aku membatin lirih,

 

I have a bad feeling about this.”

 

Sebagaimana dialog yang tak pernah absen terucap dalam setiap seri opera bintang Star Wars. #hehehe

 

Dan selama beberapa menit ke depan, baik aku dan Bang Dedy sama-sama berusaha menghadapi rasa tegang yang tersaji di depan mata.

 


Gimanaaa? Mau memutar balik arah? Nggak ada ruang buat balik arah ya! #hehehe

 

Jadi, apakah yang bikin tegang itu?

 

Dhemit?

 “Bayangan”?

Makhluk halus?

 

Oh, No, No, No!

 

Yang bikin tegang bukanlah entitas kasat mata seperti di atas itu, melainkan kombinasi cantik dari 9 hal berikut, yakni:

 

  1. Hujan deras
  2. Tanah longsor
  3. Pohon tumbang
  4. Sambaran halilintar
  5. Jalan yang rusak
  6. Jalan yang menanjak terjal
  7. Jalan yang sempit
  8. Jurang dalam di pinggir jalan
  9. dan yang pasti... mobil dari arah sebaliknya yang meminta ruang agar bisa lewat!

 

Aku yakin, jika kombinasi cantik 9 hal di atas disertakan sebagai salah satu ujian praktek pembuatan SIM A, peserta yang lulus bakal amat sangat langka! #hehehe

 

SUMPAH! Aku sendiri nggak mau menyetir mobil melewati jalan yang medannya dan kondisinya semacam ini! #kabur

 


Pemanis di pinggir jalan. #senyum.lebar

 

Alhamdulillah, berkat izin Gusti Allah SWT serta kelihaian Bang Dedy dalam mengemudikan mobil, kami pun selamat menembus kombinasi 9 halang rintang di atas itu.

 

Tak hanya itu, langit pun sepertinya iba dengan kegigihan kami. Tepat mendekati puncak, hujan mendadak sirna. Kemunculan curug-curug mungil di pinggir jalan seakan menandakan bahwa perjuangan kami menyibak lereng Gunung Tajam ini tak lama lagi akan berakhir.

 

Aaaah... benar-benar ketegangan yang menyenangkan... #eh

 

Saranku, kalau Pembaca ingin kondisinya jadi “sedikit” tegang, silakan datang di musim kemarau agar poin ke-1 hingga ke-4 tereliminasi. #senyum.lebar

 

Kisah di Balik Air Terjun Gurok Beraye yang....

Mendekati pukul 2 siang, kami tiba di lokasi parkir kendaraan Air Terjun Gurok Beraye. Suasana di lokasi parkir sepi tanpa ada satu pun petugas yang berjaga.

 

Air Terjun Gurok Beraye berjarak nggak terlampau jauh dari lokasi parkir. Medannya pun cukup bersahabat. Nggak ada adegan keluar masuk hutan dan menyibak semak. Cukup berjalan kaki kurang dari 5 menit, pemandangan indah Air Terjun Gurok Beraye pun tampak di depan mata.

 

Subhanallah....

 

Akhirnya di Belitung ketemu sama air terjun juga, hahaha. #senyum.lebar

 


Dengan ini Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dicoret dari daftar pencarian air terjun. #senyum.lebar

 

Air Terjun Gurok Beraye memiliki ketinggian yang nggak begitu tinggi. Mungkin ya sekitar 30 – 40 meter. Aliran airnya juga nggak terlampau deras. Aliran airnya merambat di bebatuan sehingga kurang cocok sebagai obyek foto slow speed.

 

Yang menarik dari Air Terjun Gurok Beraye adalah keberadaan kolam (kedung) yang lumayan luas di dasar air terjun. Kolam yang seperti ini jelas merupakan tempat yang asyik untuk bermain air. #senyum.lebar

 


Mau mendekat nggak bisa, jadinya dipotret dari jauh deh. #hehehe

 

Aku sempat berniat memotret Air Terjun Gurok Beraye dengan memijak dasar kolam. Tapi ternyata kolamnya lumayan dalam. Jadinya ya nggak jadi deh. Oleh karena kedalamannya itu, bisa jadi kolam ini cocok juga dipakai untuk berenang. Tapi jelas mesti hati-hati.

 

Di kolam ini juga hidup banyak ikan yang ukurannya kecil-kecil. Apa di kolam ini juga hidup ikan yang ukurannya lebih besar ya? Jadinya kan buat jadi lokasi mancing boleh juga, hehehe. Asal ikannya bukan ikan keramat saja sih... #hehehe

 


Ibu ngasih makan ikan-ikan kecil di kolam. #senyum.lebar

 

Walaupun Air Terjun Gurok Beraye menawarkan pemandangan yang sejuk di lereng Gunung Tajam, namun suasana di sekitar air terjun... yah... terlihat kotor dan tidak terawat.

 

Sampah-sampah plastik dapat dengan mudah dijumpai di sana-sini. Bisa jadi banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan dikarenakan tidak adanya tempat sampah.

 


Hadeeeh! Sudah pindah pulau tapi kelakuan tetap sama....

 

Di dekat kolam, terdapat suatu bangunan tanpa atap. Awalnya aku menduga bangunan tersebut adalah tempat penampungan sampah berukuran masif. Tapi, setelah melongok ke dalam, sepertinya bangunan ini bukan tempat sampah.

 

Di dalam bangunan terlihat ada struktur yang sepertinya bisa dimanfaatkan sebagai tempat duduk. Apakah mungkin dahulunya ini bangunan warung? Ataukah mungkin sekadar ruang ganti pakaian? Yang jelas bangunan ini sepertinya sudah lama terbengkalai.

 

Di sebelah bangunan usang tersebut  ada bekas kolam buatan. Sepertinya, kolam buatan ini dahulu juga dipergunakan sebagai tempat bermain air. Mungkin kolam bermain untuk anak-anak?

 

Sayangnya, kolam buatan ini bernasib sama seperti bangunan di sebelahnya. Sama-sama terbengkalai.

 


Penampakan bangunan-bangunan terbengkalai di sekitar Air Terjun Gurok Beraye.

 

Bila mencermati keberadaan bangunan-bangunan yang terbengkalai, sepertinya dahulu kala Air Terjun Gurok Beraye ini pernah dikelola sebagai obyek wisata. Entah kenapa kok sekarang malah seperti terabaikan.

 

Meski demikian, nggak begitu jauh dari lokasi parkir berdiri bangunan toilet dua bilik yang sepertinya belum lama ini dibangun. Jadi beruntunglah bagi pengunjung yang mendadak harus memenuhi “panggilan alam” nggak perlu repot-repot mencari inspirasi di semak-semak. #senyum.lebar  

 

Tapi ya karena pada waktu itu aku lagi nggak kebelet ngendog jadinya aku nggak melirik isi toilet tersebut. Apakah memang representatif dipakai ngendog dan ada airnya atau nggak. #hehehe

 


Ingat! Nggak setiap air terjun dilengkapi toilet semacam ini. #senyum.lebar

 

Hal menarik lain di kawasan Air Terjun Gurok Beraye adalah keberadaan papan petunjuk arah menuju makam Syekh Abu Bakar Abdullah. Kata Bang Dedy, beliau itu adalah ulama yang menyebarkan Islam di Belitung.

 

Makam Syekh Abu Bakar Abdullah ini letaknya ada di puncak Gunung Tajam. Kabarnya, kucing peliharaan sang syekh juga dimakamkan di tempat tersebut. Weeeh....

 

Tapi, karena jalan menuju ke makam harus naik-naik gunung masuk hutan, jadinya aku nggak berniat ke sana. Sudah cukup lah pengalamanku masuk-masuk hutan Belitung sewaktu di Taman Wisata Batu Mentas. Ogah kalau ketemu “bayangan” lagi! #hehehe

 


Wew... makam ulama di dalam hutan di puncak gunung.

 

Selagi langit belum kembali meneteskan rintik hujan, kami pun menyudahi kunjungan di Air Terjun Gurok Beraye. Waktu yang kami lewatkan hanya sekitar lima belas menit. Bang Dedy keheranan karena kok kami cepat sekali di sana dan tanpa bermain air. Yah... niatku ke air terjun kan cuma buat motret, terus diolah di komputer, dan berakhir jadi artikel blog. #hehehe

 

Sewaktu kami berdua berjalan kaki kembali ke mobil, Bang Dedy mengungkapkan hal yang mencengangkan,

 

“Tahu nggak Mas? Di air terjun ini juga pernah ada orang yang meninggal lho!”

 

Waduuuh! Masak seharian ini aku berurusan sama tempat-tempat mistis di Belitung sih?

 

“Hah!? Kok bisa? Karena di sini ada ‘penunggunya’?”, tanyaku penasaran

 

Sambil menatapku dengan kalem, Bang Dedy berkata,

 

“Bukan, tapi karena tersambar petir!”

 

BEH!

NIMBRUNG DI SINI