Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Kamis, 21 Maret 2019, 11:03 WIB

Etika Berwisata Peninggalan Bersejarah

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak peninggalan bersejarah! Kalau bisa batasi kontak fisik ke benda tersebut!
  3. Baca informasi sejarahnya. Kalau perlu difoto dan dibaca lagi di rumah.
  4. Patuhi peraturan yang berlaku!
  5. Jaga sikap dan sopan-santun!
  6. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  7. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Cepogo adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kalau dibandingkan dengan kecamatan lain seperti Juwangi, Cepogo memang relatif dekat dari Yogyakarta. Jaraknya ya... sekitar 60 km lah. #eh #jauh.itu

 

Dalam bayanganku jarak yang 60-an km itu sama seperti jarak Yogyakarta – Solo. Kalau dulu aku sukses bersepeda PP Yogyakarta – Solo, harusnya aku juga bisa sukses bersepeda PP Yogyakarta – Cepogo dong?

 

Nah, karena itu pada Rabu (9/8/2017) silam aku dan Mbah Gundul menggelar agenda bersepeda PEKOK ke Cepogo. Misi utama kami adalah menyambangi situs purbakala Candi Sari dan Candi Lawang di Desa Gedangan, Cepogo.

 

Ini ceritanya bersepeda ke candi-candi. Tapi, jaraknya puluhan kilometer! Hahaha.

 

 

Sebetulnya, aku sudah pernah bersepeda dari Yogyakarta ke Cepogo. Cuma, waktu itu nggak mampir ke Candi Sari dan Candi Lawang. Itu kejadiannya tahun 2011, pas PEKOK keliling Gunung Merapi bareng Pakdhe Timin, Angga, Arisma, dan Yudhis.

 

Kalau dulu pas PEKOK mubeng Merapi aku bersepeda ke Cepogo lewat jalur utara, kali ini aku menjajal bersepeda ke Cepogo lewat jalur selatan. Yang dimaksud jalur selatan adalah dengan menyusuri Jalan Raya Yogyakarta – Solo sampai ketemu simpang jalan ke arah Deles. Setelah itu ya baru mengarah ke utara.

 

Sekadar informasi, Kecamatan Cepogo itu terletak di sisi barat daya Gunung Merapi. Hawanya relatif sejuk karena bertempat di lereng gunung.

 

peta letak kecamatan cepogo di boyolali

 

Mbah, Yakin Lewat Sini?

Perjalanan bersepeda dari Yogyakarta menuju Cepogo dimulai dari Prambanan. Awalnya, Mbah Gundul ngajak ngumpul di bawah Jembatan Layang Janti pukul 6 pagi. Tapi, aku ngajak ngumpulnya lebih jauh lagi, di Prambanan pukul 6 pagi.

 

Eh, ternyata aku baru sampai di Prambanan sekitar pukul setengah 7 pagi! Soalnya, pagi hari awal Agustus itu kan Jogja sedang dingin-dinginnya. #alasan

 

Mbah Gundul sendiri baru datang menjelang pukul 7 pagi. Kalau begini namanya, sama saja dengan ngumpul di bawah Jembatan Layang Janti pukul 6 pagi! Lha, umumnya kalau start bersepeda dari bawah Jembatan Layang Janti sampainya di Prambanan kan ya sekitar pukul 7.

 

kisah penjual jajanan pasar tradisional di sepanjang jalan solo

 

Sesudah menyetok perbekalan di kios jajanan pasar di pinggir jalan, kami pun menyusuri Jalan Raya Yogyakarta – Solo hingga tiba di pertigaan lampu lalu lintas dekat Pabrik Gula Gondang Baru. Pertigaan ini adalah cabang jalan menuju ke arah Deles.

 

Eh, ternyata cabang jalan ini ditutup! Rupanya sedang ada perbaikan jalan. Lebih tepatnya, perubahan konstruksi jalan dari jalan aspal menjadi jalan beton.

 

Aku sempat usul ke Mbah Gundul buat mencari jalan lain menuju ke arah Deles. Tapi Mbah Gundul bilang supaya tetap lewat jalan itu saja. Untuk menuju ke arah Deles kami harus melalui sisi jalan yang baru rampung dibeton.

 

proyek betonisasi jalan di samping pabrik gula gondang baru arah ke deles klaten pada tahun 2017

 

“Mbah, yakin lewat sini? Kalau disemprit (petugas) nanti gimana?” aku khawatir.

 

“Ah tenang saja! Sepeda ini!” jawab Mbah Gundul yakin.

 

Yo wis lah Mbah… manut aku!

 

ibu-ibu warga desa mencuci baju di sungai klaten

 

Walaupun jalannya mulus dan tanpa truk + mobil, bersepeda di sisi jalan yang baru rampung dibeton ini ternyata juga ada kendalanya. Di beberapa ruas kami harus berpindah ke jalan aspal. Terutama ketika melintasi jembatan karena jalan betonnya putus di tengah-tengah.

 

Sementara itu, aku merasa kalau kontur jalannya pelan-pelan mulai menanjak. Mirip seperti ketika menanjak di Jalan Kaliurang km 5 ke atas. Aku menyebutnya sebagai “tanjakan halus”.

 

Kalau medan jalannya seperti ini terus, kayaknya sih bersepeda ke Cepogo nggak ada tantangannya, gyahahaha. #sombong

 

papan arah hijau dishubkominfo yang miring di wilayah perbatasn klaten dan boyolali

 

Sekitar pukul 9 kurang, kami tiba di Pasar Kembang di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Walau namanya Pasar Kembang, tapi di sini kami nggak melihat satu pun pedagang yang menjual kembang . Oh, semirip-mirip namanya, jangan samakan juga dengan kawasan “hot di selatan Stasiun Tugu Yogyakarta itu.

 

Kami sarapan nasi rames di warung makan di area Pasar Kembang. Kami juga sempat membeli mie goreng dan sejumlah gorengan untuk bekal perjalanan yang masih puanjaaang.

 

Kalau menurut Google Maps sih, jarak dari Yogyakarta ke Pasar Kembang sekitar 30 km. Artinya, kami sudah menempuh setengah perjalanan menuju Cepogo.

 

kisah nenek tua penjual jajanan tradisional di pasar kemalang klaten

 

Pemandangan yang berbeda menyambut kami selepas meninggalkan Pasar Kembang. Kalau tadi di kanan-kiri jalan berpemandangan sawah dan los tembakau, sekarang berpemandangan pepohonan. Mayoritas sih pohon sengon (Albizia chinensis).

 

Bersepeda di bawah rimbunnya pepohonan seperti ini cukup menyenangkan. Matahari yang mulai terik nggak terasa menyengat karena terhalang dedaunan rindang. Ditambah lagi hawanya sejuk.

 

Aaah… amboooiii…

 

pemandangan suasana hutan pohon sengon di kemalang klaten

 

Tapi ya lagi-lagi, perasaan sukacita itu hanya mampir sebentar.

 

Di ruas jalan yang masih menanjak halus ini kami harus berbagi jalan dengan rombongan truk pasir. Tahu sendiri lah gimana bongsornya mereka. Ditambah lagi asap knalpot plus debu-debu yang berterbangan ketika melintas. #weh #polusi

 

Nggak heran, jalur yang kami lalui merupakan ruas jalan utama yang terhubung ke tambang-tambang pasir di sepanjang lereng Merapi. Adapun di pinggir jalan banyak terdapat depo-depo pasir yang buka 24 jam.

 

Aku sempat mencermati tulisan yang terpasang di muka depo-depo pasir. Mereka membeli pasir (istilahnya pasir potong) seharga Rp70.000 per meter kubik dan menjualnya seharga Rp90.000 per meter kubik. Harga itu belum bisa dibilang murah, karena di beberapa titik di persimpangan jalan desa, truk-truk pasir itu ditarik pungutan Rp5.000 setiap kali melintas.

 

depo pasir di sepanjang jalan desa kemalang klaten

 

Oh iya, di tengah jalan ini kami sempat bersua dengan sasono loyo alias pemakaman alias kuburan. Seperti biasa, Mbah Gundul mengajak mampir.

 

Kalau ada Pembaca yang penasaran, yang kami kerjakan di kuburan ya cuma celingak-celinguk nggak jelas sambil motrat-motret ala kadarnya. Soalnya, nggak jarang juga beberapa kuburan ternyata menyimpan “sesuatu” yang menarik pas disambangi.

 

Seenggaknya dengan berkunjung ke kuburan kita jadi ingat dengan yang namanya kematian, yang bisa datang kapan saja pada siapa saja. #ingat.mati

 

pria sedang memotret kuburan di boyolali

 

Mbah, Dirimu Percaya Ibu itu, Aku, Google Maps, atau Tuhan?

Perjalanan bersepeda menuju Cepogo terus berlanjut bersama kepungan truk-truk pasir dan truk tangki air (wilayah di sekitar sini sepertinya kesulitan air bersih). Kalau menurut Google Maps, titik pemberhentian berikutnya adalah Pasar Surowono. Pasar ini berjarak sekitar 8 km dari Pasar Kembang.

 

Kami tiba di Pasar Surowono sekitar pukul 11 kurang. Setelah Pasar Surowono titik pemberhentian berikutnya adalah Pasar Jemowo. Menurut Google Maps sih jaraknya hanya sekitar 3 km. Dekat lah ya....

 

suasana pagi di pasar surowono kemalang klaten

 

Oleh sebab sinar matahari semakin terik dan untuk kembali memastikan arah yang mesti ditempuh, kami pun berteduh sejenak di emperan rumah warga. Nggak disangka ibu pemilik rumah ternyata ada di tempat. Beliau menyapa dan bertanya ke mana arah tujuan kami.

 

Mengetahui kami hendak menuju Pasar Jemowo, ibu pemilik rumah pun menyarankan arah. Akan tetapi, arah yang disarankan beliau berbeda dengan panduan Google Maps. Perdebatan kecil muncul antara aku dan Mbah Gundul. Akhirnya, kami memutuskan mengikuti arah yang disarankankan oleh ibu pemilik rumah.

 

Eeeh jebul ternyata arah yang disarankan ibu pemilik rumah malah membuat kami bingung! Yang ada malah masuk-masuk jalan kampung yang kecil-kecil. Di tengah kondisi ini aku sempat melontarkan pertanyaan ke Mbah Gundul,

 

“Mbah, dirimu percaya ibu itu, aku, Google Maps, atau Tuhan?”

 

“Percaya Google Maps, tapi jangan diimani,” jawab Mbah Gundul kalem.

 

Wew....

 

tanjakan terjal menyeberangi sungai di desa jemowo boyolali

 

Tantangan PEKOK yang pertama hadir di ruas jalan pelosok menuju Pasar Jemowo. Kami disambut oleh jalan menyeberangi lembah sungai kering seperti foto di atas itu.

 

Seperti biasa, setiap jalan yang melintasi sungai pasti diawali dengan turunan dan diakhiri dengan tanjakan. Karena hari ini aku nggak berniat nanjak-nanjak, jadinya Trek-Lala dituntun deh! Untung tanjakannya pendek.

 

Sekitar pukul setengah 12 siang tibalah kami di Pasar Jemowo. Dibandingkan dengan Pasar Kembang dan Pasar Surowono, Pasar Jemowo ini terlihat lebih kecil dan sepi. Eh ternyata, Pasar Jemowo ini sudah berada di Kabupaten Boyolali! Tepatnya di Desa Jemowo di Kecamatan Musuk.

 

pria bersepeda di depan kantor kecamatan jemowo boyolali

 

Dari Pasar Jemowo titik pemberhentian selanjutnya adalah Pasar Drajidan. Menurut Google Maps jaraknya sih hanya sekitar 4 km. Lagi-lagi lumayan dekat lah ya....

 

Tapi sayangnya, jarak 4 km itu hanya sebatas hitung-hitungan di atas peta digital. Pada kenyatannya, ruas jalan sepanjang 4 km itu terasa lumayan berat karena dihuni oleh 3 jembatan melintasi lembah sungai yang tetap... berujung tanjakan! #doh

 

tanjakan irung petruk di desa jemowo boyolali

 

Pukul setengah 1 siang, kami tiba di Pasar Drajidan dan disambut oleh patung sapi perah khas Boyolali. Bukan Boyolali namanya kalau nggak banyak patung sapinya.

 

Titik pemberhentian berikutnya adalah Kantor Kecamatan Musuk yang berjarak sekitar 4,5 km dari Pasar Drajidan. Untunglah jalan menuju Kantor Kecamatan Musuk benar-benar lurus, lempeng, mulus seperti yang ditunjukkan garis biru Google Maps. #senang #bahagia

 

Eh, sebetulnya sih kontur jalannya masih agak nanjak. Tapi, karena sedari tadi aku sudah dihajar bolak-balik sama tanjakan sekaligus berhadapan sama truk pasir, jadi ruas jalan ini nikmat banget buat bersepeda ngebut pakai gir depan paling besar.

 

patung sapi di dekat bundaran pasar drajidan boyolali

 

Pukul 1 siang kami istirahat agak lama di Masjid Raya Al-Furqon di sebelahnya KUA Musuk. Aku menunaikan salat Zuhur sementara Mbah Gundul menunggu sambil menyantap bekal mie goreng serta gorengan yang tadi dibeli di Pasar Kembang.

 

Kalau menurut Google Maps, jarak ke Pasar Cepogo tinggal 6 km lagi! Wah sudah dekat ternyata!

 

Eh, aku menentukan titik di Pasar Cepogo karena waktu itu titik misi utama kami yaitu Candi Sari nggak muncul di Google Maps.

 

masjid al furqon dekat kantor urusan agama musuk boyolali

 

Mas! I Love You!

Sisa jarak menuju Pasar Cepogo tinggal 6 km lagi! Dalam bayanganku, jarak 6 km itu serupa dengan jarak dari rumah menuju Mal Ambarukmo Plaza. Nggak ada setengah jam semestinya sudah sampai.

 

Semestinya lho...

 

SE - MES - TI - NYA ....

 

Kenyataannya #sedih selepas Kantor Kecamatan Musuk kami disambut oleh jalan raya mulus beraspal yang dilengkapi oleh rambu kuning belah ketupat seperti yang nampak pada foto di bawah ini.

 

rambu peringatan jalan tanjakan di dekat kantor kecamatan musuk

 

Ya, inilah 6 km jalan menanjak sampai ke Pasar Cepogo itu.

 

Menurutku sih kemiringan jalan menanjak ini hampir sama dengan kemiringan Jalan Kaliurang. Seenggaknya, tanjakan ke Pasar Cepogo ini masih jauuuh lebih bersahabat dari Tanjakan Cinomati atau Tanjakan Girimulyo.

 

Hanya saja, karena staminaku sudah terkuras, ditambah lagi sengatan matahari siang yang mulai mengganggu, akhirnya Trek-Lala sering aku tuntun deh! Hahaha.  #alasan #lemah

 

jalanan tanjakan di dekat kantor kecamatan musuk boyolali

 

Setelah menempuh 3 kilometer jalan yang menanjak, tibalah kami di lapangan Desa Paras. Desa Paras ini sudah berada di Kecamatan Cepogo.

 

Nggak jauh dari lapangan Desa Paras terdapat gerbang masuk ke Pesanggrahan Pracimoharjo. Pesanggrahan ini merupakan tempat peristirahatan Sultan Pakubuwono dari Kasunanan Surakarta. Sayangnya, sekarang pesanggrahan tersebut sudah rata dengan tanah.

 

Kapan-kapan lagi kalau ke sini lagi aku mau coba mampir ke Pesanggrahan Pracimoharjo ah!

 

gapura hijau pesanggrahan pracimoharjo boyolali

 

Dari Desa Paras, percabangan Jalan Raya Boyolali – Magelang hanya berjarak sekitar 400 meter saja. Tinggal 3 km jarak yang tersisa menuju Pasar Cepogo.

 

Nggak hanya itu, pihak Dishubkominfo juga berbaik hati memberikan informasi sisa jarak tersebut pada rambu lalu lintas di bawah ini. 

 

rambu tanjakan arah ke pasar cepogo di jalan raya boyolali selo

 

Penderitaan ternyata belum berakhir… hiks... hiks... hiks… #sedih

 

Bagiku, kemiringan jalan sepanjang 3 km ini 11-12 dengan kemiringan Jl. Kaliurang di kilometer 20-an. Tanjakannya lumayan curam, tapi masih bisa dilalui dengan bersepeda tanpa nuntun.

 

Tapi ya... aku sendiri sih memilih menuntun Trek-Lala saja, hahaha.

 

Bodo amat walau disemangati sama anak-anak SMP Negeri 1 Cepogo yang baru pulang,

 

“Mas! I Love You!”

 

BEH! I Love You PREEET!

 

Situ cowok ndul!

 

papan arah ke candi sari dan candi lawang di cepogo boyolali

 

Sekitar 100 meter sebelum tikungan ke Pasar Cepogo, di sisi kiri jalan ada percabangan jalan menuju SMP Negeri 2 Cepogo dan juga situs purbakala Candi Sari dan Candi Lawang.

 

Tapi, sampai di sini bukan berarti perjuangan sudah selesai lho! Karena masih ada jarak sekitar 2 km lagi dari cabang jalan ini menuju ke situs Candi Sari. Di ruas jalan sepanjang 2 km itu juga masih dihuni oleh lembah-lembah sungai yang kontur jalannya menanjak! #nasib #dari.tadi.banyak.banget.sungai

 

jalan turunan menuju situs purbakala candi-candi di kecamatan cepogo boyolali

 

Sudah Nggak Penasaran dengan Tanjakan ke Cepogo

Singkat cerita, sekitar pukul 3 sore tibalah kami di Candi Sari!

 

Alhamdulillah! Misi utama PEKOK pada bulan Agustus 2017 ini tertuntaskan!

 

dua orang pria berfoto bersama lingga raksasa di kompleks candi sari boyolali pada zaman dulu Agustus 2017

 

Kalau dihitung-hitung, rute bersepeda kami dari Yogyakarta menuju Cepogo itu adalah sebagai berikut.

 

  • Kota Jogja → Prambanan (batas provinsi): 16 km
  • Prambanan (batas provinsi) → Pertigaan PG Gondang Baru: 9 km
  • Pertigaan PG Gondang Baru → Pasar Kembang: 9 km
  • Pasar Kembang → Pasar Surowono: 8 km
  • Pasar Surowono → Pasar Jemowo: 3,5 km
  • Pasar Jemowo → Pasar Drajidan: 4,5 km
  • Pasar Drajidan → Kantor Kecamatan Musuk: 4,5 km
  • Kantor Kecamatan Musuk → Pesanggrahan Pracimoharjo: 3 km
  • Pesanggrahan Pracimoharjo → Pertigaan ke Candi Sari: 3,1 km
  • Pertigaan ke Candi Sari → Candi Sari: 2,3 km

 

Total Jarak: 62,9 km

Total Waktu Tempuh: 8 jam

 

Karena hanya terpisah jarak sejauh 1,5 km, dari Candi Sari kami mampir menilik Candi Lawang. Aku sendiri sudah pernah menyambangi Candi Lawang tahun 2009 silam. Tapi sayangnya aku sudah lupa sama jalannya, hahaha.

 

Akhirnya berkat bertanya-jawab dengan warga sekitar kami pun sukses menyambangi Candi Lawang. Alhamdulillah Candi Lawang masih terawat. Wujudnya belum berubah seperti pada tahun 2009 saat aku pertama kali ke sana.  

 

dua pria berfoto bersama di tangga pintu masuk candi lawang cepogo boyolali

 

Sedangkan untuk rute pulangnya kami memilih lewat Kecamatan Jatinom, Klaten dengan pertimbangan mencari jalan yang sepi truk-truk pasir.

 

Sekitar pukul 4 sore kami meninggalkan Candi Lawang untuk melintasi jalan menuju Jatinom seperti yang diinformasikan warga. Alhamdulillah, jalan dari Cepogo menuju Jatinom didominasi turunan sehingga menghemat tenaga sekaligus mempercepat waktu tempuh. Dari Jatinom sampai Kota Klaten pun jalannya juga menurun.

 

Kami tiba di Kota Klaten sesaat setelah azan Magrib berkumandang. Dilanjut istirahat sambil makan malam di warung penyetan kaki lima setelah SPBU di Kebonarum. Tiba kembali di Prambanan sesaat setelah azan Isya. Ujung-ujungnya, tiba di rumah tercinta sekitar pukul 8 malam lebih 15 menit.

 

cerita dua orang bloger yang bersepeda jauh bareng dari jogja ke boyolali untuk mengunjungi candi sari dan candi lawang

 

Selesai sudah cerita PEKOK ke Cepogo pada awal bulan Agustus 2017.

 

Sudah nggak penasaran lah aku sama tanjakan ke Cepogo, hehehe.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!