HALAMAN UTAMA

PROFIL

ARSIP ARTIKEL

BUKU TAMU

 

KATEGORI

Candi-Candi Tak Utuh di Trowulan

Jumat, 13 November 2009, 20:40 WIB

Etika Berwisata Peninggalan Bersejarah

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak peninggalan bersejarah! Kalau bisa batasi kontak fisik ke benda tersebut!
  3. Baca informasi sejarahnya. Kalau perlu difoto dan dibaca lagi di rumah.
  4. Patuhi peraturan yang berlaku!
  5. Jaga sikap dan sopan-santun!
  6. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  7. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Candi-candi di Trowulan nggak semuanya berada dalam keadaan utuh. Beberapa di antaranya masih terpendam di dalam tanah. Bukan karena nggak upaya untuk merestorasi. Melainkan karena situs candi tersebut masih dalam tahap penggalian ataupun penelitian. Alhasil, yang tersaji ke hadapan pengunjung adalah kesan dari suatu bangunan kuno nan misterius yang menanti untuk disingkap. Bukti bahwa beratus-ratus tahun, di lokasi seluas hampir 100 km persegi ini pernah berdiri suatu peradaban.

 

Candi Gentong

 

Letak Administratif:
Dusun Muteran, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

 

Candi Gentong terletak berdekatan dengan Candi Brahu. Dari penginapan Maha Vihara Mojopahit dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Ada yang berpendapat bahwa asal-usul penamaan gentong ini berakar dari kata gedong yang berarti bangunan.

 


Candi Gentong yang luas dan tak lagi utuh.

 

Candi Gentong terdiri dari dua bangunan yang kedua-duanya menghadap ke arah barat. Candi ini pertama kali diungkap oleh Verbeek pada tahun 1889. Saat ada proses penggalian di sekitar Candi Gentong, pernah dilaporkan adanya penemuan arca-arca Buddha. Jadi, besar kemungkinan Candi Gentong berlatar belakang agama Buddha.

 


Patok batas area Candi Gentong.

 

Candi Gentong sendiri memiliki struktur bangunan yang unik. Yaitu terdiri dari tiga bangunan bujur sangkar yang memusat. Adapun batu penyusun dari Candi Gentong ini adalah batu bata.

 

Candi Kedaton

 

Letak Administratif:
Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

 

Dari sekian banyak situs yang belum terungkap, Candi Kedaton bisa dibilang unik. Pertama, tepat di muka situs berdiri sebuah bangunan dari batu bata. Kalau diperhatikan bangunan tersebut merupakan struktur dari sebuah pendopo.

 


Pendopo di Situs Candi Kedaton yang struktur bangunannya unik.

 

Hal yang unik adalah konstruksi dari bangunan tersebut, yaitu dibangun dengan meletakkan batu-batu bata secara melingkar menuju pusat. Lebih jelasnya bisa Pembaca lihat di bagan di bawah ini.

 


Penampang samping pendopo (gambar kanan), ada kecenderungan susunan batu bata meninggi secara melandai.
Penampang atas pendopo (gambar kiri), batu-batu bata tersebut disusun melingkar memusat layaknya spiral.

 

Kedua, Situs Candi Kedaton ini mungkin tidak tepat jika disebut candi. Sebab, Situs Candi Kedaton diduga kuat merupakan sisa-sisa pemukiman penduduk pada masa lampau. Menarik kan? Seperti apa sih bentuk pemukiman di zaman dahulu?

 


Pemukiman penduduk di zaman dahulu yang terpendam tanah.

 

Saat memasuki Candi Kedaton, kita serasa dibawa ke suasana pemukiman khas kampung yang seakan terlantar beratus-ratus lamanya. Memang sih, di sini nggak ada sisa-sisa barang rumah-tangga. Tapi, kita masih bisa menyaksikan bahwa dulunya di situ ada rumah, di sana ada pintu, di sebelah situ ada jalan setapak, di sananya ada tangga, dan lain sebagainya.

 


Dinding rumah terbuat dari batu bata. Jelas, rumah-rumahnya lebih kokoh.

 


Jalan setapak yang diperkokoh dengan batu kali. Persis seperti yang ada di masa kini.

 


Batu bata berbentuk unik. Entah digunakan untuk apa. Apa lantai ya?

 


Semacam penampakan relief. Tapi, kok ada relief di pemukiman penduduk ya?

 

Hal unik lainnya di Situs Candi Kedaton adalah adanya suatu sumur yang dikeramatkan oleh warga setempat. Namanya Sumur Upas. Warga meyakini bahwa di dalam Sumur Upas terdapat gas belerang yang beracun. Alhasil, Sumur Upas kini ditutup dengan batu agar yang "berada" di dalamnya tidak bisa keluar. Selain itu, diletakkan pula sejumlah sesaji. #mistis

 


Sumur Upas yang dikeramatkan. Berminat semadi di sini? #senyum.lebar

 

Bicara tentang sumur, di dekat dengan kantor juru pelihara Situs Candi Kedaton juga terdapat suatu sumur tua. Berbeda dengan Sumur Upas, hingga saat ini sumur tua ini masih berfungsi dengan baik alias masih mengeluarkan air yang jernih. Di musim kemarau pun air dari sumur tua ini nggak pernah surut.

 


Salah satu sumur tua yang masih berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Keberadaan sumur-sumur tua di Situs Candi Kedaton ini makin menguatkan dugaan bahwa dahulu kala lokaasi ini adalah pemukiman penduduk. Namun, jika menilik Sumur Upas yang konon kabarnya beracun itu, kok malah jadi berkebalikan ya?

 

Situs Umpak dan Lantai Sentonorejo

 

Letak Administratif:
Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

 

Candi Kedaton rupanya juga dikelilingi oleh beberapa situs purbakala lain. Yang pertama adalah sisa-sisa umpak batu. Umpak-umpak tersebut terbuat dari batu andesit dan memiliki lubang kotak di tengahnya.

 


Umpak batu ini diduga dahulunya adalah pondasi tiang suatu pendopo.

 

Para peneliti meyakini bahwa umpak-umpak tersebut merupakan pondasi dari sebuah balai yang berpenyangga tiang kayu dan beratapkan genting. Sepintas mirip dengan Dharmasala yang pernah kujumpai di Dataran Tinggi Dieng.

 


Sumur tua yang ada di dekat Situs Sentonorejo. Banyak sumur artinya dekat dengan pemukiman.

 

Nggak jauh dari umpak-umpak batu tersebut, jarak sekitar 50 meter, terdapat situs purbakala lain yang cukup membuat tanda tanya di kepala. Situs tersebut cukup luas dan dilindungi dengan atap. Sepintas, tampak seperti bekas penggalian yang menampilkan sisa-sisa bangunan masa lampau.

 


Sepintas sih nggak begitu menarik. Tapi....

 

Aku hampir saja tidak tertarik kalau saja Andreas tidak nyeletuk,

“Wis, ternyata bangunan orang zaman dulu, lantainya pakai konblok juga ya?”

 

Memang apa yang bisa disaksikan di Situs Lantai Segi Enam Sentonorejo ini adalah susunan rapi konblok berbentuk segi enam seperti yang biasa dipergunakan pada masa kini. Panjang tiap sisi segi enamnya sekitar 6 cm dengan ketebalan 4 cm. Konblok atau ubin segi enam ini terbuat dari tanah liat yang dibakar (gerabah). Saat ini, konblok yang tersisa adalah sejumlah 104 buah.

 


Apa konblok segi enam yang ada di zaman sekarang ini meniru dari zaman dulu ya?

 

Hmmm, kalau di zaman dulu sudah ada konblok, apa mungkin pada zaman dahulu orang juga punya handphone ya? #hehehe #ngawur

 

Candi Minak Jinggo

 

Letak Administratif:
Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

 

Candi Minak Jinggo ini tergolong unik. Menurut pak juru pelihara yang bernama Pak Jujur, struktur Candi Minak Jinggo ini menggunakan batu andesit dan batu bata merah. Uniknya lagi, batu bata merah dipergunakan sebagai pondasi bagian kaki candi. Sementara bagian atas (badan dan atap) candi menggunakan batu andesit.

 

Aku sendiri juga bingung, kenapa pola susunannya seperti itu? Kenapa batu andesit yang lebih berat dari batu bata justru disusun di atas batu yang ringan? Ah ya, kita serahkan saja misteri ini kepada para arkeolog yang tengah meneliti Candi Minak Jinggo ini. #hehehe

 


Candi Minak Jinggo yang masih dalam tahap penggalian.

 

Candi ini dinamai Minak Jinggo sebab terdapat arca raksasa bersayap yang diyakini masyarakat sebagai arca Minak Jinggo. Padahal sebetulnya arca tersebut adalah arca Garuda yang paruhnya patah. Saat ini arca tersebut disimpan di Pusat Informasi Majapahit.

 


Relief-relief yang menggambarkan kehidupan di masa lampau.

 

Eh iya, siapa sih sebetulnya siapa sih Minak Jinggo itu? Tokoh Minak Jinggo diyakini sebagai personifikasi dari Bhre Wirabumi yang berniat menguasai Majapahit pada masa kepemimpinan Ratu Ayu Kencana Wungu.

 

Ratu Ayu Kencana Wungu pun kemudian membuat sayembara untuk menumpas Minak Jinggo. Sayembara itu diikuti oleh seorang ksatria sakti bernama Damarwulan yang pada akhirnya sukses membunuh Minak Jinggo dengan perantara kedua selir Minak Jinggo. Lantas kepala Minak Jinggo dipenggal dan dikuburkan di candi ini.

 

Pembaca percaya? Ah, namanya juga cerita. #senyum.lebar

 


 

Jadi demikianlah kiranya, beberapa peninggalan purbakala di Trowulan yang tersisa namun tak lagi berwujud utuh. Semoga di masa datang, kita dan generasi penerus kita masih dapat menyaksikan serta mempelajari banyak hal dari peninggalan-peninggalan purbakala ini.

 

Eh, siapa tahu, masih ada bangunan serupa lain di Trowulan yang menanti untuk disingkap. #senyum.lebar

 

Pembaca tertarik ke Trowulan? #senyum.lebar

NIMBRUNG DI SINI