Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Selasa, 28 Mei 2013, 07:29 WIB

Sebagai seorang muslim yang tumbuh besar di lingkungan muslim, otomatis aku nggak tahu-menahu tentang ritual ibadah agama-agama lain. Yang aku tahu, ya di kalender ada hari bertanggal merah dan itu jadi hari libur nasional. Sesederhana itu.

 

Selebihnya? Mbuh!

 

Jikalau aku bertanya, “Pantaskah kita tahu ritual ibadah agama lain?”, mungkin sebagian besar dari kita akan menyatakan “tidak!”. Bahkan mungkin, bakal ada yang menyeret-nyeretnya ke wilayah “tindakan berdosa”.

 

Jujur, buatku yang seperti itu bikin penasaran. Sewaktu kecil aku kerap bertanya-tanya, Paskah itu seperti apa? Waisak itu milik Hindu atau Buddha? Kenapa saat Nyepi di Bali jadi seperti tidak ada orang?

 

Rasa penasaran ini semata-mata bukan karena tertarik berpindah keimanan lho ya! Sebagai seorang warga negara yang hidup di negara yang masyarakatnya beraneka-ragam, menurutku sepatutnya kita mengetahui tentang ritual ibadah agama lain.

 

Tidak perlu tahu secara detil. Paling tidak, kita tahu latar belakang ibadah mereka dan apa saja yang mereka perbuat pada saat itu. Sehingga (ini nih yang paling penting), kita sebagai pemeluk agama lain tahu harus bersikap seperti apa tatkala mereka tengah menjalankan ibadahnya.

 

Toleransi Umat Beragama di Indonesia
Saat singgah di Gereja Hati Kudus Yesus, Ganjuran, Bantul, DI Yogyakarta aku menyempatkan diri untuk duduk di salah satu bangku panjang kapel. Aku mencoba merasakan suasana saat umat Katolik memanjatkan doa di sana.

 

Ini yang aku maksudkan dengan toleransi antar umat beragama. Sebuah kesadaran diri, bagaimana sebaiknya kita bersikap menghormati orang lain yang berbeda dengan kita.

 

Menurutku, sifat seperti ini masih langka di masyarakat kita. Masyarakat kita kurang bisa menghargai perbedaan. Mungkin, perbedaan baru akan dihargai mahal jika dikenai peraturan yang mengikat. Yakni, jika kamu melanggar maka kamu diberi sanksi (berat). Seperti itu.

 

Tapi sebetulnya, dari sekian banyak adegan mblusuk-mblusuk yang mengantarkanku untuk menyaksikan ritual ibadah agama lain, sebenarnya mereka hanya butuh satu hal.

 

KETENANGAN

 

 

Kegiatan berzikir di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran
Ketenangan bisa juga bukan suasana hening, melainkan rasa tenang menjalankan ibadah tanpa ada gangguan dari luar.

 

Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi. Seandainya saja kita semua paham bahwa setiap dari kita yang beribadah, apa pun agamanya, membutuhkan ketenangan... ah, pastilah prosesi Waisak di Candi Borobudur yang kisruh itu tak kan pernah terjadi.

 

Hayo! Pembaca pas ada pemeluk agama lain beribadah melakukan apa? Diam di rumah atau...


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • ALFATHETA
    avatar komentator ke-0
    ALFATHETA #Selasa, 27 Sep 2016, 15:10 WIB
    Ketenangan dalam ibadah masih dasar untuk dijalani oleh antar kaum beragama,... namun ketenangan dalam melakukan aktivitas keseharian adalah yang paling penting. Ibarat ilmu yang dipraktikkan.
    Semua butuh ketenangan. :)
  • SRI WAHYUNI
    avatar komentator ke-1
    SRI WAHYUNI #Selasa, 27 Sep 2016, 15:00 WIB
    Sebagian masyarakat kita masih belum mengerti arti dari menghargai perbedaan, padahal tujuan beragama kan etika sesama makluk hidup, terutama sesama manusia,...
    Semoga ke depannya antar umat beragama saling menyayangi lagi.
    Aamiin. Semoga kehidupan umat beragama di Indonesia senantiasa harmonis. :)
  • DESI
    avatar komentator ke-2
    DESI #Selasa, 27 Sep 2016, 14:56 WIB
    Ketenangan adalah modal untuk beribadah agar lebih khusu. Ketenangan untuk menghadapi kehidupan yang tidak pasti...
    Apapun yang dijalani dengan tenang hasilnya akan lebih baik. :)
  • CHANDRA IMAN
    avatar komentator ke-3
    CHANDRA IMAN #Senin, 27 Jan 2014, 16:27 WIB
    hidup damai pasti indah :)
    kita sebagai umat beragama harus menghargai umat beragama lain yang berbeda keyakinan dengan kita :)
  • AMI
    avatar komentator ke-4
    AMI #Jumat, 31 Mei 2013, 09:37 WIB
    ketenangan tidak hanya saat ibadah, tapi juga menjalani hidup sehari-hari. Semakin besar
    kekuatan iman, semakin besar ujiannya... jadi itulah yang disebut kesabaran tanpa batas
    Iya mbak Ami, katanya ujian terbesar dalam hidup itu ya mengalahkan ego sendiri.
  • MAX MANROE
    avatar komentator ke-5
    MAX MANROE #Kamis, 30 Mei 2013, 18:52 WIB
    Hati dan pikiran yang tenang akan membangun pribadi yang lebih dewasa dan perduli
    pada lingkungannya. Sekarang ini banyak yang tidak mendapatkan ketenangan dalam
    beribadah, jangankan ketenangan... mau beribadah aja udah ga bisa krn tempat
    ibadahnya dibakar atau disegel oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.
    Hmmm, mungkin karena tidak semua dari kita mampu menerima perbedaan ya?
  • RISWAN DOANK
    avatar komentator ke-6
    RISWAN DOANK #Kamis, 30 Mei 2013, 17:09 WIB
    Masih keinget dengan kejadian prosesi Waisak di Borobudur kmrn, ada berita yang nyebutkan bahwa perayaan kmrn dijadikan ajang wisata waisak. Lha kalo udh wisata gimana nanti yang mau beribadah toh? Rasanya kalo begitu udh gak ada lagi tenggang rasa antar umat beragama.
    Kalau ibadah sudah dicampur-adukkan dengan wisata, sepertinya bakal hilang kesakralannya...
  • ANDIKA HERMAWAN
    avatar komentator ke-7
    ANDIKA HERMAWAN #Kamis, 30 Mei 2013, 10:17 WIB
    setuju mas bro, dalam menjalankan ibadah kita memang butuh ketenangan

    gereja Ganjuran, lama ga pernah menyambanginya :)
    Itu foto gereja ganjuran tahun 2011 padahal, hihihi.
  • CAHYO
    avatar komentator ke-8
    CAHYO #Rabu, 29 Mei 2013, 15:05 WIB
    Very inspiring thoughts, ujutes ilakes mas... SALAM SATU JIWA
    salam juga buat mas Cahyo!