Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Rabu, 3 Maret 2010, 23:46 WIB

Jogja, kota gudeg ini terasa panas sekali. Sampai malam pun masih terasa gerah. Padahal minggu sebelumnya, hujan turun hampir tiap hari. Benar-benar anomali cuaca yang aneh.

 

Malam itu aku keluar rumah. Sekadar cari angin dan inspirasi. Jalan kaki saja.

 

Aku jalan kaki sampai Kampung Ketandan. Kebetulan, di sana sedang digelar acara Pekan Budaya Tionghoa. di sanalah aku berbaur dengan keramaian.

 

Di masaku kecil, nggak ada acara seperti ini. Ini semua buah dari diterbitkannya Instruksi Presiden No. 6/2000 oleh Presiden Gus Dur. Toleransi yang baru saja lahir.

 

Pemandangan baru. Aku melihat banyak warga Tionghoa bersuka-cita. Di beberapa tempat, aku mendapati beberapa keluarga tengah bercakap di tengah jalan. Ajang silaturahmi juga sepertinya.

 

Ada juga warga non-Tionghoa. Mereka juga menikmati sajian budaya itu. Ada yang lagi memilih-milih baju Tionghoa. Yang paling kelihatan sih, berkumpul di depan panggung utama.

 

Anak-anak di depan panggung utama Pekan Budaya Tionghoa 2010 di Ketandan
Anak-anak pun tak ketinggalan menyaksikan tontonan rakyat ini.

 

Acaranya pagelaran seni paduan budaya Tionghoa dan nusantara. Buatku menarik. Adanya paduan budaya berarti ada keintiman antara dua budaya yang berbeda. Yang mampu menarik perhatian masyarakat, menjadi sebuah tontonan rakyat.

 

Tontonan rakyat itu apa sih? Yang jelas hiburan yang menjangkau semua lapisan masyarakat. Lintas suku, agama, ras, usia, dan kelas ekonomi. Inilah ruang sosial yang sesungguhnya. Mampu menumbuhkan sikap toleransi, menggerakkan ekonomi, dan (semestinya) menyampaikan pesan edukatif.

 

Jujur, aku rindu yang seperti ini. Tatkala rakyat tak lekat dengan media televisi. Tatkala tontonan budaya menjadi satu-satunya hiburan. Tatkala semua berbaur jadi satu. Jadi satu...

 

 

Aku tak lama di sana. Bukan karena tak menikmati. Makin malam, makin banyak pengunjung, makin panas. Tujuanku kan menghindari panas.

 

Pembaca senang tontonan rakyat?

 

Catatan:
Tahun ini aku nggak motret kirab budaya Tionghoa, karena tahun lalu pernah aku liput itu di sini.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • MAS STEIN
    avatar komentator ke-0
    MAS STEIN #Kamis, 11 Mar 2010, 15:31 WIB
    dan malem yang panas waktu ada pawai barongsai di malioboro saya lagi kejebak macet di mangkubumi, dengan bonus pelek mobil pinjeman nabrak trotoar sampe tutupnya pecah. jiyan!
    Emang macet bener Kang malam hari itu, untung saya ndak keluar rumah :D
    Mending parkir mobil dan nonton Barongsainya aja lah ya...
  • TRAVELINOUS
    avatar komentator ke-1
    TRAVELINOUS #Rabu, 10 Mar 2010, 06:52 WIB
    kok fotonya cuma satu (DOH)
    lagi males motret pas itu :p
  • SASH
    avatar komentator ke-2
    SASH #Senin, 8 Mar 2010, 15:09 WIB
    Cuma mau nambahi, bisa jadi ibu-ibu berjilbab yang dimaksud itu panitia,,, soalnya emang ketua panitianya cewek dan berjilbab, namanya ibu Tri Kirana Muslidatun :D
    hohoho, terima kasih buat infonya.
  • VIZON
    avatar komentator ke-3
    VIZON #Sabtu, 6 Mar 2010, 07:20 WIB
    Aku ke sana pas malam terakhir Wij... Benar-benar menarik memang. Ada satu hal yang menarik perhatianku ketika itu, yakni ada beberapa ibu-ibu yang mengenakan seragam (sepertinya seragam panitia) bercorakan khas Tionghoa. Salah satu di antara mereka ada yang berjilbab, dan ia sangat kuyakini juga berdarah Tionghoa, secara parasnya mirip-mirip dengan ibu-ibu yang lain.

    Sungguh... itu pemandangan yang luarbiasa menurutku. Betapa sekat-sekat sosial dan agama tak jadi soal dalam kegiatan ini...
    Saya juga lihat ibu-ibu berjilbab disana, tapi kayaknya bukan jadi panitia. Melihat keakraban di pecinan ini, saya jadi teringat suasana penuh toleransi di Kepulauan Bangka Belitung yang pernah diwartakan harian Kompas. Semoga kerukunan itu tetap terjaga dan bersahaja selalu :)
  • ZEE
    avatar komentator ke-4
    ZEE #Sabtu, 6 Mar 2010, 07:04 WIB
    Saya suka juga tontonan rakyat. Tapi memang gak suka jg klo terlalu ramai.... hehehhee....
    bersyukur juga sih, jadi ramai karena antusiasme masyarakat teramat besar :)
  • SASH
    avatar komentator ke-5
    SASH #Jumat, 5 Mar 2010, 11:25 WIB
    Kemarin ndak sempat ke Ketandan, padahal pengen liat wayang Potehi,,, untungnya pas Penutupan Pekan Budaya-nya bisa datang. Kalo saya sih lebih suka lita tontonan rakyat yang model-model kaya begini,,, saat semua masyarakat membaur menjadi satu tanpa peduli perbedaan golongan. Ndak Bupati, ndak Gubernur, ndak mahasiswa, ndak tukang becak, semua riuh, tumplek blek menjadi satu...
    menurut saya, inilah tontonan rakyat yang sesungguhnya. Meniadakan sekat-sekat sosial. Serta sarat unsur kearifan budaya.
  • ALRIS
    avatar komentator ke-6
    ALRIS #Jumat, 5 Mar 2010, 10:18 WIB
    Kita makin kaya dengan berbagai budaya negeri ini. Kearifan Gus Dur telah menciptakan kesejukan baru. Salam
    Salam juga, semoga ke depannya Indonesia akan makin sejuk. :)
  • YACOB.IVAN
    avatar komentator ke-7
    YACOB.IVAN #Kamis, 4 Mar 2010, 20:59 WIB
    Wow, festival orang-orang senasib. Sayang gak bisa dateng, ada kesibukan kuliah dan perencanaan TA.
    Nasibmu kini lebih mujur nak :)
  • JEJAK ANNAS
    avatar komentator ke-8
    JEJAK ANNAS #Kamis, 4 Mar 2010, 12:36 WIB
    menikmati kearifan budaya jauh lebih nikmat dari menyaksika pertunjukan di senayan yang saya kira sudah tak lagi berbudaya
    Senayan itu panggung politik penuh skenario yang melupakan budaya :(
  • NUR
    avatar komentator ke-9
    NUR #Kamis, 4 Mar 2010, 07:56 WIB
    Terakhir pas kuliah, ke pasar malam

    Tapi cepat2 kabur gara2 di depan panggung dangdut penontonnya mulai nggak genah :P
    Nontonnya dangdut sih, coba wayang :D
  • PEIN
    avatar komentator ke-10
    PEIN #Kamis, 4 Mar 2010, 07:33 WIB
    Hm,
    Panas...........
    [Ga nyambung ya ? :P ]
    panas!