Di negeri ini, ada suatu tempat yang aku sebut sebagai surganya air terjun. Dalam pengertian, di tempat tersebut terhimpun sejumlah air terjun yang yang jaraknya cukup berdekatan. Di Yogyakarta, contoh mudahnya adalah Perbukitan Menoreh yang membentang hingga ke wilayah Jawa Tengah. Curug Samigaluh, Grojogan Watu Jonggol, dan Curug Siklothok adalah contoh sekelumit air terjun yang ada di Perbukitan Menoreh.
Akan tetapi, mengingat wilayah Indonesia ini sangat luas, tidak menutup kemungkinan bilamana ada surga air terjun lain yang lokasinya ada di luar Jawa. Di Provinsi Sulawesi Selatan, Desa Malino adalah salah satunya.
Malino merupakan nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sesuai nama kecamatannya, Tinggimoncong (tinggi tambah moncong), Malino berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut di lereng Gunung Bawakaraeng.
Boleh jadi banyak Pembaca sekalian belum terlalu kenal dengan Desa Malino. Tapi, bagi Pembaca yang gemar menyimak berita politik, mungkin Pembaca ingat dengan Deklarasi Malino. Itu lho, deklarasi yang dibuat sebagai pengakhir konflik pertikaian di Poso. Nah, deklarasi tersebut dicanangkan di Desa Malino ini.
Seperti yang di atas sudah aku singgung, Malino tidak hanya identik Deklarasi Malino saja, melainkan juga sebagai surganya air terjun. Di Desa Malino, kita bisa menemukan sejumlah air terjun yang cukup terkenal, semisal Air Terjun Ketemu Jodoh, Air Terjun Biroro, dan yang aku kunjungi yaitu Air Terjun Takapala.
Jarak Air Terjun Takapala dari Kota Makassar adalah sekitar 70 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 2 jam perjalanan. Di hari Selasa (25/10/2011), kami bersekempatan mengunjungi Air Terjun Malino dengan mobil sewaan.
Rute menuju Air Terjun Takapala dari Kota Makassar mudah untuk diingat, yaitu dengan melalui Jl. Poros Malino. Sedangkan, medan jalannya relatif. Maksudku, relatif itu tergantung kendaraan Pembaca berada di sisi jalan yang sebelah mana. Sebab, pada waktu itu ruas Jl. Poros Malino sedang diperbaiki dan hanya menyisakan satu lajur yang halus mulus seperti foto di bawah ini. #hehehe
Yah, seumpama Pembaca jengkel karena kebagian jatah jalan rusak, tatap saja hamparan air Waduk Bili-Bili yang menghiasi pemandangan di sepanjang jalan. Itupun kalau airnya sedang tidak keruh lho, hehehe. #hehehe
Setibanya di Desa Malino bersiaplah untuk bingung! Sebab, petunjuk arah menuju Air Terjun Takapala hampir tidak ada. Sekalinya ada, sangat susah untuk diamati karena ukuran hurufnya terlampau imut, hehehe. #hehehe
Tapi jangan khawatir! Warga Malino jelas mengerti dengan pasti di mana Air Terjun Takapala ini berada. Sebab, Air Terjun Takapala termasuk objek wisata tersohor di Desa Malino yang banyak dikunjungi oleh kaum muda. #senyum.lebar
Memasuki kawasan Air Terjun Takapala, pengunjung akan ditarik tarif retribusi sebesar Rp2.000 per orang. Dari gerbang masuk menuju lokasi parkir kendaraan, bersiap-siaplah untuk tegang. Sebab, lebar jalannya sempit, masih jalan tanah, dan bersebelahan dengan jurang.
Hadeh...
Air Terjun Takapala sendiri tergolong air terjun yang ramah. Jarak Air Terjun Takapala dari lokasi parkir kendaraan hanya sekitar beberapa ratus meter dan tanpa perlu masuk-masuk ke dalam hutan. #senyum.lebar
Di kawasan ini banyak terdapat warung, bilik istirahat, mushalla, dan juga kamar mandi #senyum.lebar. Sepertinya, kawasan ini memang menggiurkan sebagai objek wisata. Ketika kami datang, ada beberapa muda-mudi yang tengah berwisata, sepertinya sedang dalam kegiatan outbond.
Hmmm, semoga kelak entah kapan aku bisa berkunjung lagi ke Desa Malino dan menyambangi air terjun yang lain. Sepertinya menyenangkan #senyum.lebar.
boleh tidak dijelaskan cara rinci menuju desa bonto tene dengan menggunankan angkutan ?
mohon infonya :)
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya :D
keren amat... :)
Malino...? hmm.. kapan ya bisa ke sana..? hehe
pengen kesana pas musim panas tahun depan dhe...
mantebbb...
Whooooooaaaaaaaaa mupeng
Ada yg berani terjun dari atas?