Masih sekitar 8 jam lagi sebelum kepulangan kami dari Kota Medan. Waktu menunjukkan pukul 12 siang lewat sedikit pada hari Sabtu (27/9/2014) yang agak mendung. Berhubung kami sudah check-out dari penginapan, maka dari itu waktu yang tersisa ini kami habiskan saja dengan keliling Medan. Siapa tahu jadi kenal akrab, hehehe.
Dilihat dari sejarahnya, eksistensi Medan nggak lepas dari peran Kesultanan Deli. Iya betul, Medan ini pusat kesultanan. Aku juga nggak nyangka sih. Pikirku Medan itu dari dulu kotanya orang Batak, hehehe.
Kesultanan Deli mencapai puncak kejayaan pada awal abad ke-18 pas pemerintahan Sultan Ma’moen Al-Rasyid yaitu Sultan Deli ke-9. Pada waktu itu, Kesultanan Deli menjalin kerja sama erat dengan pihak Belanda di sektor perkebunan tembakau. Hasil dari kerja sama tersebut dimanfaatkan Sultan untuk mendirikan bangunan-bangunan seperti Istana Maimoon dan Masjid Raya Al-Mahsun.
Istana Maimoon
Berjarak sekitar 3 km di selatan Stasiun Medan, Istana Maimoon menjadi tujuan city tour pertama kami. Dari Stasiun Medan kami naik betor (becak motor) menuju Istana Maimoon. Tarifnya cukup Rp15.000 dengan waktu tempuh yang lumayan cepat karena si abang betor banyak menerobos jalan searah. Untung nggak dilihat polisi, hehehe.
Istana Maimoon adalah kediaman sekaligus "kantor" Sultan Deli. Ya, seperti istana negara gitu lah. Istana Maimoon dibangun pada tahun 1888. Berhubung Kesultanan Deli sudah non-aktif, Istana Maimoon sekarang beralih fungsi jadi objek wisata deh.
Istana Maimoon boleh dikunjungi setiap harinya dari mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Khusus di hari Jum’at, istana ini tutup beberapa jam setelah Salat Jum’at.
Tiket masuk Istana Maimoon lumayan murah, hanya Rp5.000 per orang. Nggak heran istana ini dipadati banyak pengunjung, mulai dari pelancong Malaysia hingga siswa-siswi sekolah.
Di dalam Istana Maimoon dipajang benda-benda inventaris Kesultanan Deli. Umumnya sih peninggalan Sultan Deli ke-9. Sayangnya, penempatannya kurang rapi dan masih banyak benda-benda yang "tidak berkepentingan" nyempil di sana-sini.
Menurutku, Istana Maimoon ini ibarat bangunan kosong yang disulap jadi tempat mendulang uang. Biaya perawatan bangunan bersejarah seperti ini pasti besar. Kalau hanya mengandalkan kucuran dana APBD mungkin ya nggak cukup. Lagipula, Istana Maimoon ini ibarat sumber kehidupan bagi sekitar 400 keluarga keturunan Sultan yang kini bermukim di belakang istana.
Aku sih berharap, pihak yayasan dan pemerintah sekiranya bisa berembuk untuk mewujudkan menajemen pengelolaan Istana Maimoon yang lebih baik lagi. Aku rela kok bayar mahal buat masuk tempat bersejarah seperti ini. Asalkan ya timbal-baliknya sesuai. Pelajaran sejarah Istana Maimoon ini kan nggak tercantum di buku-buku teks sekolah.
Setuju nggak Pembaca?
Saran dariku sih supaya pihak yayasan menata lagi koleksi-koleksi yang dipajang. Benda-benda yang "tidak berkepentingan" bisa disimpan di tempat lain. Lalu tiap koleksi dilengkapi informasi yang lebih detil.
Pas masuk ke Istana Maimoon itu terus terang aku bingung. Mau ke mana dulu ya? Nyari informasi sejarah Istana Maimoon ini di mana ya? Mungkin pihak yayasan bisa merancang jalur untuk pengunjung. Jadi, pengunjung diarahkan untuk singgah di ruangan demi ruangan dan di tiap ruangan tersebut ada koleksi atau informasi yang bisa dipelajari.
Masjid Raya Al-Mahsun
Sekitar pukul satu siang kami pun meninggalkan Istana Maimoon. Berhubung sudah tiba waktu salat Zuhur, kami memutuskan untuk menunaikan salat di masjid kesultanan yaitu Masjid Raya Al-Mahsun.
Masjid Raya Al-Mahsun letaknya sekitar 200 meter di selatan Istana Maimoon. Dari Istana Maimoon pun sudah kelihatan. Jadi ya ke sananya jalan kaki saja toh?
Masjid Raya Al-Mahsun mulai dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Kalau Pembaca perhatikan, arsitektur bangunan masjid ini adalah perpaduan seni arsitektur dari Melayu Eropa, Timur Tengah, dan China. Bangunan Masjid Raya Al-Mahsun hingga saat ini masih sama seperti saat pertama kali didirikan.
Masjid Raya Al-Mahsun menyatu dengan kompleks pemakaman. Yang dimakamkan di sini ini keluarga dari Kesultanan Deli. Kawasan pemakaman ini letaknya ada di sisi selatan masjid dan lumayan sepi dari aktivitas jamaah. Beberapa bocah yang aku jumpai ngakunya sering bermain di sini sepulang sekolah.
Main kok di kuburan ya?
Seperti halnya masjid besar di kota-kota lain, pengemis pun juga ada di sekitar kawasan masjid. Hanya saja, jumlahnya sedikit dan terkonsentrasi di sekitar gerbang masuk. Mungkin karena gerbang masuk dijaga ketat oleh petugas keamanan.
“Sini Bang, sepatunya disemir sambil nunggu Abang sholat. Bayarnya seikhlas Abang saja.”
Namanya Ilham. Siswa SMP yang sehari-hari menjajakan jasa menyemirkan sepatu para jamaah pria.
Dari awal masuk kawasan masjid, keberadaan Ilham dan kawan-kawan penyemir sepatu ini sudah menarik perhatianku. Melihat usaha anak-anak ini mencari tambahan pendapatan untuk membantu orang tua mereka mengingatkanku agar selalu bersyukur. Semoga kelak kalian semua menjadi orang sukses ya! Aamiin.
Inilah dua peninggalan Kesultanan Deli yang masih bisa disaksikan hingga detik ini Pembaca. Kalau pas Pembaca singgah di kota Medan sempatkan berkunjung ke sini ya!
NIMBRUNG DI SINI
Arsitektur istana dn masjidnya apik tmenan.
keren tempatnya ... karena kerja bukan wisata jadi ga bisa kesana ...
untungnya masih sempet melipir ke rumah Tjong A Fie ... meskipun tiket masuknya
lumayan mahal tapi okelah dengan koleksi museum dan service guide disana
dinas pariwisata berniat untuk menanganinya lebih baik Mas. Sayang banget lho, soalnya
inventarisnya masih bagus dan bangunannya punya daya tarik tersendiri.
smg dinas terkait di medan ada yg baca blog mu ini ya...:D
kesitu