HALAMAN UTAMA

PROFIL

ARSIP ARTIKEL

BUKU TAMU

 

KATEGORI

Opini Nikon #6: Si Kental Manis Nikon D500

Minggu, 17 Januari 2016, 20:34 WIB

Setelah lebih dari 6 tahun semenjak dirilisnya DSLR Nikon D300S, akhirnya... di ajang CES 2016 di Las Vegas, Nikon “menyerah” dengan merilis DSLR Nikon D500 yang diposisikan sebagai DSLR seri DX profesional.

 

Woooohooo!!! #senyum.lebar

 

 

Aku, sebagai pengguna DSLR Nikon garis lembek tentunya nggak sabar mau berkomentar perihal D500 yang kemunculannya sudah dinanti-nanti ini. #senyum.lebar

 

DSLR Profesional yang Lama Dinanti-nanti

Bayangkan! Sejak D300S dirilis bulan Juli 2009 silam, Nikon SAMA SEKALI TIDAK memperbarui lini DSLR seri DX profesional mereka.

 

Kalau diingat-ingat.

 

Di lini DX amatir, ada D3300 yang dirilis Januari 2014.

Di lini DX menengah, ada D5500 yang dirilis Januari 2015.

Di lini DX semi-profesional, ada D7200 yang Maret Januari 2015.

 

Lha ini kok di lini DX kelas profesional malah belum ada perkembangan? Beh!

 

Sistem DX Ibarat Anak Tiri

Para pengguna Nikon pun semakin curiga dengan manuver Nikon 2-3 tahun terakhir ini. Nikon sepertinya “menganak-tirikan” DSLR seri DX dan malah fokus mengembangkan DSLR seri FX. Ini bisa kita cermati dari dirilisnya DSLR seri FX semacam D600, D610, D700, D750, D800, dan D810.

 

Bahkan muncul anggapan kalau Nikon itu ingin menggiring pengguna seri DX profesional ke seri FX. Beh!

 

Pikirmu membangun sistem DX itu murah po!? Kasihan pengguna DX yang sudah punya banyak koleksi lensa DX dan juga pernak-pernik pendukungnya. #sedih

 

Ya, tapi akhirnya pengguna DX bisa bernapas lega dengan dirilisnya D500 ini. #senyum.lebar

 

Bukan karena D500 menjadi produk DSLR yang menggiurkan lho! Melainkan karena dengan dirilisnya DSLR seri DX profesional ini artinya adalah,

 

Nikon masih memikirkan kelangsungan hidup pengguna DX di masa yang akan datang

 

Gampangnya gini. Kalau ada DSLR kelas profesional, biasanya fitur-fitur produk-produk DSLR kelas di bawahnya (amatir, menengah, dan semi-profesional) bakal mengacu ke fitur DSLR kelas profesional tersebut. Istilah londo-nya, stripped off version gitu lah.

 

Fitur-Fitur Profesional di D500

Eh, tapi jujur lho ya! Buatku sendiri fitur-fitur di D500 nggak ada yang menarik. Serius! Ini aku bukan mau menjelek-jelekkan Nikon lho ya. Tapi buatku memang, fitur-fitur di D500 itu nggak ada yang menarik!

 

Yang ada di pikiranku bukan, “WOW! KEREN BANGET!”

melainkan “Oh, fitur ini memang sudah sepantasnya ada di DSLR profesional”.

 

Sudah. Gitu saja. Datar sedatar Jl. Raya Yogyakarta – Solo (eh, padahal ya ada tanjakannya juga sih, sedikit tapi #hehehe).

 

Kalau Pembaca ingin tahu fitur-fitur apa saja yang ada di DSLR profesional Nikon D500 ini, silakan tonton video berikut.

 

 

Kalau malas nonton, ya lihat sinopsis foto-foto di bawah ini saja, hahaha. #senyum.lebar

 

Powerful 153-Point AF, 99 Cross Sensors

 

 

Aku nggak merasa fitur ini keren, mungkin karena aku sehari-hari nggak berkutat dengan fitur ini. Ya begini deh. Jumlah titik AF (Auto Focus) yang buanyaak banget itu kan untuk mempermudah motret objek yang bergerak cepat.

 

Lha aku, kan motretnya air terjun? Seumur-umur, air terjun nggak pernah ya pindah posisi. Jadi, buatku sebenarnya 1 titik AF saja sih sudah cukup. #senyum.lebar

 

Up to 10 FPS Continuous Shooting

 

 

Lagi-lagi, aku bukan tukang potret yang memakai DSLR seperti senapan mesin. Selain karena takut shutter unit jadi cepat rusak (hemat ongkos reparasi #hehehe), aku kan ya nggak pernah motret objek yang bergerak cepat banget. Jadi, buatku fitur ini ya biasa saja.

 

Optical Viewfinder With Widest-Ever 30.8º Diagonal Viewing Angle

 

 

Aku nggak pernah masalah sama viewfinder. Mau itu yang jenisnya pentaprisma kek atau pentamirror kek buat penglihatanku yang minus 2 ini (kayaknya nambah deh #hehehe) ya biasa saja.

 

Buatku viewfinder itu nyaman KALAU BUKAN electronic viewfinder. Salah satu alasanku nggak berniat memakai mirrorless adalah karena di mirrorless nggak ada viewfinder dan kalau ada pun viewfinder-nya elektronik.

 

Boleh dibilang aku masih fotografer “konservatif” yang hobinya “ngintip”. #hehehe

 

Touch-Screen, Tilting 3.2 inch, 2.359K dot LCD

 

 

Aku nggak pernah masalah sama ukuran dan kualiats LCD DSLR. Yang masalah itu kalau LCD-nya byar-pet atau muncul garis-garis nggak jelas seperti kalau LCD smartphone mulai rusak itu. #hehehe

 

Sehari-hari aku jarang melihat ke LCD untuk review hasil foto. Paling ya melihat LCD sekadar pas mengatur setting DSLR thok. Kalau LCD jarang nyala kan bikin daya baterai DSLR lebih awet. #hehehe

 

4K UHD Video Up To 29 Min. 59 Sec Recording

 

 

Aku masih fotografer “konvensional” yang memakai DSLR sebagai piranti memotret dan bukan merekam video. Nggak ada fitur video pun aku sih santai-santai saja. #hehehe

 

DX Agility

 

 

Ini yang aku lumayan setuju karena sistem DX itu memang mengutamakan keringkasan penggunaan. Kalau dibandingkan, ukuran lensa DX dan ukuran lensa FX bisa lebih ringkas lensa DX lho! Lagipula keunggulan sistem DX adalah di rentang telephoto.

 

Tapi sayang, aku perhatikan umumnya fotografer di Indonesia jarang yang main di telephoto. Seringnya main di wide atau normal.

 

ISO 100-51.200 Realized by New Expeed 5 Engine

 

 

Ini salah satu fitur D500 yang menurutku menarik. Tapi nggak tahu deh di ISO 51.200 itu hasil fotonya bebas noise atau nggak. Dengan rentang ISO yang tinggi ini, jadi makin tenang deh kalau motret di kondisi minim cahaya macamnya di warung angkringan (eh, motret apaan di angkringan ya?). Apalagi kalau ditambah memakai lensa VR.

 

Hmmm, mungkin itu juga sebabnya, D500 tidak menyertakan lampu kilat (flash). Soalnya pengguna D500 bisa tetap nyaman memotret di kondisi minim cahaya tanpa bantuan lampu kilat.

 

Snap Bridge, New Image Transferring Application

 

 

Fitur yang memudahkan untuk urusan pindah-memindah foto. Tapi sebetulnya nggak terlalu signifikan juga kalau buatku.

 

Nikkor Lenses

 

 

Ya iyalah yaw! DSLR Nikon ya pakainya lensa-lensa Nikon! Kecuali kalau kondisi dompet terbatas ya... bolehlah pakai lensa third-party #hehehe

 

Eh, artikel tentang lensa 16-80 DX yang bikin galau itu, nanti aku terbitkan di lain waktu deh. #hehehe

 

Susu Kental Manis?

Oh iya, di judul artikel ini kan aku menyinggung-nyinggung tentang “kental manis” ya? Itu karena di akhir video terpampang adegan ini.

 

 

Yang mana aku dan mbah Google sepertinya punya bayangan yang serupa ketika mendengar kata “condensed”. #hehehe

 

 

Susu kental manis adalah alternatif susu yang murah-meriah dibandingkan susu bubuk. Tapi ingat, jangan dimasukkan ke dalam kulkas, karena nanti butuh kesabaran untuk menuang isinya ke dalam gelas. #hehehe

 

Cukup ditutup dengan tutup gelas kemudian diletakkan di tempat yang jauh dari jangkauan semut nakal. #senyum.lebar

 

Eh, kok aku malah ngelantur bahas susu kental manis...? #hehehe

 

Pengguna Ideal D500

Dengan harga yang dipatok $2.000 untuk body only dan $3.069 dengan “lensa kit” 16-80 DX jelas bahwa DSLR ini kurang cocok untuk pengguna kamera yang menggunakannya sekadar untuk selfie atau mungkin dibawa traveling.

 

Orang-orang yang bakal merasakan fitur-fitur dari D500 secara maksimal adalah:

 

  1. Fotografer Olahraga (Titik AF dan Continuous Shot)
  2. Fotografer Panggung (ISO 51.200)
  3. Fotografer Model (Snap Bridge dan dukungan sistem flash CLS)
  4. Videografer (4K UHD Video dan tilt-screen LCD)

 

Selain itu, untuk pengguna lain semacam aku ini bisa mempertimbangkan D3300, D5500, dan D7200.

 

Aku sendiri sih nggak tertarik untuk memboyong D500 ini. Aku lebih tertarik dengan D7200 atau bahkan D610 yang sistem FX itu. Meskipun ya dengan DSLR kelas amatir sekalipun ya kegiatan motretku ya tetap bisa jalan terus.

 

Dari pengalamanku, foto yang bagus itu nggak selalu dihasilkan oleh DSLR mahal dan lensa mahal. #hehehe

 

Ah, ngomongin mahal, di tahun 2016 ini harga masih menjadi faktor yang bikin aku gemes, hahaha #senyum.lebar.

 

Setelah D500 Ada Apa Lagi?

Nah, prospek D500 ini ke depannya aku rasa bakal semanis susu kental manis ya. Walaupun mungkin nggak bakal banyak dirubung semut mengingat harganya yang terbilang WOW MAHAL BANGET!

 

Ke depan, aku sih menanti dirilisnya produk-produk “turunan” dari D500. Yang paling utama sih lensa, karena aku pingin beli lensa tapi mumet sama harganya, hahaha. #senyum.lebar

 

Sejauh ini, baru lensa all-round 16-80 DX yang sudah dirilis sebagai lensa DX profesional. Untuk lensa normal DX profesional 17-55 DX masih mengandalkan versi tahun 2003. Sementara lensa wide DX profesional 12-24 DX juga masih mengandalkan versi tahun 2003.

 

Jadi, apakah di tengah tahun 2016 ini Nikon akan merilis upgrade dari lensa 17-55 DX dan 12-24 DX sebagai pasangan profesional untuk D500?

 

Mari kita saksikan, produk DX apakah di urutan kedua setelah dirilisnya D500 ini.

 

Lensa ataukah DSLR?

NIMBRUNG DI SINI