Ketemu sawah!
Hamparan sawah luas. Langit biru berawan. Semilir angin sore yang sejuk.
Suasana pedesaan pada umumnya yang damai dan membuat hati tentram.
Hadeeeeh!
Tapi ya kok ya malah ketemu sawah!?
Harusnya kan ketemunya air terjun!
Piye iki!?
Alhamdulillah-nya, hamparan sawah di atas itu berdekatan dengan rumah-rumah warga. Alhamdulillah-nya lagi, nggak perlu ada adegan kulo nuwun ke salah satu rumah untuk memohon uluran panduan arah karena ndilalah-nya ada seorang mas-mas berjalan kaki ke arah kami sambil menenteng peralatan untuk mengail ikan.
Pada intinya, mas-mas berpenampilan (agak) sangar tapi ternyata murah bantuan itu menyatakan bahwasanya,
“Jalan ke curug ada di dekat jembatan.”
Jelas, jembatan yang dimaksud oleh mas-mas tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah jembatan di dasar lembah yang melintasi sungai sebagaimana foto di bawah ini.
Jembatan yang ikonik menurutku. Mirip bekas jembatan rel kereta api. Tapi sepertinya bukan karena sangat tidak mungkin ada kereta api yang lewat tempat ini.
Apa mungkin jembatan untuk kereta lori pengangkut hasil bumi? Tapi sepertinya juga tidak mungkin.
Yang jelas, jembatan ini sangat fotogenik sebagai lokasi pemotretan manusia dan termasuk lokasi yang lumayan bebas merdeka untuk memotret tanpa perlu merasa terganggu oleh para pelintas jembatan. Sebabnya, untuk menuju ke jembatan ini semua manusia wajab menuruni anak-anak tangga dari semen yang sangat lunyu akibat hujan deras singkat yang mengguyur Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah beberapa saat yang lalu.
Oleh sebab arahan dari mas-mas pemancing itu, maka mau tidak mau kami harus kembali menuruni lembah melewati anak-anak tangga semen yang lunyu itu untuk kembali ke dasar lembah di mana jembatan tersebut berada.
Umumnya, untuk adegan nyasar yang seperti ini istri terlucyu akan berkata, “Huf, yang sabar ya aku!”
Akan tetapi, karena sekarang si “buntut” sudah lebih aktif nan bahan bakarnya selalu penuh, maka istri cenderung lebih pendiam dan membiarkan manusia mungil itu berceloteh.
“Bapak tunggu! Jangan tinggalkan bocil!”
Hadeh bocah kecil!
Sukanya lari dan nyeker!
Bisa-bisanya dia jalan tanpa pakai alas kaki!
Bocah modelan begini kalau belum merasakan yang namanya jatuh terpeleset kemudian terluka nggak bakal belajar. Sebetulnya sudah banyak belajar: lari – jatuh – luka – nangis. Tapi namanya juga bocah, banyak belajar, terus lupa lagi. Maka dari itu, sepertinya lazim bilamana orangtua jadi sering menyeru dan menyeru.
“Jangan lari!”
Mana sukanya main air pula! Dasar bocah.
Kembali ke jembatan. Di bawah jembatan adalah sungai. Menggunakan akal yang masih agak sehat, logikanya air terjun seharusnya ada di dekat-dekat sini sebagaimana arahan dari mas-mas pemancing yang rupanya tidak memancing di sungai ini.
Apa yang bisa diharapkan dari jalan setapak di dalam hutan tanpa petunjuk arah?
Curigailah segala sesuatu yang mencurigakan karena hidup sejatinya adalah repetisi mencurigai kemudian mencegah yang kenyataannya dunia ini punya seabrek hal yang berpotensi untuk dicurigai. Termasuk tugu kecil yang tulisannya sudah pudar berikut. Di dekat situ rupanya ada jalan setapak yang lebih kecil dan terkesan jarang dijamah manusia.
Singkat cerita, jalan setapak kecil itu rupanya mengarah ke pinggir sungai. Ketika menyapukan pandangan di sekitar sana, terlihatlah penampakan yang sedari tadi dicari.
Inilah Curug Belot atau Curug Belot Rempoah karena berlokasi di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 8 kilometer dari alun-alun Purwokerto via Jl. Raya Baturraden.
Ulasan singkat tentang Curug Belot Rempoah.
- Curug yang sangat fotogenik!
- Kolamnya bisa untuk berenang, sepertinya dalam sekali. Harap hati-hati karena tidak ada penjaga.
- Sepi! Awalnya hanya kami bertiga, kemudian datang dua orang mas-mas yang senantiasa mendendangkan lagunya pakdhe Didi Kempot.
- Jika tidak pakai acara nyasar #hehehe, dari parkiran berjalan kaki ringan sekitar setengah jam untuk tiba di air terjun.
- Medan tidak berat. Bocah tiga tahun yang kelewat aktif bisa lewat tanpa “drama”.
- Tidak ada tiket masuk dan tiket parkir.
- Sepeda motor enak parkir di depan mobil. Nah, parkir mobilnya ini lumayan “menantang” ( angel #hehehe) karena harus mepet dengan tembok rumah joglo berhalaman luas.
Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah
27 April 2024