Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Minggu, 19 Juli 2015, 06:03 WIB

Di sore hari itu, gerimis tampak segan beranjak dari suatu dusun di pelosok Wonogiri, Jawa Tengah. Meskipun demikian, aktivitas penduduk seakan tak terganggu. Beberapa masih bertahan di sawah. Sementara beberapa yang lain pulang dari sawah tanpa mempercepat langkah kaki mereka.

 

Di tengah suasana syahdu dan bentang alam dusun di puncak gunung purba yang memesona itu, aku baru saja selesai menyalurkan “panggilan alam” yang sedari tadi aku tahan-tahan. Maklum, kalau nggak terpaksa banget, aku agak sungkan “mengeksekusi” di dalam lebatnya hutan. Beruntung ada warga yang merelakan toiletnya dipakai secara cuma-cuma.

 

Begitu keluar dari toilet, aku berpapasan dengan Ndop yang kemudian mengajakku menunaikan salat Ashar. Kami pun berjalan kaki di bawah rintik gerimis menuju masjid yang katanya sih nggak begitu jauh dari situ.

 

Di tengah jalan kami berpapasan dengan seorang bapak yang masih memanggul cangkul.

Numpang salat nggih Pak!”, ujar Ndop ramah

Nggih Mas, monggo!”, balas si bapak sambil berlalu

 

Yang Tersembunyi di Pelosok Wonogiri

 

Tibalah kami di masjid yang ada di tengah dusun. Ndop celingak-celinguk mencari tempat wudu. Sementara itu aku celingak-celinguk menyapu pandangan ke dalam masjid yang tidak berpenghuni itu. Aku lihat ada beberapa ornamen penghias dinding. Lantas aku hampiri Ndop yang sedang bersiap untuk berwudu.

 

“Ndop! Iki masjid e **** !”

Lha njuk ngopo nda? Ndik mau wis diijinke toh?”, balas Ndop cuek

 

Memang betul kata Ndop. Bapak yang kami jumpai tadi tampak biasa-biasa saja menanggapi keinginan kami menunaikan salat di masjid. Aku sendiri pernah numpang salat di gereja dan di vihara, tapi nggak dengan perasaan gelisah seperti ini.

 

Khawatir kah? Apa yang mesti dikhawatirkan? Keselamatan? Atau reaksi penduduk bila tahu kami salat di sana? Bukankah salat itu hubungannya antara manusia dengan Gusti Allah SWT? Lalu mengapa harus khawatir dengan urusan manusia?

 

Arief yang kemudian datang menyusul salat membuyarkan lamunan nggak pentingku itu. Aku pun segera bergegas mengambil wudu dan menunaikan salat tanpa memberi tahu Arief. Tidak terjadi apa-apa selama kami menunaikan salat di sana. Di perjalanan pulang dari masjid pun ya juga tidak terjadi apa-apa. Sepertinya memang hanya pikiranku yang terlalu lebay.

 

Yang Tersembunyi di Pelosok Wonogiri

 

Aku beberapa kali merenung sepanjang perjalanan pulang dari dusun. Kenapa ada komunitas seperti itu di tempat terpencil seperti ini? Kalau menurut Arief, keberadaan mereka di sini itu agar tidak terdeteksi. Beda jika misalnya mereka bermukim di kota besar.

 

Terus terang aku hanya punya pengetahuan sedikit tentang mereka. Itu pun hanya sebatas hasil nguping sana-sini dan baca ini-itu. Belum pernah aku bertemu orangnya langsung dan menginterogasi hingga terperinci.

 

Bisa jadi, sebenarnya mereka nggak seperti apa yang disinggung oleh kebanyakan orang. Atau bisa jadi, sebenarnya mereka seperti apa yang disinggung oleh kebanyakan orang tapi kebetulan saja kami nggak menyaksikan hal tersebut. Ah, entahlah! Kalau semua didasarkan pada asumsi “bisa jadi” maka seakan-akan semua hal terbuka peluang untuk bisa terjadi. Ya toh?

 

Yang Tersembunyi di Pelosok Wonogiri

 

Menurutku orang-orang terbagi ke dalam dua golongan, yaitu golongan fanatik dan tidak fanatik alias biasa-biasa saja. Mereka yang tidak fanatik kan cenderung tidak terlalu tegas dalam bersikap. Mungkin seperti itulah penduduk di dusun di puncak gunung purba Wonogiri ini. Mereka memilih hidup terpencil karena ingin hidup damai sesuai keyakinannya. Bukan karena tersingkir dari gejolak perbedaan.

 

Lagi-lagi kita semua harus menerima kenyataan bahwa penduduk Indonesia ini beragam sekali, dari mulai suku bangsa, adat-istiadat, hingga keyakinannya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

 

Kadang aku mikir. Semua bakal terasa baik-baik saja bilamana saling tak menyebut apa yang diyakini.

 

Ah, terserah Pembaca lah mau menanggapi apa ocehanku kali ini.

 

Semoga mereka juga merayakan hari kemenangan dengan bahagia.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • UTOMO SETIYAWAN
    avatar 7957
    UTOMO SETIYAWAN #Senin, 20 Jul 2015, 14:31 WIB
    ini ngomongke apa to dari atas bawah tak baca kok gak ada ceritanya
    Lha itu ceritanya Kang >.<
  • AGITA VIOLY
    avatar 7964
    AGITA VIOLY #Rabu, 22 Jul 2015, 15:09 WIB
    awakmu nang wonogiri ngendiii maseeee?
    kampungku cedhak mbaturetnooo :D
    Aku blusukan ke Manyaran Git. Pelosok gunung Wonogiri lah pokokmen, hehehe.
  • PUTRI NORMALITA
    avatar 7978
    PUTRI NORMALITA #Jum'at, 24 Jul 2015, 11:21 WIB
    Mawiii, aku ndak paham komunitas apa yg kamu bicarakan... Huft :(
    yaa kira-kira begitulah Put. Anggap saja aku ngoceh nggak jelas, hahaha XD
  • BERSAPEDAHAN
    avatar 7986
    BERSAPEDAHAN #Sabtu, 25 Jul 2015, 20:55 WIB
    coba jelaskan dong .. lebih detil dan faktual .. he he ... biar ga ikutan berasumsi juga ... :)
    Anggap saja saya meracau Kang XD
  • EFENERR
    avatar 7994
    EFENERR #Minggu, 26 Jul 2015, 17:00 WIB
    LDII yak?
    Mas Farchan pengertian banget :D
  • CAHYO
    avatar 8010
    CAHYO #Rabu, 29 Jul 2015, 13:59 WIB
    Kasian pembaca pada bingung... gawe bingung ki duso ra yak? :p
    SELAMAT IDUL FITRI - Mohon Maaf Lahir & Batiiiin )
    Lha kuwi kan wis dijawab mas karo komen nduwurmu :D
    Podo2, maaf lahir batin nek aku ono salah ngetik :D
  • ANNOSMILE
    avatar 8268
    ANNOSMILE #Kamis, 17 Sep 2015, 08:01 WIB
    klo ga kepepet..aku pilih nyari pom bensin yg ada musholanya :D
    lha ini pom bensin jauuuh
  • DWI JULIAN
    avatar 11370
    DWI JULIAN #Senin, 12 Mar 2018, 19:36 WIB
    Oalah komunitas itu ya...

    Setau saya komunitas itu memang tersebar dan berkembang di wilayah pelosok-pelosok (pegunungan, jauh dari kota dan minim sinyal HP). Saya sering lihat papan bertuliskan komunitas itu di pelosok Gunungkidul dan Pegunungan Menoreh.

    Jujur saja saya belum pernah masuk ke masjid mereka, tapi ketertutupan mereka sering mengundang tanda tanya dan asumsi.
    Iya, di pelosok Perbukitan Menoreh aku juga pernah lihat papan-papan itu di pinggir jalan. Kalau nggak terdesak banget ya, aku sih mencari masjid yang di pinggir jalan raya saja. :D
  • DWI JULIAN
    avatar 11371
    DWI JULIAN #Senin, 12 Mar 2018, 19:44 WIB
    Btw, menurut saja anggota komunitas seperti itu (terutama orang tua) bisa saja mereka justru tidak paham tentang komunitas/keyakinan yang mereka anut itu.

    Sesuai namanya keyakinan mereka disebarkan melalui dakwah pengajian dll. Kebanyakan orang desa taunya Islam itu ya cuma salat, puasa, dll.

    Dari sini pelan-pelan mereka sisipkan faham mereka kepada penduduk yang masih awam soal agama dan tanpa disadari mereka telah masuk ke komunitas tersebut.
    Wah, sepertinya harus ada sesi dialog dengan anggota komunitas tersebut, hihihi. :D