Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Jum'at, 12 Agustus 2011, 10:31 WIB

Aku ingin menulis tentang topik yang tak pernah kutulis sebelumnya. Tentang agamaku, Islam, di yang kujumpai di lingkungan sekitarku.

 

Beberapa bulan yang lalu, aku diberi beberapa buku terbitan CRCS oleh Mbak Jim. Salah satu buku itu berjudul Politik Ruang Publik Sekolah, salah satu serial monograf praktik pluralisme. Tebalnya 95 halaman. Katanya sih tersedia di toko-toko buku. Tapi bisa juga dipesan ke CRCS. Eh, CRCS juga menyediakan versi e-book yang bisa pembaca simak di link ini.

 

Politik Ruang Publik Sekolah buku CRCS UGM

 

Singkat cerita, buku itu mengisahkan dinamika penerapan ajaran Islam di tiga SMA Negeri di Yogyakarta. Ada SMA yang benar-benar menerapkannya secara ketat, ada pula yang tidak. Penerapan-penerapan itu tidak hanya sebatas pengamalan wajib seperti menunaikan salat berjamaah, melainkan sudah menyentuh ruang pribadi seperti pembatasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

 

Ketatnya penerapan ajaran islam itu dimotori oleh Rohis, yang berupaya menjadikan lingkungan sekolah lebih islamis.

 

Aku menyadari bahwa situasi semacam ini tidak hanya terjadi di ruang lingkup sekolah saja. Di jenjang institusi yang lebih tinggi, perguruan tinggi hingga ke jajaran pemerintahan sekalipun, situasi ini kerap dijumpai.

 

Kita tidak bisa berpaling dari kenyataan, bahwa kita hidup berdampingan dengan pihak-pihak yang mengatasnamakan agama untuk memperoleh kekuasaan.

 

Pertanyaannya yang sering tercuat di pikiranku adalah bagaimana sebaiknya cara kita berinteraksi dengan mereka? Juga, bagaimana semestinya mereka berinteraksi dengan kita?

 


 

Aku merasa, mungkin hanya aku, entah yang lain, bahwa menjaga jarak dengan mereka adalah sikap terbaik.

 

Dalam pandanganku, kita ini hidup di wilayah abu-abu. Namun, mungkin mereka memandang hidup sebagai hitam dan putih. Jika seandainya mereka berjumpa dengan wilayah abu-abu, mungkin mereka akan menggiringnya menjadi hitam atau putih. Jadi, mungkin mereka sendiri akan menjaga jarak terhadap wilayah abu-abu.

 

Mengatasnamakan agama dan berperisaikan kebenaran hakiki. Mereka menyeru untuk melakukan ini, dan meninggalkan itu. Seperti itu, aku kira kita semua paham.

 

Namun, di tengah kondisi masyarakat kita yang plural, menurutku kebenaran yang terus-menerus digaungkan–di antara sekian banyak kebenaran yang mana tiap kebenaran menjadi relatif tergantung setiap manusia–akan menimbulkan perasaan tidak nyaman.

 

Seperti di bulan Ramadhan ini, seruan itu kerap dikait-kaitkan dengan bulan yang suci dan penuh barokah.

 

Aku tahu, setiap dari kita diwajibkan untuk saling menasehati dalam kebenaran dan juga kesabaran. Mungkin, sebenarnya kita lupa akan makna sabar, bahwa kebenaran dan kesabaran itu selalu ada berdampingan. Kita harus sabar, mereka pun juga demikian.

 

Sehingga pada akhirnya, aku akan melafalkan do’a:

Ya Allah jagalah hati kami. Berilah kami kesabaran hingga mampu melalui hari-hari kami dengan ikhlas.

 


 

Ini mungkin sepele.

Ini mungkin hanya aku yang terlalu membesar-besarkan.

 

Tapi ini nyata.

Bahwa ini Islamku, itu Islammu.

 

Bayangkan, satu agama saja bisa seperti ini. Bagaimana di agama lain? Bagaimana kita hidup dengan pemeluk agama lain?

 

Satu yang pasti, menurutku, hidup memang tak kan pernah mudah...

dan tak pernah terlalu sulit untuk bisa kita lalui...


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • RITA
    avatar 4129
    RITA #Jum'at, 12 Ags 2011, 11:31 WIB
    sama yang lain agama kita harus saling menghormati apalagi sama yang seagama harus lebih mengormati,,
    menghormati itu dalam praktiknya kadang membuat bingung, mungkin karena jarang ada yang mau mengalah...
  • YACOB.IVAN
    avatar 4145
    YACOB.IVAN #Jum'at, 12 Ags 2011, 14:59 WIB
    "Ini Islam-ku, itu Islam-mu"
    atau
    "Ini agamaku, itu agamaku"
    Ini semua kembali ke ideologi yang terlahir dalam pikiran kita. Walaupun tokh kebenaran
    hakiki bukan milik kita, tapi cobalah merenungkan: betapa indahnya perbedaan. Kalau
    semuanya sama, maka tidak akan menarik bukan?
    Perbedaan bisa indah dan bisa pula tidak indah. Mungkin bagi mereka indah adalah serupa-seragam.
  • BEJOKAMPRET
    avatar 4146
    BEJOKAMPRET #Jum'at, 12 Ags 2011, 19:13 WIB
    kok ra mudeng aku yoo, po ra tekan yooo
    sabar mbah, dibaca pelan-pelan nggih...
  • YACOB.IVAN
    avatar 4147
    YACOB.IVAN #Jum'at, 12 Ags 2011, 19:23 WIB
    Yah, bagaimana kalau mereka dibuatkan "Vatikan"-nya di Indonesia?
    Sebenarnya, mungkin komunitas mereka sendiri di suatu wilayah bisa diibaratkan sebagai "Vatikan". Namun kita tahu bahwa skalanya kecil, dan tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan "berekspansi"...
  • ZEE
    avatar 4150
    ZEE #Minggu, 14 Ags 2011, 16:40 WIB
    Seperti yg kamu tulis di atas, dimana semua pihak merasa dirinya yg benar sementara
    orang lain sudah lebih dulu hidup dgn kebenaran yg membuatnya nyaman, maka ujung-
    ujungnya akan ada perpecahan. Mungkin tak lama lagi, akan semakin banyaaaakkk yg
    merasa ajarannya lbh benar, sehinggga kita akan berkata, Ini Islamku, Itu Islammu, dan
    Disana itu Islamnya...
    Kalau sudah menyangkut iman, kebenaran akan menjadi mutlak tergantung dari penafsiran yang menggaungkannya. Yang menjadi masalah adalah ketika kebenaran itu harus bersanding dengan kebenaran-kebenaran lain yang kemungkinan besar saling bertentangan. Tantangan bagi kita semua untuk tetap menjaga kebenaran yang kita yakini dan kebenaran-kebenaran lain tersebut hidup harmonis Bu. :)
  • OMIYAN
    avatar 4195
    OMIYAN #Kamis, 18 Ags 2011, 09:47 WIB
    Tapi untuk kata Pluralis saya setuju dengan judul diatas yang jelas kita sudah mengenal kata RAHMATANLILLALAMIN .... Rahmat Untuk Seluruh Alam, sayangnya citra kita tercoreng dengan ulah kita atau beberapa kelompok yang ingin mengubah SENDI-SENDI ISLAM DENGAN KATA PLURALIS...
    kata Pluralis itu mesti didefinisikan dulu maknanya Om, sebab tidak semua orang mengerti...
  • OMIYAN
    avatar 4196
    OMIYAN #Kamis, 18 Ags 2011, 10:40 WIB
    Islam sekarang ditelikung pemikiran kaum Sabilis (Sekuler) yang terus2an mempropagandakan Pluralisme ...... dan mereka diuntungkan dengan Media yang ada
    wah, kok ada istilah "Salibis"? Kok sepertinya menjustifikasi kelompok tertentu ya? :p
  • FE
    avatar 4924
    FE #Selasa, 11 Des 2012, 23:02 WIB
    Semua agama dg penganut terbesar di dunia ini punya banyak aliran, semua agama.

    Tapi Penguasa alam ini hanya satu, agama yang benar hanya satu.
    betul, setuju saya sama itu