Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Rabu, 9 September 2009, 00:37 WIB

Mungkin sebagian Pembaca ada yang bingung melihat foto yang terpampang di awal artikel ini. Foto itu kujepret tahun 2006 silam, tepatnya tanggal 31 Januari, tengah malam, di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Itu adalah rangkaian dari prosesi adat, Lampah Mubeng Benteng, yang dilakukan pada setiap malam pergantian tahun Hijriyah (malam 1 Suro) di Yogyakarta.

 

Sesuai dengan namanya, peserta Lampah Mubeng Benteng wajib berjalan kaki mengitari benteng Keraton Kasultanan Yogyakarta tanpa berbicara dan tanpa berhenti (tapa bisu). Prosesi ini memakan waktu kurang-lebih 2,5 jam. Kebayang kan bagaimana sakitnya kaki sehabis mengikuti Lampah Mubeng Benteng? Tapi jangan salah, begitu-begitu barisan peserta hampir selalu mencapai panjang 300 meter!

 

Aku pernah mengikuti prosesi adat tersebut. Jujur saja, rasa sakit dan capek di kaki bukan main rasanya! Karena berjalan mengitari benteng itu belum termasuk jalan kaki pergi-pulang dari rumahku ke Keraton Kasultanan Yogyakarta.

 

Nah sekarang aku tanya kepada Pembaca sekalian, sudikah kiranya malam 1 Suro nanti berjalan kaki selama 2,5 jam di tengah malam?

 

Tradisi memecah kelapa di rangkaian upacara mitoni ibu hamil
Memecah kelapa, salah satu
dari 7 rangkaian upacara Mitoni
dalam adat Jawa.

Maaf kalau boleh kiranya aku memberi jawaban, pasti ada banyak yang menolak. Alasan yang kutebak adalah, "Ngapain juga jalan kaki tengah malam, capek, ngantuk pula!". Itu aku akui, tapi coba lihat barisan peserta sepanjang 300 meter itu. Kiranya apa alasan mereka ikut dalam prosesi ini? Mungkin pula Pembaca menjawab, "Ah mereka itu orang-orang kurang kerjaan!".

 

Kalau kiranya kita berbincang perkara adat, budaya, dan tradisi maka segala yang serba instan itu tidaklah pantas disandang. Adat, budaya, dan tradisi selalu penuh dengan tata cara dan aturan yang jauh dari kata mudah. Tapi dibalik itu semua, kalau kita jeli menggali asal-muasalnya, kita akan menemukan sebuah pelajaran berharga. Bagaimana nikmat kehidupan itu diperoleh dari jalan yang panjang dan berliku. Ada makna tersirat di dalamnya.

 

Mulai Luntur

Dewasa ini, adat, budaya, dan tradisi yang dimiliki oleh bangsa kita lambat laun mulai terlupakan. Penyebabnya satu, yaitu minimnya generasi muda yang bersemangat menekuni dan melestarikan adat, budaya dan tradisi.

 

Kalau boleh aku simpulkan, ada dua penyebab mengapa generasi muda kita kehilangan minatnya. Mohon maaf kalau apa yang akan aku utarakan berikut, menyinggung hati Pembaca sekalian.

 

  1. Pertama, karena adanya gempuran pengaruh budaya luar yang terselubung oleh tirai moderinisasi. Contohnya mudah saja, aku tanya kepada anda, betah yang mana anda nonton film layar lebar atau nonton pagelaran wayang kulit? Dua-duanya rata-rata berdurasi 2,5 jam, tapi aku yakin Pembaca lebih milih nonton film layar lebar.
  2. Kedua, karena ada pengaruh (maaf) doktrin agama. Ini dari pengamatan aku yang terbatas, berlaku pada kaum muslim. Kita tahu bahwa adat, budaya, dan tradisi itu berakar dari ajaran Hindu dan Buddha di tanah air kita. Oleh karena tidak sesuai dengan ajaran agama, ada beberapa orang yang menjauhkan diri dari hal-hal semacam itu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya.

 

Kita ketahui bahwa hidup itu pilihan, dan karena itu pula mengapa
Bukan blangkon yang menutup rambut, tapi topi dan peci,
Bukan beskap yang menaungi tubuh, tapi jaket dan baju koko,
Bukan gamelan yang merasuki telinga, tapi pop dan nasyid.

 

Punya Kita atau Kamu?

mengubur ari-ari bayi dalam budaya jawa
Ari-ari bayi yang baru lahir dikubur dalam adat Jawa.

Yuk, kita merenung sama-sama, apakah kita menerima adat, budaya, dan tradisi itu menjadi bagian dari diri kita, menjadi bagian dari bangsa kita?

 

Kalau iya, sudah semestinya kita melestarikannya. Dengan cara apa? Yang mudah dulu saja, tekuni satu bidang tertentu. Sebagai awal, pilih sesuai asal suku kita. Tepis pula anggapan bahwa menekuni hal semacam itu akan membuang-buang waktu dan sulit dilakukan terutama di kota besar.

 

Kalau niat kita sudah kokoh, InsyaAllah jalan akan terbuka dengan sendirinya. Sesuatu yang besar itu dimulai dari yang kecil. Kalau 200 juta penduduk Indonesia melakukan itu, aku yakin adat, budaya, dan tradisi bangsa kita nggak akan dicaplok oleh bangsa lain.

 

Jadikan itu semua, adat, budaya, dan tradisi kita, bukan milik kamu orang lain.

 

Di sudut jalan di dekat pojok benteng itu aku melihat halaman sebuah warung game online nampak penuh dengan sepeda motor. Di lain sisi, telingaku menangkap ceramah seorang ulama yang disuarakan dari speaker masjid yang menyeru untuk menghindari perilaku syirik.

 

Lampah Mubeng Benteng tetap berlangsung, diriku tetap melangkahkan kaki. Dan kalau sekiranya anda tidak peduli dengan hal semacam ini, maka ijinkanlah diriku tuk peduli. Karena aku berusaha peduli terhadap apa yang tak kalian pedulikan.

 

Dipersembahkan untuk...
Pembaca sekalian terutama teman-temanku yang geram dengan aksi Malaysia. Semoga artikel ini mampu menjadi pereda hati.

NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • GANDI WIBOWO
    avatar 1356
    GANDI WIBOWO #Rabu, 9 Sep 2009, 02:09 WIB
    Hehehehehe... mulai kesel sama orang2 yang punya nasionalisme sesaat ya mas? teriak ganyang, tapi gak tau budayanya sendiri?

    Istilah "Budaya kita" terlalu mengada-ada, lah wong indonesia gak pernah di satuin secara budaya kok. Saya jadi inget beberapa waktu lalu ada temen saya yg ngasih komen di FB, "terlalu besar khazanah budaya kita klo dikelola secara tunggal." ini komentar dia masalah jargon "budaya nasional".
    Iya nih, baca-baca blog tetangga kayaknya kok penuh dengan nada emosi gituh. Menurut saya masing-masing dari kita wajib menjaga dan melestarikan adat dan budaya, minimal dari suku dimana kita berasal.
  • NUR
    avatar 1358
    NUR #Rabu, 9 Sep 2009, 12:17 WIB
    Susah wis... apalagi kalo bentrok ma agama.

    Ah, aku abstain aja ah... :p
    eeee...ndak bisa abstain! ndak ada pilihan abstain! :D
  • ZAM
    avatar 1359
    ZAM #Rabu, 9 Sep 2009, 13:03 WIB
    itulah gunanya orang-orang sepertimu, nak!

    puk-puk mawi
    hohoho, diriku jadi sedikit merasa berguna buat bangsa kita mas, hehehe
  • ISNUANSA
    avatar 1363
    ISNUANSA #Rabu, 9 Sep 2009, 18:51 WIB
    Makna perjalanan panjang kehidupan yang memang harus dilalui, suka atau tidak...

    Yang mengatakan Kurang Kerjaan", biasanya yang paling duluan kebakaran jenggot ketika ada yang mengambil budaya itu. )
    saya rasa mereka adalah juga yang terjebak euforia nasionalisme sesaat itu
  • OMIYAN
    avatar 1364
    OMIYAN #Kamis, 10 Sep 2009, 16:09 WIB
    yang jelas Indonesia dan segala isinya adalah kepunyaan kita semua, dan mungkin saatnya kita tanggalkan sikap kedaerahan..sikap Nasionalisme saatnya kita bangkitkan kembali....
    Nah itu dia mas, sikap Nasionalisme ini yang makin lama makin sirna karena dua faktor yang saya sebutkan diatas itu,
  • OMAGUS
    avatar 1365
    OMAGUS #Kamis, 10 Sep 2009, 16:29 WIB
    Setiap kebudayaan pasti mengalami revolusi dan perubahan.
    Itu terjadi bila regenerasi tidak di sertai dengan regenerasi budaya. Maka generasi selanjutnya lebih mngagungkan budaya lain yang merasa bahwa budayanya membosankan. Dan itu yang tidak boleh kita diamkan
    Saya setuju kalau budaya itu mengalami evolusi, tapi ke arah yang seperti apa? Jujur kalau saya perhatikan budaya kita ini ndak berevolusi, tapi malah digantikan oleh budaya lain. Nah ini yang harus kita cegah.
  • VICKY LAURENTINA
    avatar 1366
    VICKY LAURENTINA #Kamis, 10 Sep 2009, 23:19 WIB
    Saya mau kok ikutan jalan 2,5 jam. Apalagi kalo di sebelah saya ada laki-laki ganteng ikutan jalan, hehehe. Tapi pertanyaannya, UNTUK APA?

    Masalah besar pelestarian budaya antara lain adalah karena sikap kritis yang menanyakan kenapa prosesi adat tersebut harus dilakukan.
    Itu mungkin karena mayoritas orang sudah berpendidikan mbak dokter, jadi selalu bertanya alasan mengapa kita melakukan sesuatu. Jujur kalau alasannya adalah mengikuti apa yang orang dulu perbuat, apakah cukup kuat untuk menjawab pertanyaan mereka?
  • EKA SITUMORANG - SIR
    avatar 1367
    EKA SITUMORANG - SIR #Jum'at, 11 Sep 2009, 02:01 WIB
    Postingan ini dalam Wijna...
    Teringat ketika pesta pernikahan tahun lalu, kami (gue suami) ngotot banget gak mau pake adat. Akhirnya ortu mengalah.


    Namun skr, jadi nyesel. Adat dan budaya itu jika ditelusuri indah bgt !
    Memang indah itu kalau dilihat mata, tapi buat yang melaksanakannya cukup berat. Tapi semua beban itu bisa sirna kalau kita menghayati maknanya.
  • ADIPATI KADEMANGAN
    avatar 1368
    ADIPATI KADEMANGAN #Jum'at, 11 Sep 2009, 06:49 WIB
    Melestarikan kebudayaan itu tidak hanya dengan kata-kata, tapi minimal harus mengikuti. Orang indonesia ini aneh, kebudayaan diakui oleh orang lain marah-marah namun jika disuruh melakukan masih mikir-mikir.
    Orang Indonesia itu kan (mayoritas) punya sifat talk only, action later mas...hehehe
  • RANYSTARRY
    avatar 1371
    RANYSTARRY #Jum'at, 11 Sep 2009, 11:04 WIB
    mas wijna, maaf, saya komen kok, saya pasti akan meramaikan blogmu, he3.
    tapi blogmu udah rame nih..
    weh, kebudayaan ya.. hmm, aku pernah belajar nari, tapi 2 tahun gak apal2, parah ya..
    sepertinya apresiasiku juga mulai luntur deh, piye donk mas?
    Yeeee, kok intro komentarmu kayak gini? weleh
    Mungkin karena kamu lebih sibuk untuk bertahan hidup kali? tul ga?
  • SUWUNG
    avatar 1372
    SUWUNG #Sabtu, 12 Sep 2009, 11:40 WIB
    nguri uri budoyo
    yen ora awake dewe sopo maning?
    masalahe saiki uwong gelem ngopeni yen enek timbal-balik e mbah, apa meneh yen udu duwid duwid duwid...
  • SAMSUL ARIFIN
    avatar 1374
    SAMSUL ARIFIN #Sabtu, 12 Sep 2009, 20:44 WIB
    kayaknya ga ada istilah "nasionalisme sesaat" deh, yang ada nasionalisme yang menurun. Dan aku yakin, kau adalah salah satu orang yang bisa membuat nasionalisme naik kembali, menjadi sebuah fungsi [linear] naik dengan gradien positif.

    Biarkan saja orang2 yang berteriak itu, jangan disalahkan, karena itu jauh lebih baik daripada diam dan sekedar menonton, dan mungkin karena baru itu yang bisa mereka lakukan saat ini. Biarkan mereka "berekspresi" dengan caranya sendiri. Jika hanya melihat semuanya berlangsung, semua orang pun bisa melakukannya.
    Aduuuh Ipin, awalnya sih memang membiarkan, eh...lebih tepatnya mengawasi perilaku mereka yang kau sebutkan itu. Tapi kalau mereka sudah mulai melakukan tindakan tanpa pikir panjang semacam razia warga negara Malaysia, apa tetap dibiarkan???

    Kami ndak diam saja Pin! Kami ini bergerak, perlahan, tidak grasa-grusu seperti mereka itu. Karena semua ada aturan mainnya.
  • MUDZ069
    avatar 1380
    MUDZ069 #Minggu, 13 Sep 2009, 02:05 WIB
    Budaya sebagaimana halnya dunia binatang juga
    mengalami evolusi. Seiring pergantian generasi juga
    berganti cara pandangnya terhadap budaya.
    Apalagi bila budaya itu nampaknya mengganggu
    "produktivitas" yang ada, mengganggu kenyamanan
    yang kita punya dan melawan logika.
    Tapi untungnya masih ada saja orang berjiwa
    romantisme yang tetap memelihara budaya kita.
    I salut full.
    Saya berharap masing-masing dari kita juga tetap berjiwa romantis untuk menjaga agar budaya itu tetap ada mbak.
  • DEDENIA72
    avatar 1382
    DEDENIA72 #Minggu, 13 Sep 2009, 06:28 WIB
    saya lebih setuju alasan pertama..adanya modernisasi..padahal budaya sudah memberikan yang terbaik..contoh celana petani dalam fashion..lebih multiguna dibanding dengan celana punk..celana petani yang item kolor ada karetnya itu lho, bisa dipake di rumah, ke sawah, tidur (jd piyama), kalo mo ke kondangan pake baju itu juga gak masalah..hehehe belum lagi kain batik..bisa dipake selimut, sarung, nyante di rumah, kondangan, kalo diusir ama istri bisa dipake tas tempat naruh baju..
    salam kenal..
    salam rimba raya lestari..
    Seperti yang dikatakan mbak Muzda mas, moderinisasi itu juga membawa evolusi ke dalam kebudayaan. Contohlah sarung, kalau dulu itu benda disakralkan untuk dipakai sembahyang kini turun pangkat karena bisa dibuat ganti selimut :D

    Kita harus kritis, jangan sampai moderinisasi malah menjatuhkan nilai kebudayaan kita.
  • KAWANLAMA95
    avatar 1383
    KAWANLAMA95 #Minggu, 13 Sep 2009, 09:25 WIB
    bila adat tak sesuai dengan agama maka tak perlu di ikuti. kalo istilah di minang adat bersandi syara , sayara bersandi kitabullah. acara rebutan makanan sehinga makanannya sampe terjatuh dan diinjak-injak. wah tak memanusiawikan manusia kasihan makanan di perebutkan kan harusnya di bagi2, salam kenal
    Semoga agama menjadikan adat lebih manusiawi, saya juga ndak setuju ada adat yang mesti mengorbankan nyawa manusia :)
  • ZEE
    avatar 1390
    ZEE #Senin, 14 Sep 2009, 07:08 WIB
    Anak-anak muda memang gampang tertarik dengan budaya barat karena kesannya modern dan lebih praktis ya. Nanti saat mereka dewasa, tiba2 mereka spt tersadar bahwa sbnrnya "budaya modern" itu membosankan, dan mereka lalu tiba2 jatuh cinta setengah mati pd budaya tradisional hanya gara2 banyak bule yg memuji. Sayang sekali klo sampai begitu, sampai2 nanti benar2 dicaplok barulah kita jadi negara yg tidak punya budaya asli.
    Masak mesti nunggu sampai tua dulu Bu? Sepertinya memang perlu pembatasan akan budaya modern atau penerapan intensif budaya lokal di seluruh instansi pendidikan di Indonesia.
  • EDYLAW
    avatar 1408
    EDYLAW #Jum'at, 18 Sep 2009, 20:57 WIB
    Budaya begini yang harus terus di lestarikan
    ayo mas kita lestarikan!
  • WEBSMASTER.INFO
    avatar 1409
    WEBSMASTER.INFO #Jum'at, 18 Sep 2009, 20:59 WIB
    Inikan asli budaya dan adat indo ya? Sayang banget kalau budaya begini harus di kategorikan "haram"
    Haram itu kan menurut saudara-saudara dari kita yang memandang dari kacamata agama :D