Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Selasa, 19 Februari 2019, 20:12 WIB

Hewan kesenangannya sang istri terlucyu adalah kura-kura. Sejak sebelum menikah, aku sudah tahu dirinya senang kura-kura sebagaimana ia tahu diriku senang kucing.

 

Tapi, pas bulan madu di Pulau Lombok, aku baru tahu kalau rupanya sang istri juga senang kerbau (Bubalus bubalis). Dirinya sangat bersukacita saat berpapasan dengan kerumunan kerbau di jalanan.

 

wanita jalan kaki di ladang kerbau

 

Sebetulnya aku heran, kok bisa-bisanya sang istri senang kerbau? Bukankah kerbau itu mirip-mirip dengan sapi ya? Kok dirinya nggak seantusias itu jika berjumpa dengan sapi?

 

Apa mungkin sang istri senang kerbau karena populasi kerbau di desa tumpah darahnya cukup langka? Sepengamatanku, warga desa di Yogyakarta lebih lazim memelihara sapi daripada kerbau.

 

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi sepertinya ya nggak ada hubungannya, Lha wong walaupun kucing ada di mana-mana tapi aku tetap senang kucing kok.

 

barisan kerbau gembala menyeberangi jalan raya di pulau lombok

 

Jadi, dalam beberapa kesempatan sang istri sering meminta waktu untuk memfoto atau berfoto dengan kerbau. Karena kesempatan seperti ini terbilang langka, jadi ya aku izinkan saja.

 

Dalam perjalanan ke Pantai Mawi misalnya, sang istri meminta waktu untuk memotret kawanan kerbau yang sedang merumput di ladang. Oleh sebab itu, tinggallah aku sendiri menjaga tumpukan tas dan sepeda motor di pinggir jalan tanah antah-berantah.

 

Semenit, dua menit, tiga menit berlalu. Tapi, sang istri belum muncul kembali. Sempat aku lirik dari kejauhan, sang istri masih di ladang memotret-motret kerbau. Ah, kenapa memotret kerbaunya lama sekali?

 

kondisi jalan desa yang rusak di pulau lombok

 

Karena camilan roti cokelat sudah habis, aku memutuskan untuk menghampiri sang istri. Sepeda motor aku tinggalkan bersama tumpukan tas. Sepertinya di tempat antah-berantah ini nggak ada maling yang lewat.

 

Hanya dalam hitungan detik aku memotret kerbau-kerbau itu lalu kembali ke tempat sepeda motor diparkir. Sang istri memprotes karena aku mengganggunya memotret.

 

ciri khas kerbau lombok

 

Selang beberapa saat kemudian sang istri juga kembali ke tempat sepeda motor diparkir. Aku tanya ke dirinya apakah sudah mendapatkan foto kerbau yang diinginkan. Eh, jebul ternyata dia bergegas kembali karena diseru oleh seorang bapak yang sepertinya adalah pemilik kawanan kerbau.

 

Heee… jadi pengalamanlah memotret kerbau di Lombok, mengingat di pulau ini populasi kerbau melimpah ruah.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • ELISABETH MURNI
    avatar komentator ke-0
    ELISABETH MURNI #Jumat, 22 Feb 2019, 15:20 WIB
    Muahahahahaha, aku moco judule wis ngakak.
    Mbak Dwi dan Kerbau....
  • DWI SUSANTI
    avatar komentator ke-1
    DWI SUSANTI #Jumat, 22 Feb 2019, 13:22 WIB
    Request ya mas, besok ada judul postingan: Istri dan Keladi. Nanti isinya foto-foto istri
    memboyong keladi buanyakkk.

    Judul: \"Istri dan Kerbau\" itu kurang nganu :p