Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Kamis, 31 Januari 2019, 13:11 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

“Mas, pindah tempat yuk!” ajak Dwi ketika matahari mulai meninggi di Pos Mati.

 

“Mau pindah tempat ke mana?” tanyaku.

 

“Terserah pindah ke mana,” jawabnya datar.

 

Random aja ya?”

 

“Iya.”

 

 

Jadi, pada Minggu pagi (4/3/2018) yang lalu, dari Pos Mati kami berbalik menyusuri jalan aspal kecil yang sekarang berwujud turunan terjal. Setibanya di persimpangan Balai Desa Giritengah terlihat papan-papan arah yang mencantumkan nama-nama tempat nyunrise di puncak bukit.

 

“Yang kamu sudah pernah itu Punthuk Gupakan yo?” tanyaku ke sang istri.

 

“Iya,” jawabnya.

 

Punthuk Gupakan itu adalah nama lain dari Bukit Kendil. Aku sudah pernah ke sana tahun 2016 bareng Dimas. Sedangkan Dwi sudah ke sana lebih dulu sebelum aku.

 

 

“Kalau Mongkrong atau Sukmojoyo belum pernah?” aku mengamati dua nama tempat di papan yang petunjuk arahnya berlawanan dengan Punthuk Gupakan.

 

“Belum,” jawabnya.

 

“Oke.”

 

Jadilah aku melajukan sepeda motor menuju Punthuk Mongkrong dan Punthuk Sukmojoyo. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sebentar di seberang Balkondes Giritengah. Di sana Dwi memotret pendopo dan juga sungai.

 

pendopo balkondes giritengah borobudur

 

Perjalanan berlanjut melintasi jalan beraspal yang semakin lama berwujud TANJAKAN JAHANAM. Tanjakan ini berujung di suatu pertigaan yang di sana terdapat papan arah menuju Punthuk Mongkrong (arah kiri) dan Punthuk Sukmojoyo (arah kanan). Secara refleks, sepeda motor aku belokkan ke kanan menuju Punthuk Sukmojoyo.

 

Lha, namanya juga “random” kan?

 

Di tengah jalan yang masih menanjak #amit.amit.tanjakannya cabang jalan menuju Punthuk Sukmojoyo muncul "mendadak" di sisi kanan. Aku pun berbelok, berpindah menyusuri cabang jalan kecil cor semen hingga tiba di tempat pemberhentian sesuai arahan papan kayu bertuliskan “TEMPAT PARKIR”.

 

Lokasi parkir kendaraan meminjam halaman rumah warga, persis di depan tembok rumah dan di sebelah masjid. Tapi, hanya sepeda motor yang bisa diparkir di sini. Mobil harus diparkir di halaman rumah warga yang letaknya agak jauh, di dekat cabang jalan aspal. Soalnya, jalan cor semen hanya muat dilewati sepeda motor.

 

area parkir punthuk sukmojoyo borobudur

 

Di sekitar tempat parkir nggak ada manusia. Alhasil, kami pun bingung:

 

  • Apakah ada tiket masuk?
  • Apakah harus bayar parkir?
  • Dan yang terpenting, ke manakah jalan menuju Punthuk Sukmojoyo?

 

Ndilalah, saat sedang menyapukan mata mengamati kondisi sekitar, aku melihat ada penampakan di puncak bukit. Aku pun memberitahu Dwi supaya melihat pemandangan yang “menakjubkan” itu. Serta-merta, raut wajahnya berubah menjadi nggak lucyu.

 

tulisan bukit punthuk sukmojoyo dari jauh

 

Bermodal yakin, kami menapaki jalan setapak kecil yang bermula di samping warung yang tutup. Awalnya melewati pekarangan rumah warga. Lama-lama masuk-masuk hutan.

 

Banyak tanjakan menghadang di sepanjang jalan setapak. Keringat mengucur deras walau baru melangkah beberapa ratus meter. Khusus aku, derita bertambah karena kaki kananku keselo sewaktu di Pos Mati. #duh

 

Sementara itu, sang istri berjalan beberapa belas langkah di depan. Sepertinya dia kurang antusias. Alhasil, dengan niat menyemarakkan suasana, aku pun mengoceh,

 

“Gimana Wi? Minggu kemarin kan kita olahraganya bersepeda. Sekarang jalan kaki. Asyik kan jalan kaki di pedesaan kayak gini? Bisa lihat kehidupan warga. Masih alami juga suasananya.”

 

cewek memakai jilbab berjalan kaki melewati semak dan hutan

 

Eh, yang ada ocehanku ditanggapi dingin! Dwi melangkah tanpa banyak bicara. Sebagai pasangan hidup yang mulai ngeh dengan pola emosi sang istri, ini pertanda bahwa aku harus lebih “berhati-hati” alias lebih banyak mingkem.

 

“Aku nggak menikmati jalan kaki yang suasananya kayak gini Mas,” katanya.

 

“Lha kenapa? Kalau misal jalan kaki masuk hutan nyari curug gimana?” tanyaku balik.

 

“Kalau jalan kaki nyari curug beda!” tegasnya.

 

“Lebih enak ke Panguk Kediwung, jalan kakinya dekat sama parkiran,” tambahnya.

 

Weh! Sepertinya, sang istri masih belum bisa move-on dari tempat nyunrise di Bantul nih.

 

cewek memakai jilbab berjalan kaki masuk hutan ke punthuk sukmojoyo

 

Berdasarkan hasil analisa kilat, aku prediksi mood-nya Dwi sedang jelek. Dirinya capek berjalan kaki plus kelaparan.

 

Yaaa... namanya juga di hutan. Kalau di sini ada warung bisa dibilang suatu keajaiban. Nyesel juga sih, kenapa di rumah tadi nggak bawa bekal roti tawar.

 

Untung di sepanjang jalan setapak terdapat banyak tempat istirahat. Walaupun ya wujudnya hanya sekadar gubuk berbangku bambu. Tulisan “POS 1” terpajang di gubuk pertama yang kami jumpai.

 

“Istirahat dulu Wi di sana,” kataku.

 

Dwi menurut. Ia lalu duduk di bangku bambu.

 

Mengikuti sang istri, aku pun ikut duduk di sebelahnya. Kusodorkan botol minum pink berisi air putih dari dalam tas. Ia meneguknya perlahan. Selesai minum, ia berujar.

 

“Bangkunya rapuh.”

 

Eh betul! Beberapa saat setelah dirinya ngomong begitu, bangku bambunya mendadak ambruk! #hadeh

 

Hmmm, apa hari ini ada kualat aku sama istri ya?

 

cewek duduk di pos satu punthuk sukmojoyo borobudur

 

Adegan jalan kaki nanjak menembus hutan berlanjut seusai kami “meremukkan” bangku di gubuk Pos 1 . Kami sempat melewati reruntuhan bangunan bambu yang aku duga adalah bekas gubuk Pos 2.

 

Tiba-tiba, Dwi yang dari tadi berjalan pelan mempercepat langkahnya. Ia pun berteriak,

 

“ADA CACING!”

 

Beh! Cacing yang dimaksud Dwi nggak lain adalah lintah. Ukurannya lebih panjang dari siput tak bercangkang mungil yang biasa merayap masuk ke kamar saat hujan. Tapi sayang, lintah yang panjang ini sudah meregang nyawa. Semoga bukan karena diinjak oleh sang istri.

 

Dwi yang berlari ketakutan akhirnya berhenti kelelahan. Ia pun duduk di gubuk Pos 3. Setelah beristirahat sebentar kami pun lanjut berjalan kaki lagi.

 

Semakin lama, tulisan “SUKMOJOYO HILL” terlihat semakin besar dan dekat. Melihat penampakan itu, Dwi berinisiatif mencari jalan pintas menuju ke sana. Tapi, aku larang! Bisa-bisa yang ada malah nyasar.

 

tulisan besar punthuk sukmojoyo borobudur

 

Selang beberapa saat, jalan setapak berakhir di tempat yang membuat Dwi jengkel. Tepat di depan mata terbentang jalan tanah lebar. Di jalan itu berseliweran sepeda motor. Nggak jauh dari situ juga ada parkiran sepeda motor bagi pengunjung Punthuk Sukmojoyo.

 

“Kok ada jalan buat sepeda motor? Kenapa tadi nggak lewat sini dan parkir di sana?” tanya sang istri sewot.

 

Mene ketehe, batinku. Kan dari simpang Balai Desa Giritengah aku cuma ngikutin papan-papan petunjuk ke Punthuk Sukmojoyo yang berujung di tempat parkir sebelah masjid.

 

Yaaa, mana aku tahu kalau ada parkiran sepeda motor yang posisinya lebih ke atas lagi? Lha kalau mau ke sini lewat cabang jalan mana saja aku juga nggak tahu.

 

cewek jilbab pakai rok mendaki tebing punthuk sukmojoyo

 

Di tengah kondisi yang menggiring aku ke dalam takdir “cowok selalu salah”, datanglah pencerahan dari seorang bapak yang sedang menenteng jerigen. Beliau bilang, jalan tanah yang lebar itu adalah jalan mengelilingi dusun. Mbuh dusun apa.

 

Rupa-rupanya pula, sang bapak penenteng jerigen ini adalah penjaga pos tiket masuk Punthuk Sukmojoyo. Kami berdua pun ditariki tiket masuk seharga Rp5.000 per orang.

 

Setelah menerima uang, sang bapak lalu berlari kencang. Ia berlari balik menanjak jalan setapak yang tadi dilalunyai. Jerigen yang dibawanya ditinggalkan begitu saja tanpa ba-bi-bu. #he

 

Hooo, rupanya si bapak bergegas masuk ke pos tiket. Dari dalam bilik pos beliau menyerahkan dua lembar tiket kepada kami.

 

pos tiket punthuk sukmojoyo giritengah

 

Mumpung ada bapak penjaga pos tiket, Dwi yang sedari tadi kelaparan akhirnya menggali informasi tentang keberadaan warung. Sang bapak menyarankan untuk menghampiri rumah yang terletak di dekat pos tiket. Kebetulan, ibu pemilik rumah sedang berada di halaman.

 

Eeeh... sayangnya keberuntungan belum berpihak kepada sang istri. Ibu pemilik rumah bilang bahwa pagi itu ia baru bisa menyediakan minum. Alhasil, Dwi terancam mesti menahan lapar lagi untuk beberapa jam ke depan. #sabar.ya

 

Dengan langkah gontai, Dwi pun duduk di bangku di samping warung yang tutup. Ia menyuruh aku untuk terlebih dulu naik ke puncak Punthuk Sukmojoyo. Sepertinya ia sedang berusaha menata hatinya yang kecewa.

 

Oleh sebab berusaha menjadi suami yang baik #hoeks, aku pun memilih menemani Dwi duduk. Ada baiknya aku tetap berada di samping istri yang kecapekan demi menghindari terjadinya hal-hal runyam yang nggak diinginkan.

 

Lagipula aku sudah membuang semua ekspektasi agenda nyunrise hari ini. Mau cerah, mau berkabut, mau mendung, atau mau balik mundur ya nggak masalah buatku.

 

gapura masuk punthuk sukmojoyo borobudur

cewek memakai jilbab di panggung perahu punthuk sukmojoyo borobudur

 

Walaupun dengan berkali-kali beristirahat, Alhamdulillah akhirnya kami sukses juga menggapai puncak Punthuk Sukmojoyo. Dwi sempat beristirahat di panggung berbentuk perahu.

 

Sama seperti tempat nyunrise kekinian yang sekarang sedang tenar, di Punthuk Sukmojoyo juga terdapat banyak panggung untuk berfoto ria. Dwi mengaku nggak tertarik berpose di bangunan berbentuk aneh seperti ini.

 

Aku sendiri malah tertarik dengan tulisan “wisata religi” yang tertera di tiket masuk. Hooo, rupanya Puntuk Sukmojoyo disebut sebagai tempat wisata religi karena di sini ADA MAKAM!

 

Weh! Baru sekali ini aku tahu ada orang yang dimakamkan di puncak bukit. Penuh perjuangan pasti buat mengusung jenazah ke mari.

 

pemandangan sisi barat dari puncak punthuk sukmojoyo borobudur

pemandangan sisi timur dari punthuk sukmojoyo borobudur

 

Yang dimakamkan di Punthuk Sukmojoyo adalah Kyai RM Muhammad Soleh. Beliau dikenal pula sebagai Ki Ageng Menoreh I.

 

Kyai RM Muhammad Soleh lahir tahun 1746 dan wafat tahun 1865. Menurut papan silsilah yang dipajang di dekat gerbang masuk makam, beliau adalah keturunan Ki Ageng Pemanahan yang juga keturunan dari Prabu Brawijaya V.

 

Makam Kyai RM Muhammad Soleh terlindungi pagar bambu dan dilengkapi gerbang yang terkunci. Sepertinya kalau mau masuk harus meminta izin juru kunci.

 

Aku nggak berani macam-macam karena di atas gerbang tertera peringatan “KUSUS PEZIARAH SELAIN PEZIARAH DILARANG MASUK RESIKO TANGGUNG SENDIRI”. Tapi, kalau sekadar memotret dari luar gerbang nggak beresiko kan?

 

papan peringatan makam keramat angker di puncak punthuk sukmojoyo

makam ki ageng menoreh di puncak punthuk sukmojoyo

 

Menyinggung tentang perkara motret-motret, menurutku Punthuk Mongkrong kurang menyajikan pemandangan yang luas. Pemandangan sawah dan gunung terhalang semak-semak dan pohon-pohon tinggi. Nggak asyik untuk memotret gunung dan sawah deh jadinya.

 

Pemandangan yang terbentang luas dan jadi obyek foto menarik di Punthuk Sukmojoyo adalah Perbukitan Menoreh. Puncak Suroloyo terlihat jelas dari sini.

 

Tapi, nggak hanya obyek-obyek di Perbukitan Menoreh saja sih. Gereja Ayam atau Gereja Merpati atau Rumah Doa Bukit Rhema juga kelihatan dari puncak Punthuk Sukmojoyo.

 

pemandangan sawah dari ketinggian puncak punthuk sukmojoyo borobudur

puncak suroloyo dari punthuk sukmojoyo borobudur

gereja ayam dari punthuk sukmojoyo borobudur

 

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Matahari semakin meninggi. Cahayanya pun menyilaukan mata.

 

Walaupun matahari sudah terang benderang, kabut di sela-sela Perbukitan Menoreh agaknya masih malas minggat. Alhasil, jadi obyek foto yang bagus deh!

 

pemandangan pedesaan tertutup kabut dari punthuk sukmojoyo borobudur

pemandangan bukit menoreh tertutup kabut dari punthuk sukmojoyo borobudur

pemandangan bukit tertutup kabut dari punthuk sukmojoyo borobudur

 

Rupanya, kabut yang terlihat masih betah menaungi Perbukitan Menoreh adalah pertanda buruk. Mendekati pukul delapan pagi, kawasan Punthuk Sukmojoyo tertutup kabut tebal! Kalau begini kondisinya, ya sudah nggak bisa motret pemandangan deh.

 

Sepertinya datangnya kabut tebal adalah pertanda bahwa kami harus segera hengkang dari Punthuk Sukmojoyo. Bakal nggak lucu kalau harus menembus kabut tebal saat menuruni bukit, kembali ke tempat sepeda motor diparkir.

 

Selama berada di Punthuk Sukmojoyo, aku perhatikan Dwi asyik memotret dari panggung segitiga. Dia juga beberapa kali meminta difoto dari sana. Aku kira karena kelaparan dia bakal bad mood selama di Punthuk Sukmojoyo. Alhamdulillah deh.

 

cewek memakai jilbab berfoto siluet di panggung bambu punthuk sukmojoyo borobudur

cewek memakai jilbab berfoto siluet kabut di punthuk sukmojoyo borobudur

 

Supaya dirinya tambah bersemangat, dalam perjalanan menuruni bukit ke tempat sepeda motor diparkir, aku bilang ke dirinya,

 

“Sabar ya Wi. Habis ini kita makan ya?”

 

“Iya. Jangan pakai mampir-mampir ya! Langsung makan. Aku laper,” jawabnya bersemangat.

 

“Aku mau makan empat soto bathok!” tambahnya.

 

Weh! Rakus juga istriku ini! Tenane dia bisa makan segitu banyaknya?


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • TURTLIX
    avatar 11680
    TURTLIX #Jum'at, 1 Feb 2019, 11:04 WIB
    ...sem kedisikan nguplek-uplek Balkondes -tepok jidat- eh...siput tak bercangkang mungil itu
    setahuku namanya -resrespo- -emoji senyum-
  • TOTOK
    avatar 11681
    TOTOK #Jum'at, 1 Feb 2019, 15:06 WIB
    Eh, jadi ingat lirik lagu, "Bahagia .... meski kini tak sebebas merpati" :)
  • RIFQY FAIZA RAHMAN
    avatar 11685
    RIFQY FAIZA RAHMAN #Rabu, 6 Feb 2019, 21:57 WIB
    Wah, Mbak Dwi iso jengkel tho? Ha-ha-ha

    Tapi kethoke keren panggone, masiyo penuh perjuangan :D