Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Senin, 27 Agustus 2018, 06:01 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Dengan semangat menggelora, Dwi menyambut kilat ajakan keluyuran hunting curug pada Sabtu pagi (6/1/2018). Tapi, masalahnya curug mana?

 

Sekian jam dan sekian puluh kilometer kemudian, pertanyaan di atas itu sama sekali belum mendapatkan jawaban. Padahal, sepeda motor sudah melenggang di jalanan aspal yang melintasi lereng Perbukitan Menoreh di perbatasan provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

 

Yang lebih sipnya lagi, kondisi pada saat itu hujan!

 

Yes!

 

HUJAN!

 

Ditambah berkabut pula!

 

JOSSS!

 

pos ronda siskamling berkabut di pinggor ruas jalan plono timur samigaluh kulon progo yogyakarta

 

Pada saat itu, pertanyaan “curug mana?” seharusnya bukanlah pertanyaan yang sulit dicari jawabannya. Di sepanjang jalan menanjak di lereng Perbukitan Menoreh bertebaran papan-papan petunjuk arah ke curug-curug. Sayangnya, entah kenapa aku nggak tergiur dengan papan-papan tersebut.

 

“Ah, curugnya sudah terlalu mainstream! Sudah banyak fotonya di Instagram.”

 

Begitulah kira-kira pikiran yang mampir di benakku. Apalagi Dwi me-request curug yang masih sepi.

 

Waduh!

 

Mana ada curug yang masih sepi hari begini?

Bukannya hampir semua curug di Perbukitan Menoreh sudah populer karena masuk Instagram ya?

 

 

Jikalau mencari curug yang masih sepi, jelas curug-curug di Kabupaten Kulon Progo dicoret dari daftar karena sudah terlalu sering masuk Instagram. Alhasil, pilihan yang tersisa adalah curug-curug di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

 

Menurutku, Purworejo adalah gudangnya curug yang masih sepi. Sebagian besar curug tersebut berada di dalam hutan. Jalan menuju ke sana pun rusak. Dua kombinasi kesulitan itu biasanya membuat orang malas untuk singgah di sana, hehehe.

 

Akan tetapi, pertanyaan “curug mana?” masih belum mendapatkan jawaban meskipun sepeda motor sudah melintasi jalanan di lereng Perbukitan Menoreh di wilayah Purworejo. Aku menawarkan opsi menyambangi curug di Desa Benowo. Sayangnya, Dwi nggak berminat karena curug itu sudah pernah dikunjungi kawan-kawan bloger Deswita.

 

Hadeh....

 

penampakan musala angker di loano purworejo

 

Berhubung hujan masih belum reda dan sungguh teramat konyol jikalau tetap menyusuri jalan aspal tanpa tahu curug yang dituju, akhirnya kami pun menepikan sepeda motor di suatu musala kecil di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami berdiskusi dengan Mbah Google guna mencari curug yang masih sepi di Purworejo.

 

Setelah sekian menit mengobrak-abrik informasi di jagat maya, Curug Tamansari pun terpilih sebagai tujuan. Selain misterius karena minimnya informasi, lokasinya yang berada di Desa Kemejing, Kecamatan Loano lumayan dekat dengan musala tempat kami berteduh.

 

Alhasil, ketika hujan tinggal menyisakan gerimis kami pun melanjutkan perjalanan menuju Desa Kemejing. Untuk menuju ke Desa Kemejing nggak begitu sulit karena di pinggir ruas jalan raya terdapat cabang jalan dengan gapura putih yang bertuliskan “North of Kemejing” seperti pada foto di bawah ini.

 

gapura desa kemejing di loano purworejo jawa tengah

 

Setelah melewati gapura “North of Kemejing”, jalan aspal berubah menjadi jalan cor semen dua lajur sebagaimana yang umum terdapat di pedesaan. Kontur jalan yang menanjak ditambah dengan licinnya jalan selepas hujan menambah sensasi berkendara menuju Curug Tamansari.

 

Sepeda motor (dan juga sepeda ) muat-muat saja lewat jalan ini. Akan tetapi, untuk mobil mungkin agak kesulitan karena lebar jalannya lumayan sempit bilamana ada dua mobil yang berpapasan.

 

Ada satu papan petunjuk arah ke Curug Tamansari terpajang di pinggir jalan. Kata warga, untuk menuju ke curug masih terus mengikuti jalan cor semen sampai ke ujungnya. Okelah kalau begitu.

 

bentuk kondisi jalan cor semen menuju ke curug tamansari di desa kemejing loano purworejo

papan arah ke tempat wisata curug tamansari di desa kemejing loano purworejo

 

Jebul ternyata, jalan cor semen berujung di rumah warga! Weh! Di mana curugnya kalau begitu?

 

Untungnya, di rumah warga yang sedang dibangun itu ada sejumlah bapak tukang yang sedang bekerja. Salah seorang dari mereka menunjukkan arah ke Curug Tamansari, yaitu dengan berjalan kaki mengikuti jalan setapak yang berada di samping rumah.

 

Kata si bapak tukang, jalan setapak ini bakal berujung di suatu rumah warga. Di belakang rumah warga itu ada jalan setapak ke Curug Tamansari.

 

Holadala. Jadi, ceritanya ini lewat halaman rumah warga untuk ke curug.

 

halaman depan rumah di desa kemejing loano purworejo

jalan setapak tanah menuju ke curug tamansari di desa kemejing loano purworejo

 

Di tengah perjalanan, jalan setapak yang kami lewati mendadak berubah wujud. Bukan berubah wujud jadi jelek, melainkan jadi bagus! Jalan yang semula beralaskan tanah kini disemen. Ada pula anak tangga, jembatan, dan gubuk.

 

Hooo, jadi rupanya ini sudah masuk kawasan wisata Curug Tamansari toh? Ternyata lingkungannya sudah ditata apik. Tapi, belum ada tiket masuknya, hehehe.

 

jalan setapak semen menuju ke curug tamansari di desa kemejing loano purworejo

jembatan kuning di kawasan wisata curug tamansari kemejing loano purworejo

 

Dari atas jembatan, keberadaan Curug Tamansari sudah terlihat. Hooo, rupanya Curug Tamansari itu tergolong curug yang tinggi. Di dasarnya nggak ada kolam, jadinya nggak cocok dipakai untuk berenang.  

 

Eh, sepertinya mandi di bawah Curug Tamansari oke juga lho. Seakan mandi di bawah pancuran raksasa, hehehe.

 

gubuk istirahat di kawasan wisata curug tamansari desa kemejing loano purworejo

pesona keindahan curug tamansari yang masih sepi tidak banyak orang tahu di desa kemejing loano purworejo

 

Walaupun curugnya sepi (pengunjung pada saat itu hanya kami berdua thok), tapi menurut seleraku curugnya kurang fotogenik. Mungkin karena debit airnya masih sedikit pada Januari 2018 ini. Pada puncak musim penghujan, ketika debit airnya maksimal, mungkin wujudnya bakal lebih mempesona.

 

Nggak puas dengan penampakan Curug Tamansari, aku mengajak Dwi untuk menyusuri jalan setapak yang sepertinya masih berlanjut. Ternyata, jalan setapak ini mengarah ke kawasan hutan. Nggak jauh dari ujung jalan setapak terdapat bangunan toilet dan saluran irigasi.

 

wanita sedang naik tangga di kawasan wisata curug tamansari desa kemejing loano purworejo

selokan saluran irigasi di kawasan wisata curug tamansari desa kemejing loano purworejo

 

Aku penasaran dengan saluran irigasi. Samar-samar aku “mencium” adanya sesuatu yang “menarik” apabila menyusuri asal aliran air saluran irigasi. Jadi, aku dan Dwi pun ganti berjalan kaki menyusuri saluran irigasi.

 

Belum sampai lima menit berjalan kaki, aku mendengar “irama” yang menggugah rasa penasaran. “Irama” tersebut terdengar dari sungai yang mengalir di bawah lembah.

 

Ndilalah, nggak jauh dari posisiku berdiri, aku melihat ada jalan setapak untuk turun ke tepian sungai. Aku ajak Dwi untuk menuruni jalan yang agak kurang manusiawi itu yang pada akhirnya mengantarkan kami kepada pemandangan yang mempesona ini.

 

air terjun tersembunyi di desa kemejing loano purworejo jawa tengah

 

Subhanallah!

 

Luar biasa!

 

Ada curug lain di tengah aliran sungai!

 

Jika dibandingkan dengan Curug Tamansari, curug yang berada di tengah sungai ini jelas kalah tinggi. Paling tingginya hanya sekitar tiga meter. Akan tetapi, bentuk curug yang fotogenik dan lingkungan di sekitarnya yang lapang nan asri membuat curug ini sangat-sangat nikmat bagi kami berdua, hahaha.

 

Inilah curug sepi yang diidam-idamkan oleh Dwi. Senang rasanya melihat sang istri bersuka cita menyaksikan karya Gusti Allah SWT yang spektakuler ini.

 

cewek duduk di dekat air terjun rahasia yang indah di desa kemejing loano purworejo

 

Eh ternyata, selain di sekitar kedung curug, masih ada spot foto yang bagus lagi lho! Spot foto ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki menuruni bebatuan mengikuti arah aliran air sungai.

 

Karena air sungainya deras dan batu-batunya licin, jadi ya WAJIB BERHATI-HATI MELANGKAH! Di sekitar nggak ada orang, jadi repot semisal butuh bantuan.

 

cewek duduk di pinggir sungai dekat air terjun yang masih sepi di desa kemejing loano purworejo

 

Sekitar pukul setengah dua belas siang kami pun meninggalkan Curug Tamansari. Selama hampir 2,5 jam di lokasi, pengunjung Curug Tamansari hanya kami thok! Sepertinya, curug ini memang belum dikenal banyak pelancong.

 

Jadi, kalau ingin mencari curug di Purworejo yang sepi dan fotogenik untuk pemotretan model atau pre-wedding, Curug Tamansari bisa dipilih sebagai jawaban. Yah, semoga saja tempat ini tetap terawat dan asri di masa mendatang.

 

sepasang cowok dan cewek pacaran di air terjun sepi di desa kemejing loano purworejo

 

Habis ini ke curug mana lagi ya?


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • DWI SUSANTI
    avatar 11530
    DWI SUSANTI #Senin, 27 Ags 2018, 13:11 WIB
    Kok aku nggak bisa nulis sedetail ini ya? ahaha
    Aku mau ke yang sepi-sepi begini lagi. :))
    Tulisanmu mendayu-dayu masalah e. :D

    Haisy... ke curug pas hari kerja ya sepi...
  • BERBAGIFUN.COM
    avatar 11533
    BERBAGIFUN.COM #Selasa, 28 Ags 2018, 08:04 WIB
    Wuah Purworejo lagi...

    Aku merasa butiran debu nih, enggak pernah explore kota sendiri, heuheuheu.
    Lha ini bukan di kota, tapi di Loano, wekekeke. :D
  • ANNO
    avatar 11536
    ANNO #Kamis, 30 Ags 2018, 07:04 WIB
    Sebenare menarik air terjune... tapi kok debit airnya dikit pas Januari.. doh

    Apa harus pertengahan musim hujan seperti Maret?
    Ho oh, coba dateng pas puncak musim hujan atau sehabis hujan kemudian lihat perbedaannya. :D
  • ZAM
    avatar 11538
    ZAM #Jum'at, 31 Ags 2018, 21:21 WIB
    Membayangkan bojomu lungguh suwe gitu sementara kowe motret pake slow speed...
    Lha, bojoku sing njaluk difoto. Aku sih gur bengak-bengok ngarahke pose tur ngenteni shutter. Bojoku sing teles, hahaha. :D