Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Rabu, 25 Juli 2018, 03:00 WIB

“Wuih gerejanya besaaar!” kata si istri takjub.

 

“Itu di depannya juga ada patung Yesus besar juga lho,” kata si suami sambil memarkirkan sepeda motor.

 

Kemudian pasangan suami istri itu masuk ke dalam Food Court Diponegoro. Lokasinya persis di seberang gereja. Food court ini minim pengunjung. Akan tetapi, ibu dan mbak yang jualan memasaknya lama mirip gerak-geriknya putri Solo.

 

“Mas kamu di sini ya!”

 

“Ya.”

 

Si suami menjawab singkat karena dia kepedasan menyantap pengganjal perut sepotong bakwan goreng yang berkawan cabai rawit. Sokor!

 

Selang beberapa teguk es teh tawar yang sama sekali nggak mengenyahkan pedas di lidah, si suami mulai menyapukan pandangan mencari keberadaan si istri. Hooo, rupanya si istri sedang memotret gereja dari depan food court toh.

 

sejarah gereja katolik santo paulus miki salatiga

 

Perut kenyang. Obat 12 jam pun sudah diminum. Kini saatnya hengkang ke Ramayana guna membeli celana panjang baru pengganti korban di Grojogan Kali Babon.

 

Jadi, setelah mengambil uang di ATM Bank Mandiri, dilanjut berbalik arah menyusuri Jl. Diponegoro ke arah Ramayana. Pas sedang asyik-asyiknya menikmati jalan yang lurus dan sepi, eh tiba-tiba si istri menyeru,

 

“Mas! Mas! Aku pingin motret rumah tua yang itu!”

 

Si istri pun menunjuk rumah tua bercat putih di seberang jalan.

 

“Ya, akunya nunggu parkir di sini, kamunya nyeberang jalan motret ya?” jawab si suami.

 

“Tapi kamu parkirnya ini di trotoar Mas.” Si istri mengingatkan.

 

sejarah jalan jenderal sudirman salatiga

 

Karena nggak mau berurusan dengan polisi, jadilah si suami memundurkan sepeda motor dari trotoar di depan Bank Maybank hingga nyaris menyetuh garis putih pembatas jalan raya. Sementara itu, si istri memotret rumah tua dari trotoar di sisi seberang jalan.

 

Ketika si istri sedang asyik motret, dari sisi barat trotoar mendekatlah seorang bapak sepuh pejalan kaki. Si istri dan si bapak kemudian berbincang singkat. Si istri terlihat tertawa, sedangkan di seberang jalan si suami menduga-duga apa yang mereka obrolkan.

 

“Tadi bapaknya nanya, ‘Motret-motret mbak?’. Aku jawab, ‘iya Pak’” Si istri bercerita momen barusan di atas jok sepeda motor.

 

“Terus si bapaknya nanya lagi, ‘Kenapa kok rumahnya dipotret?’. Aku jawab, ‘Karena bagus Pak.’”

 

“Itu rumah kakak saya Mbak,” kata si bapak kepada si istri sebelum mereka berpisah.

 

“Lha, kok nggak minta kenalan sama kakaknya si bapak? Siapa tau jadi bisa masuk rumah buat motret-motret isinya?” tanya si suami memprovokasi.

 

sejarah rumah belanda tua salatiga

 

Selesai membeli celana panjang dan cuci mata di Ramayana, jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Duh, belum salat Asar!

 

Terbesit ide numpang salat di Masjid Raya. Jadi, dari Ramayana langsung meluncur ke Lapangan Pancasila alias alun-alun. Tapi kok ya bingung parkir jamaah masjidnya di mana. Jadilah tawaf keliling alun-alun lagi dua kali.

 

“Mas! Mas! Itu gerejanya bagus!” seru si istri dari jok belakang.

 

“Mau berhenti motret?” tanya si suami sambil tetap mengemudikan sepeda motor.

 

“Nggg…,” sang istri berpikir beberapa jeda. “Nggak deh, di depannya ada bapak-bapak.”

 

“Lho? Emang kenapa? Kalau mau motret ya motret aja dari luar,” bujuk si suami.

 

“Nggak deh Mas,” jawab sang istri.

 

sejarah gereja kristen jawa sidomukti salatiga

 

Karena si istri berkata demikian, maka si suami pun meluncur menuju SPBU. Selesai menge-jog tangki sepeda motor dengan si biru Pertalite, si istri berkata lagi,

 

“Di Salatiga ini banyak gerejanya ya Mas? Nanti, kalau ada gereja yang bangunannya bagus lagi, berhenti ya! Aku mau motret.”

 

“Lha, gereja yang tadi?” tanya si suami.

 

“Ah, nggak ah, di depan gerejanya dijaga bapak-bapak,” kata si istri sungkan.

 

“Ya kamu motretnya dari seberang jalan aja! Gini lho,” kata si suami menyusun rencana. “Kan di seberangnya gereja itu ada Indomaret. Nah, nanti aku parkir di Indomaret, beli air minum. Kamunya sambil nunggu aku motret gerejanya dari seberang jalan, gimana?”

 

“Iya Mas.”

 

sejarah gereja pantekosta isa almasih indonesia efata salatiga

 

Si suami lalu memarkirkan sepeda motor di depan Indomaret. Sementara si suami membeli air minum dan pesanan camilan "kriuk-kriuk" yang asin, si istri motret gereja dari depan toko Rodalink.

 

Selesai beli air minum dan salah beli camilan “kriuk-kriuk” yang semestinya banyak micin-nya #doh perjalanan berlanjut mencari tempat salat. Karena waktu sudah semakin sore jadi ya diputuskan salat di kamar hotel sajalah.

 

Maka dari itu, tawaf alun-alun sekali lagi . Lewat gereja tua lagi deh.

 

“Mas aku mau motret gereja itu,” kata si istri lagi.

 

Yo wis, aku tak berhenti, kamu sana masuk motret,” kata si suami.

 

“Tapi boleh motret nggak ya Mas?” si istri ragu-ragu.

 

“Ya kamu tanyalah ke satpamnya, boleh nggak motret,” kata si suami menatap pos jaga satpam.

 

Si istri pun menghampiri pos satpam. Tapi, ternyata terkunci nggak ada orang.

 

“Nggak ada satpamnya Mas,” lapor si istri.

 

“Ya sudah motret saja dari luar sini.”

 

sejarah gereja kristen jawa tengah utara salatiga

 

“Itu rumah mau motret nggak? Mumpung lewat lagi ini?” tawar si suami yang merasa sudah dua kali melewati rumah tua berhalaman luas di seberang alun-alun.

 

Si istri kemudian turun dari sepeda motor. Tanpa malu-malu dan takut-takut dia masuk ke halaman rumah! WEH!

 

Selain si istri ada juga bapak tukang becak yang menggiring becaknya masuk ke halaman rumah. Sekadar info, pas malam hari lewat depan rumah tua ini lagi ternyata lampu-lampunya menyala kuning! Berpenghuni toh rupanya.

 

“Kamu kok nggak motret Mas?” tanya si istri saat naik lagi ke jok sepeda motor.

 

“Nggak, aku terima jadi foto-fotonya istri buat aku pajang di blog. Awas aja kalau jelek!” jawab si suami.

 

sejarah rumah tua dekat alun-alun salatiga

 

Semoga kunjungan pasangan suami istri muda yang doyan keluyuran ke Kota Salatiga pada hari Minggu (22/4/2018) silam itu bukanlah kunjungan yang pertama sekaligus terakhir.

 

Semoga besok-besok bisa mengunjungi Kota Salatiga lagi dan jalan-jalan sambil motret-motret dan menjelajahi bangunan-bangunan tua zaman Belanda. Toh, pertama kalinya ke Kota Salatiga hanya beberapa jam sudah merasa hapal jalan.

 

Sebagaimana yang dikatakan oleh si istri, Kota Salatiga adalah kota yang nyaman untuk ditinggali. Kota Salatiga punya nuansa khas. Nggak terlalu ramai dan juga nggak terlalu sepi.

 

Salah satu hal yang membuat si suami senang dengan Kota Salatiga adalah keterangan di tempat-tempat makan ditulis dengan tegas BABI, bukan B2 seperti di Jogja.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • DWI SUSANTI
    avatar 11507
    DWI SUSANTI #Rabu, 25 Jul 2018, 16:21 WIB
    Aku merasa tersanjung lho hasil jepretanku dipajang di sini hahahaha. Suami cuma bisa duduk di jok motor sambil sedikit memprovokasi, terimaabersess

    Kapan lagi kalau ke Salatiga yang agak jauh dari Alun-alun lah, biar semakin luas menghafal jalan sana. :)
    Hahaha, mau turun dari motor buat motret kok ya males. Mending nyuruh istri aja yang lagi semangat buat motret. :D

    Menghapal jalan? Yakin? Yang ada kan seringnya masih bingung walaupun sudah lewat jalan itu 3 kali. :p
  • DJANGKI
    avatar 11508
    DJANGKI #Kamis, 26 Jul 2018, 11:47 WIB
    Wah, selamat menempuh hidup baru ya Mas. )
    Hihihi, matur nuwun Kang. :D
  • CAPUNGMERAH
    avatar 11510
    CAPUNGMERAH #Jum'at, 27 Jul 2018, 15:00 WIB
    Jepretannya bagus... fokus pada rumah tuanya...jika dirawat bagus ini untuk kenangan zaman Belanda dulu...
    Rumah-rumah tua seperti ini memang sewajibnya dirawat karena pasti punya nilai sejarah yang tinggi.