Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Selasa, 6 Februari 2018, 10:00 WIB

Etika Berwisata Peninggalan Bersejarah

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak peninggalan bersejarah! Kalau bisa batasi kontak fisik ke benda tersebut!
  3. Baca informasi sejarahnya. Kalau perlu difoto dan dibaca lagi di rumah.
  4. Patuhi peraturan yang berlaku!
  5. Jaga sikap dan sopan-santun!
  6. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  7. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

“Ya Allah!” aku menyeru di dalam hati.

 

“Kenapa pagi ini Kota Batu hawanya sejuk, tapi pagi-pagi belakangan hawa Kota Jogja sumuknya bukan main?”

 

Jika dibandingkan dengan hawa Kota Jogja pada bulan April 2017, hawa Kota Batu pada pagi itu jelas sangat jauuuuuuuuh lebih sejuk. Apa mungkin karena sudah mau memasuki pergantian musim dari penghujan ke kemarau ya jadinya hawa Kota Jogja terasa sumuk pas pagi hari?

 

Yang jelas, seruan di dalam hatiku itu mungkin lebih tepat disebut sebagai ungkapan rasa syukur daripada penyesalan. Soalnya, sejuknya hawa pagi Kota Batu sukses bikin aku berlama-lama menikmati empuknya kasur dari balik tebalnya selimut hotel. Apalagi aku dapat jatah satu kamar besar untuk dihuni seorang diri!

 

Ah, rasanya sungguh nikmat bilamana hari Minggu pagi (16/4/2017) ini dihabiskan saja buat tidur-tiduran sambil ngenet di dalam kamar hotel sampai waktu check-out tiba, hihihi. #nikmat.banget

 

 

Akan tetapi, saat aku sedang terbuai melenakan diri di atas ranjang tiba-tiba terdengar bunyi ketokan dari balik pintu kamar. Aku yang semalam tidur ditemani bunyi-bunyi ketokan nggak jelas pun menjadi waspada. Nggak seberapa lama, bunyi ketokan itu beralih rupa menjadi suara.

 

“Mas, kamu sudah bangun?”

“Sudah sarapan?

“Dapat kupon?”

 

 

Oh, rupanya itu suara Bapak yang senantiasa menaruh perhatian kepada anak sulungnya. Untunglah bukan suara-suara aneh yang semalam… ah mbuhlah.

 

Dari dalam kamar yang masih terkunci aku bilang ke Bapak kalau aku nggak dapat kupon sarapan. Biar nanti aku berburu sarapan sendiri di luar hotel. Bapak mengiyakan lalu pergi meninggalkan pintu sambil sedikit mengeluhkan perlakuan manajemen hotel.

 

Dengan sinyal internet Wi-Fi dua strip yang disediakan hotel, aku pun mencari info tempat menarik yang berprospek untuk disambangi. Hasil googling-googling menunjukkan bahwa ternyata Songgoriti hanya berjarak 3 km dari hotel. Di sana ada situs purbakala dan juga pasar sebagai tempat sarapan.

 

Wah cocok ini! Yuk capcus jalan kaki pagi ke Songgoriti!

 

Jalan Kaki Menyusuri Trotoar ke Songgoriti

Sekitar pukul setengah delapan pagi aku keluar hotel dan memulai aktivitas jalan kaki pagi menuju kawasan wisata Songgoriti. Sejuknya hawa pagi Kota Batu, hangatnya pancaran matahari pagi, dan langit biru cerah adalah perpaduan klop sebagai teman berjalan kaki.

 

Jalan Panglima Sudirman adalah jalan raya yang terbentang tepat di muka hotel. Menurut petunjuk dari Google Maps aku harus menyusuri Jalan Panglima Sudirman sampai bertemu dengan Jalan Trunojoyo. Selanjutnya, menyusuri Jalan Trunojoyo lalu mengambil cabang jalan ke Jalan Songgoriti.

 

Gampang toh?

 

 

Sebelum memulai perjalanan aku sempat mampir sebentar di halaman Kantor Walikota Batu. Jaraknya hanya beberapa puluh meter dari hotel. Aku penasaran karena dari kejauhan aku lihat di sana ramai orang.

 

Oh, ternyata di sana ada air mancur menari seperti yang beberapa bulan lalu aku jumpai di Surabaya. Jelas, karena hari Minggu pagi jadinya banyak anak-anak yang bermain di air mancur. Di sana juga banyak penjual jajanan. Makin siplah halaman Kantor Walikota Batu sebagai tempat nongkrong warga di kala pagi.

 

foto air mancur di halaman kantor walikota batu pada April 2017

 

Dari halaman Kantor Walikota Batu aku pun memulai perjalanan menyusuri Jalan Panglima Sudirman. Sebagaimana jalan-jalan di kota-kota di Indonesia yang mengusung nama Pak Sudirman, Jalan Panglima Sudirman ini lumayan lebar. Mungkin juga karena dekat dengan Kantor Walikota Batu, jadinya trotoar di sepanjang Jalan Panglima Sudirman ini lebar dan bagus.

 

Perjalananku menyusuri Jalan Panglima Sudirman hanya sebentar. Begitu tiba di perempatan besar aku berpindah menyusuri Jalan Trunojoyo. Di sini aku dibuat terkesima oleh banyaknya rumah-rumah antik di kanan-kiri jalan. Boleh jadi ini rumah-rumah bergaya indis yang didirikan pada kurun tahun 1940 akhir.

 

Hmmm, apa mungkin pada zaman dulu kawasan ini adalah tempat peristirahatannya orang-orang Belanda ya?

 

Eh, mohon maaf kalau salah menyebut perihal bangunan indis. Soalnya, pengetahuanku tentang bangunan-bangunan kuno masih seuprit.

 

foto trotoar bagus jalan panglima sudirman di kota batu pada April 2017

foto rumah tua gaya indis di kota batu pada April 2017

 

Sayangnya, nuansa jadul di kawasan rumah-rumah antik tersebut terusik dengan adanya proyek pembangunan kondotel.

 

Yah, semoga saja di masa mendatang pemilik rumah-rumah antik tersebut nggak tergiur menjual rumah mereka ke investor untuk kemudian digusur dan dijadikan gedung bertingkat semacam hotel dan sebagainya.

 

foto proyek pembangunan hotel kondotel di jalan trunojoyo kota batu pada April 2017

foto rumah tua peninggalan belanda yang terancam pembangunan hotel di kota batu pada April 2017

foto jendela antik rumah tua di jalan trunojoyo kota batu pada April 2017

 

Oh iya! Perjalanan menyusuri Jalan Trunojoyo ini juga sedikit terganggu dengan kondisi trotoar yang mengenaskan. Padahal ya suasananya sudah enak untuk jalan-jalan pagi tapi kok ya terganggu sama trotoarnya.

 

Semoga Pemerintah Kota Batu segera membenahi trotoar guna memberikan kenyamanan bagi para pejalan kaki. Khususnya bagi para wisatawan yang ingin menikmati Kota Batu dengan berjalan kaki atau naik angkot.

 

foto trotoar rusak trunojoyo di kota batu pada April 2017

foto trotoar tertutup pasir di jalan trunojoyo kota batu pada April 2017

 

Pemandangan Menawan di Jalan Songgoriti

Semakin aku menyusuri Jalan Trunojoyo, tantangan berjalan kaki menjadi semakin “menantang”.

 

Trotoar yang lebar (walaupun kondisinya kurang baik ) pelan-pelan semakin menyempit dan pada akhirnya menghilang.

 

Medan jalan yang sedari tadi sudah menanjak, kini menjadi semakin tambah menanjak. Bahkan di pinggir jalan berdiri rambu peringatan jalan menanjak yang senantiasa menguji kesabaran para pesepeda.

 

Eh, bicara tentang pesepeda, pas berjalan kaki menyusuri ruas jalan yang menanjak ini aku sempat berpapasan dengan beberapa pesepeda. Walaupun medan jalannya menanjak, jika ada sepeda aku lebih memilih bersepeda lewat sini deh daripada berjalan kaki, hahaha.
 

foto rambu tanjakan di jalan trunojoyo kota batu pada April 2017

 

Sekitar lima belas menit menyusuri Jalan Trunojoyo aku tiba di muka pertigaan Jalan Songgoriti. Letaknya persis di sebelah SPBU. Di muka jalan berdiri gapura yang bertuliskan Kawasan Wisata Songgoriti.

 

Di bawah gapura aku lihat ada banyak orang yang berkerumun dan juga sepeda motor yang terparkir. Pikirku mungkin mereka itu tukang ojek. Karena aku berjalan kaki, aku kira mereka bakal memberondong dengan tawaran ngojek. Akan tetapi, ternyata nggak! Hahaha.

 

foto suasana jalan songgoriti di kota batu pada April 2017

 

Dibanding Jalan Trunojoyo, berjalan kaki menyusuri Jalan Songgoriti terasa lebih menyenangkan. Mungkin karena kondisi jalan yang sepi kendaraan. Ditambah lagi di pinggir-pinggir jalan banyak pohon sehingga suasananya rindang.

 

Tapi ya harus diakui juga sih kalau kondisi jalur pedestrian di Jalan Songgoriti ini nggak sebagus yang tadi aku lewati di Jalan Panglima Sudirman.

 

Salah satu hal yang membuatku senang saat menyusuri Jalan Songgoriti adalah karena banyaknya spot foto menarik di pinggir jalan. Jadi, dari pinggir jalan kita bisa menyaksikan lanskap lembah pedesaan berlatar bukit dan hutan gitu. Apalagi langitnya pas banget biru cerah. Bagus banget kan?

 

foto vila beratap merah berlatar bukit dikelilingi hutan di kota batu pada April 2017

foto pemukiman desa lembah tebing di kota batu pada April 2017

foto vila terbengkalai dikelilingi hutan di kota batu pada April 2017

 

Akan tetapi, pemandangan yang seperti itu jadi bikin aku mikir dan bertanya-tanya. Zaman dulu (pas zaman penjajahan misalnya ) mungkin pemandangannya masih didominasi hijaunya hutan. Kalau sekarang pada tahun 2017, terlihat banyak rumah yang “tumbuh” di tengah hutan.

 

Nah, satu, dua, lima, atau sepuluh tahun lagi, kira-kira sebanyak apa ya rumah yang bakal “tumbuh” di sana? Apakah bakal muncul masa di mana pemandangan yang seperti foto di atas itu full bangunan semua sampai ke hutan-hutannya?

 

Salah satu faktor yang memicu pertanyaan di otakku itu adalah karena rumah-rumah di sepanjang Jalan Songgoriti umumnya adalah vila-vila yang disewakan kepada wisatawan. Selain vila ada juga hotel. Alhasil, di mataku Jalan Songgoriti ini nggak ada bedanya dengan kawasan vila-vila Kaliurang-nya Jogja.

 

Yah, mari berdoa semoga geliat pariwisata di kawasan Songgoriti ini nggak memicu tumbuhnya banyak vila dan apalagi hotel sebagaimana yang dialami Kota Jogja tercinta. Aamiin.

 

foto rumah-rumah yang disewakan jadi vila di jalan songgoriti kota batu pada April 2017

foto iklan sewa vila jalan songgoriti di kota batu pada April 2017

 

Masih Sempat Nyasar di Songgoriti

Perjalanan menyusuri Jalan Songgoriti akhirnya berujung di Pasar Songgoriti. Sebelum sarapan aku berniat menyambangi Candi Songgoriti terlebih dahulu. Akan tetapi, mungkin karena aku belum sarapan jadinya indera percandianku kurang berfungsi dengan baik. Aku sempat nyasar masuk kolam renang Songgoriti, hahaha.

 

Untuk masuk kolam renang Songgoriti pengunjung dikenai karcis. Tapi pada waktu itu aku mbuh kenapa bisa melenggang masuk ke kawasan kolam renang tanpa karcis. Tapi aku kan juga nggak mau berenang ini. Niatnya mencari candi yang ada malah nyasar. Kalau harus beli karcis ya rugi toh? Hahaha.

 

foto pasar wisata songgoriti di kota batu pada April 2017

 

Aku juga baru tahu ternyata kalau kawasan wisata Songgoriti itu punya kawasan kolam air panas dan kolam air dingin. Jebul ya ada toh orang-orang yang sudi berenang di kolam air dingin walaupun hawa Kota Batu kan dingiiiin. Pikirku, yang laku di Kota Batu cuma kolam air panas thok, hehehe.

 

Akan tetapi, secara umum kawasan kolam air dingin dan kolam air panas di Songgoriti ini patut untuk disambangi. Apalagi jika datang bersama keluarga dan anak kecil.

 

foto kolam renang anak songgoriti di kota batu pada April 2017

foto kolam renang dewasa songgoriti di kota batu pada April 2017

 

Oh iya! Di dalam kawasan kolam air dingin terdapat suatu telaga bernama Tirta Nirwana yang sedikit “aneh”. Aku bilang aneh karena di tengah telaga berdiri patung rombongannya Sun Wukong di atas kura-kura besar yang melakukan perjalanan ke barat mencari kitab suci. Sedangkan di pinggir telaga berdiri patung brontosaurus yang berniat meminum air telaga.

 

Blas nggak nyambung banget kan? Apa hubungannya coba tokoh mitologi sama dinosaurus? Makanya aku bilang aneh, hahaha.

 

foto telaga tirta nirwana songgoriti di kota batu pada April 2017

 

Setelah nyasar-nyasar di kolam renang Songgoriti, akhirnya aku sampai juga di Candi Songgoriti. Menurut Pak Soekmono dalam bukunya Candi, Fungsi, dan Pengertiannya, candi berlatar Hindu ini dahulunya adalah suatu petirtaan (sumber air). Dari candi ini mengalir keluar air panas yang kemudian ditampung di suatu kolam penampungan.

 

Cerita lengkap tentang Candi Songgoriti sudah pernah aku tulis dan bisa Pembaca simak lagi di artikel di bawah ini.

 

tampak depan reruntuhan candi songgoriti di kota batu yang sebagian besar dindingnya sudah lenyap

 

 

Selesai menyambangi Candi Songgoriti, saatnya aku mencari sarapan. Aku pun bergegas menyambangi Pasar Songgoriti untuk mencari tahu apakah gerangan sarapan yang tersedia di sana.

 

Ternyata oh ternyata, Pasar Songgoriti itu bukan seperti pasar sebagaimana umumnya pasar yang aku kira! Pasar Songgoriti itu masuk kategori pasar wisata. Bisa dibilang Pasar Songgoriti itu ibarat tempat ngumpulnya beragam kios oleh-oleh di kawasan Songgoriti.

 

Jadi jelas ya, kalau mau beli ikan pindang buat makanan para pasukan berkumis bukan di sini tempatnya! #eh

 

foto wisatawan membeli stroberi di pasar songgoriti kota batu pada April 2017

foto kios oleh-oleh di pasar songgoriti kota batu pada April 2017

foto kios jeruk pasar songgoriti di kota batu pada April 2017

foto kelinci di dalam kandang pasar songgoriti kota batu pada April 2017

 

Aku akhirnya melabuhkan perut di warung sederhana yang terletak di perempatan Pasar Songgoriti. Seporsi soto menjadi sarapanku pada pagi yang melelahkan itu.

 

Selayaknya soto-soto aliran Jawa Timur-an, semangkuk soto dengan suwiran ayam, potongan telur rebus, serta taburan bubuk koya hadir di hadapanku. Rasa sotonya cukup lezat. Kuah soto yang hangat menyegarkan keletihan seusai berjalan kaki sejauh hampir 4 km.

 

Eh, itu baru jalan kaki perginya lho! Semoga saja “bensin” soto seharga Rp12.000 ini cukup untuk menggerakkan kakiku pulang menuju hotel, hahaha.

 

foto soto enak pasar songgoriti di kota batu pada April 2017

 

Adegan Tegang Sepulang dari Songgoriti

Sebetulnya tersedia pilihan yang lebih nyaman untuk pulang dari Pasar Songgoriti, yaitu dengan naik angkot. Di dekat Pasar Songgoriti ini ada terminal angkot-angkot berwarna hijau.

 

Hal yang perlu diperhatikan dari angkot hijau Kota Batu ini adalah adanya perbedaan trayek yang ditandai dengan kode A dan B. Angkot hijau kode A melewati Jalan Suropati dan Jalan Hasanuddin. Sedangkan angkot hijau kode B melewati Jalan Panglima Diponegoro.

 

Aku sendiri memilih kembali pulang berjalan kaki ke hotel. Aku masih ingin menikmati keindahan panorama bukit-bukit yang mengelilingi Kota Batu lebih lama.

 

foto rumah belanda jalan trunojoyo di kota batu pada April 2017

 

Ndilalahnya, perjalanan pulang ke hotel malah lebih tegang daripada perjalanan perginya.

 

Pada saat aku memotret rumah tua dari pinggir Jalan Trunojoyo seperti di atas itu, seorang bapak pengendara sepeda motor tiba-tiba menyapa dan memberikan informasi,

 

“Mas, di sana ada penangkapan polisi!”

 

Aku yang kurang paham dengan maksud si bapak awalnya menduga bahwa di ruas Jalan Trunojoyo ini sedang ada razia polisi. Akan tetapi dugaanku itu meleset karena mendadak ruas Jalan Trunojoyo menjadi ramai dengan bunyi sirene mobil polisi, rentetan tembakan, dan benturan benda keras.

 

Bersama dengan kerumunan warga yang berada di pinggir jalan, aku pun menghampiri sumber keramaian. Rupanya di ruas Jalan Trunojoyo sedang ada aksi kejar-kejaran polisi. Kejadiannya berlangsung sangat singkat dan benar-benar seperti sedang menonton film aksi secara langsung.

 

Ada truk besar yang diberhentikan paksa oleh polisi di tengah Jalan Trunojoyo. Kaca depan truk tersebut pecah akibat tembakan pistol. Sopir truk diseret keluar dan dimasukkan ke dalam mobil polisi. Selanjutnya, dua orang anggota polisi mengambil alih kemudi truk dan berlalu meninggalkan lokasi.

 

Menurut desas-desus yang aku peroleh dari sejumlah warga di pinggir jalan, ada yang bilang sopir truk itu teroris yang melarikan diri. Ada juga yang bilang kalau sopir adalah pelaku tabrak lari.

 

Apapun itu, kejadian penangkapan polisi itu membuat jalan-jalan pagiku ke Songgoriti ini menjadi lebih berwarna. Alhamdulillah, aku tiba kembali di hotel dengan selamat. Sungguh menyenangkan dan menegangkan sekali jalan-jalan pagi di Kota Batu pada hari Minggu ini.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!