Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Rabu, 29 Maret 2017, 10:10 WIB

Pada Minggu siang itu (12/3/2017) aku sedang ada di Surabaya. Aku baru saja menempuh perjalanan yang agak panjang dari Kota Gresik naik Selita si sepeda lipat kuning.

 

Cuaca di Surabaya maupun di Gresik pada siang hari itu lumayan panas. Walaupun panas tapi ya awan mendung sesekali masih berkenan menutupi mentari. Lumayan lah jadi sedikit teduh. Kan ya bersepedanya jadi nggak terlampau bikin haus toh? Hehehe.

 

Pelan tapi pasti, di langit gumpalan-gumpalan awan pekat mulai membentuk formasi. Dugaanku, sebentar lagi hujan bakal turun. Jadi ya aku nggak bisa berlama-lama buat berhenti istirahat di sepanjang jalan. Semoga juga baut cranck nggak kendor lagi.

 

Pokoknya ya kayuh pedal terus sampai jantung Kota Surabaya! #semangat

 

patok kilometer 8 jalan raya surabaya gresik di kawasan genting kalianak

 

Aku sampai di jantung Kota Surabaya sekitar pukul setengah 2 siang. Kereta api Sancaka yang jadi tumpanganku buat pulang ke Yogyakarta baru berangkat pukul setengah 6 sore. Jadi, aku masih punya waktu sekitar 4 jam untuk mengeksplorasi Surabaya.

 

Tapi ya ke mana ya?

 

 

Bilamana mengikuti kata perut hati, yang terngiang-ngiang adalah,

 

CARI YANG SEGER-SEGER

 

 

Request yang seperti di atas itu aku terjemahkan sebagai:

 

  1. Es campur,
  2. Es buah,
  3. Es cao,
  4. dan kawan-kawan es lain.

 

Seingatku sih, pas bersepeda ke arah Jalan Gresik tadi pagi aku lihat ada banyak bakul es yang jentrek-jentrek di pinggir jalan. Tapi sayang, aku lupa nama jalannya itu apa. Dan lagi, bersepeda mengarungi jalanan Kota Surabaya dengan hanya bermodalkan rasa percaya diri yang kelewat tinggi, ujung-ujungnya kok ya malah NYASAR? Duh!

 

 

Karena nggak menjumpai adanya satu pun bakul es di sepanjang Jalan Perak Timur, jadi aku memutuskan buat putar balik ke selatan. Sampai akhirnya, di suatu jalan aku melihat papan hijau Dishubkominfo yang menunjukkan arah ke Balai Kota.

 

“Nyoba mampir ke Balai Kota ah. Siapa tahu di sana ada yang jual es.”, aku membatin

 

Tapi sebetulnya, niatku mampir Balai Kota Surabaya juga sekaligus untuk iseng-iseng memuaskan rasa penasaran,

 

“Kantornya Bu Risma kayak apa sih bentuknya?”

 

 

tampak muka balai kota Surabaya dengan air mancur sepi di hari minggu

 

Sekitar pukul 2 siang aku sampai di Balai Kota Surabaya. Sayang, pintu gerbangnya dikunci (Ya iyalah! Namanya juga hari Minggu! ). Jadinya aku hanya bisa mengabadikan foto kantornya Bu Risma di atas dari celah gerbang menggunakan lensa di panjang fokal 35 mm.

 

Walaupun begitu, agaknya Balai Kota Surabaya berhasil memuaskan raungan perut hati mencari yang seger-seger. Di sekitaran Balai Kota Surabaya memang nggak ada satu pun bakul es. Tapi di sana ada banyak bangku untuk bersantai dan juga AIR MANCUR!

 

Sebagai penghuni Kota Jogja yang minim air mancur, ini itu ibarat ketemu sendang, hahaha. 

 

sepeda lipat kuning di depan air mancur di luar gerbang balai kota Surabaya

 

Dengan mengabaikan rasa malu yang juga sudah sering terabaikan #eh, aku pun mendekat ke air mancur. Aku “mencoba peruntungan” membasuh muka dengan air mancur yang ternyata susahnya setengah mati #lebay. Soalnya, air mancurnya itu memancurnya pindah-pindah. Kan repot.

 

Tapi, setelah berhasil membasuh muka pakai air mancur, kok ya di mulut airnya berasa kaporit ya? Hahaha.

 

Selesai membasuh muka aku kemudian duduk di salah satu bangku. Aku meminum satu dari dua air minum kemasan gelas plastik yang tadi dari Gresik dibekalkan Pak Afin, ayahnya Mas Cumilebay. Pada akhirnya, nggak ada es campur, air putih biasa pun jadi.

 

logo nama balai kota Surabaya menghadap jalan yos sudarso

 

Sambil minum dan mengistirahatkan kaki, aku memperhatikan suasana di luar gerbang Balai Kota Surabaya. Selain aku, ada banyak anak-anak yang menikmati air mancur. Dari tingkah polah, sahut-sahutan, dan rengekan nggak mau pulang, mereka nampak asyik bermain dengan air yang silih berganti menyembur.

 

Aku perhatikan, semakin siang semakin banyak warga Surabaya yang menghampiri air mancur. Warga yang datang dengan berjalan kaki maupun yang cenglu [1] cengmpat [2] naik sepeda motor kian menjadi pemandangan umum.

 

Sama-sama anak-anak. Sama-sama ditemani orangtuanya. Sama-sama membawa bungkusan plastik yang sepertinya adalah pakaian ganti.

 

[1] bonceng telu: bonceng tiga orang naik sepeda motor

[2] bonceng papat: bonceng empat orang naik sepeda motor

 

 

Aku membatin, “Ternyata, air mancur bisa mendatangkan kebahagiaan”

 

Sepanjang perjalananku nyasar-nyasar di Surabaya, aku perhatikan Kota Surabaya ini memang punya banyak air mancur. Entah itu lokasinya di taman ataupun di tengah jalan. Ini menurutku merupakan suatu langkah yang berani karena air mancur itu kan “identik” sebagai tempat mandinya para tuna wisma. Ya toh?

 

Di Kota Jogja saja air mancur yang di dekat Taman Parkir Abu Bakar Ali itu dikerangkeng supaya nggak dijamah sembarang orang. Adapun air mancur di perempatan nol kilometer sudah digusur lama sebelum aku lahir.

 

Oh, Jogja... Jogja....

 

anak-anak bermain air mancur di depan balai kota Surabaya

 

Tapi, di siang hari itu ada satu pemandangan yang bikin aku merenung agak lama. Pemandangan yang nggak ada hubungannya sama air mancur.

 

 

Jadi, pas aku sedang duduk-duduk di bangku itu datanglah satu keluarga bapak ibu dua anak cengmpat [2] naik sepeda motor. Mereka juga membawa bungkusan plastik.

 

Awalnya, aku pikir pasangan suami istri tersebut hendak menemani kedua anak mereka main air di air mancur. Akan tetapi, mereka malah duduk di trotoar. Kemudian mereka mengeluarkan bungkusan makanan dari dalam plastik dan menyantapnya.

 

 

Satu keluarga tersebut terlihat seperti sedang piknik.

 

Ya, piknik. Tanpa alas duduk. Tanpa keranjang piknik. Tanpa peduli bahwa lokasinya “hanya” di depan Balai Kota Surabaya yang tidak berumput hijau layaknya karpet serta tidak dinaungi pohon-pohon rindang.

 

foto keluarga piknik makan bekal rujak cingur duduk di trotoar depan balai kota Surabaya

 

Tanpa peduli dengan orang-orang yang berlalu-lalang mereka nggak terganggu menyantap bungkusan yang ternyata berisi ... rujak cingur! #sempat.ngintip .

 

Ah, kalau menyinggung rujak cingur aku jadi ingat Ibu yang pas beberapa waktu yang lalu ke Jogja sempat membeli rujak cingur tanpa cingur.

 

Anyway, Ibu memang punya selera yang “unik” perkara makanan. Seperti halnya rujak cingur tanpa cingur, sesuai pakem yang dianut Ibu muncul pula mie ayam tanpa ayam dan es campur tanpa es.

 

 

Pemandangan keluarga yang sedang piknik, rujak cingur, dan sosok Ibu bikin aku merenung,

 

“Kapan ya terakhir kali kami sekeluarga makan bareng?”

 

Jawabannya adalah di bulan November 2016 saat Tiwul pulang ke nusantara dan singgah di Jogja. Itu pun hanya satu kali dari sekian hari yang kami lalui bersama. Selebihnya, kami tinggal terpencar dengan kegiatan masing-masing.

 

 

Dan aku jadi mikir lagi. Surabaya itu kan punya banyak mall dan punya banyak rumah makan. Tentu di sana itu kan tempat yang lebih layak untuk bersantap dibanding trotoar di depan Balai Kota Surabaya. Ya toh?

 

Seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan liar pun mulai bermunculan menjejelali kepalaku. Hanya pertanyaan yang cenderung sensitif tanpa ada tendensi untuk menjustifikasi maupun mencari pembenaran.

 

Apa pun itu, aku melihat pemandangan keluarga yang sedang piknik di trotoar ini sebagai suatu bentuk kerekatan keluarga, kebersamaan keluarga, keharmonisan keluarga, dan apa punlah itu yang menujukkan bahwa keutuhan keluarga merupakan suatu nikmat yang tidak tergantikan.

 

 

Ada kebahagiaan di depan Balai Kota Surabaya pada Minggu siang itu.

Adalah suatu hal yang bahagia bisa bersantap bersama satu keluarga.

Adalah suatu hal yang bahagia bisa bermain air di air mancur.

Adalah suatu hal yang bahagia untuk hal-hal yang sederhana.

 

Kalau masih ada yang bertanya,

 

"Buat apa sih membangun taman atau ruang terbuka publik?"

 

Artikel ini setidaknya bisa menjadi jawabannya.

 

 

Sepertinya aku harus segera meluncur ke Taman Bungkul mencari warung nasi rawon. Aku lapar dan juga pingin ngendog. #ah.sudahlah


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • WISNU
    avatar 10721
    WISNU #Rabu, 29 Mar 2017, 11:44 WIB
    Sebagai Arek Suroboyo, terima kasih atas kunjungannya dan ulasan ttg kotaku. Jangan
    kapok untuk berkunjung lagi lain waktu. Coba bulan Mei waktu Surabaya merayakan
    HUTnya.
  • WIN
    avatar 10724
    WIN #Rabu, 29 Mar 2017, 20:22 WIB
    Segerrr
  • JOHANES
    avatar 10725
    JOHANES #Jum'at, 31 Mar 2017, 04:48 WIB
    Ah, saya jd ternyenyuh mas wis,
    ternyata piknik keluarga tak harus
    jauh2 ato harus ke tempat wisata. Bagi
    keluarga mereka, trotoar balai kota pun
    bs mendatangkan kebahagiaan bagi
    keluarga tsb. :)
  • DANNY
    avatar 10733
    DANNY #Selasa, 4 Apr 2017, 14:07 WIB
    Ini ceritanya hbs ngelayat Mas Toro di Gresik
    ta mas?
    Iya ini, Nyepeda PP Surabaya - Gresik
  • BERSAPEDAHAN
    avatar 10746
    BERSAPEDAHAN #Rabu, 5 Apr 2017, 17:10 WIB
    bahagia itu sederhana ya ... ada di sekeliling kita ...
    kita aja yang suka bikin ribet .. dan jadi malah susah dan ga hepi ... :D
  • RETNO
    avatar 10749
    RETNO #Kamis, 6 Apr 2017, 18:00 WIB
    bahagia itu sederhana....
    aku termasuk golongan penggemar rujak cingur tanpa cingur ,tapi tidak anti cingur hihihihi
  • SUMBERCENEL
    avatar 10797
    SUMBERCENEL #Rabu, 26 Apr 2017, 09:29 WIB
    Hidup sederhana itu lebih nyaman dan bisa di nikmati kak.
  • NOFANTORO
    avatar 10832
    NOFANTORO #Sabtu, 6 Mei 2017, 22:41 WIB
    Benar juga sih, adanya taman-taman di dalam kota, dapat menetralisir polusi yang timbul
    karena asap kendaraan bermotor ataupun debu