Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Senin, 17 Oktober 2016, 05:01 WIB

Sore hari itu, di dermaga Tanjung Buton aku senyum-senyum sendiri. Aku mbatin, kok ya sudi sekali aku keluyuran sampai ke Pulau Lingga? Mana sendirian pula!? Kalau orang-orang tahu, bisa-bisa mereka bakal bilang ini kelakuannya orang kurang kerjaan! Gyahahaha.

 

Kalau boleh jujur, aku bisa sampai ke Pulau Lingga ini tanpa persiapan matang lho! #jangan.ditiru

 

Aku sebatas tahu caranya ke Pulau Lingga dari Pulau Bintan. Selain itu, aku sama sekali nggak ngerti bagaimana kondisi di Pulau Lingga. Baik itu perkara transportasi, akomodasi, dan tempat-tempat wisata menarik selain Air Terjun Resun. #misi.utama

 

Pulau Lingga di Kepulauan Riau...

Buat Pembaca yang belum tahu. Pulau Lingga itu letaknya di wilayah selatan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau Lingga masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lingga. Ibukota Kabupaten Lingga adalah  Kota Daik dan terletak di pulau ini.

 

Walau tanpa persiapan matang, aku tetap berani keluyuran ke Pulau Lingga dengan bekal keyakinan,

 

“Pokoknya Bismillah saja! Selama niatnya baik, InsyaAllah Gusti Allah SWT ngasih jalan.”

 

Keyakinan itulah yang sampai sejauh ini mengantarkanku dengan selamat ke Pulau Lingga. Dan memang, di sepanjang perjalanan dari Jogja ke Kepulauan Riau, aku banyak berjumpa dengan orang-orang baik yang mengulurkan bantuan. Suatu hal yang sungguh nggak aku sangka-sangka dan amat sangat aku syukuri karena membuat perjalananku lebih berwarna.

 

 

Demikian pula saat di Pulau Lingga ini. Gusti Allah SWT sepertinya nggak rela aku blusukan seorang diri di tempat yang asing. Pertolongan-Nya itu pun hadir dengan segera di dermaga Tanjung Buton. Sesaat ketika melangkah menjauhi dermaga, aku mendengar seseorang memanggil-manggil seraya menarik tas backpack-ku.

 

“Bang! Bang!”, ujar seseorang di belakang

 

Aku pun memalingkan wajah ke arah sumber suara. Oh, rupanya itu si Een! Dirinya ini pemuda yang duduk di bangku sebelah saat kami menumpang kapal ferry dari Pulau Bintan ke Pulau Lingga.

 

“Ini kawanku Bang! Besok kalau mau keliling-keliling Lingga biar ditemani dia Bang!”, tawar Een sambil memperkenalkan kawan yang menjemputnya di pelabuhan

 

“Mawan”, pemuda di samping Een itu memperkenalkan diri sambil menjabat tanganku

 

Foto sosok pemuda ramah dari Daik, Pulau Lingga di Kepulauan Riau bernama Mawan asal Desa Resun
Mawan, kawan baru di Pulau Lingga.

 

Di kapal ferry tadi, aku dan Een sempat ngobrol-ngobrol. Aku yang buta perihal seluk-beluk Pulau Lingga lantas mendapat tawaran dari Een. Dirinya menawarkan bantuan kawannya untuk menemaniku menjelajah Pulau Lingga.

 

Pikirku sih ya kenapa nggak? Een sendiri nggak bisa menemani karena esok hari dia ada keperluan. Jadilah kawannya yang bernama Mawan ini yang dipasrahi tugas.

 

Kebetulan bangetnya, Een dan Mawan ini sama-sama berasal dari Desa Resun, tempat di mana Air Terjun Resun yang menjadi tujuan utamaku berada! Alhamdulillah! Ternyata di Pulau Lingga sekalipun Gusti Allah SWT mboten sare!

 

Foto air terjun Resun primadona obyek wisata andalan Daik Pulau Lingga di Kepulauan Riau
Artikel tentang Air Terjun Resun terbitnya masih laamaaaaa.

 

Usai kami bertiga ngobrol-ngobrol, rencana pun disusun. Besok pagi, Mawan bakal menjemput aku di penginapan untuk berkeliling-keliling Pulau Lingga sekaligus ke Air Terjun Resun.

 

Een dan Mawan pun kemudian pulang ke desa mereka. Sedangkan aku naik ojek ke penginapan di Kota Daik. Tarif ojek dari Pelabuhan Tanjung Buton ke Kota Daik itu Rp20.000 dengan jarak tempuh sekitar 6 km.

 

Sesampainya di Kota Daik aku sempat keliling-keliling melihat suasana kota. Ceritaku pas keliling-keliling Kota Daik bisa Pembaca simak pada artikel di bawah ini.

 

 

Istana Peninggalan Kesultanan Melayu

Hari Sabtu (30/4/2016) pukul 8 pagi, Mawan dengan sepeda motornya menjemput aku di penginapan. Sebelum keluyuran di Pulau Lingga, aku mengajak Mawan sarapan dulu. Maklum, penginapan tempatku menginap kan yang kelas murah-meriah. Jadinya ya tanpa free breakfast.

 

Mawan mengajak sarapan bubur kepurun yang merupakan kuliner khas Pulau Lingga. Tapi sayang, warungnya tutup! Jadinya ya sarapan lontong sayur saja di warung di dekat sana.

 

Wujud lontong sayurnya nggak jauh beda dengan yang biasa aku santap di Jogja. Jadi ya nggak aku foto deh, hehehe . Seporsi lontong sayur dengan segelas teh manis panas dihargai Rp14.000. Ya lumayan mahal. Namanya juga di pulau.

 

cerita jalan-jalan itenary keliling mengunjungi obyek wisata menarik di Pulau Lingga di Kepulauan Riau pada tahun 2016
Siap keliling Lingga!

 

Usai sarapan, Mawan pun mengajak aku menuju ke salah satu tempat bersejarah di Lingga, yakni Istana Damnah.

 

Apa itu Istana Damnah?

 

Jadi ceritanya begini. Dahulu kala, Pulau Lingga ini merupakan pusat Kerajaan Melayu. Namanya adalah Kesultanan Lingga (1824 – 1911). Wilayah kekuasan Kesultanan Lingga meliputi Kepulauan Riau dan Johor (di Malaysia). Bahkan, menurut Tuhfat al-Nafis, Sultan Lingga merupakan pewaris dari Sultan Johor lho!

 

Nah, Istana Damnah ini adalah istananya Kesultanan Lingga. Istana Damnah dibangun pada tahun 1860 oleh Yang Dipertuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi. Beliau mendirikan Istana Damnah sebagai kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II. Sebelumnya, Sultan Lingga tinggal di Istana Kota Baru. Selain Istana Damnah adapula istana lain yakni Istana Kedaton dan Istana Kenanga.

 

Bedanya Sultan dan Raja Muda...

Sri Paduka Yang Dipertuan Muda atau Raja Muda adalah gelar yang diberikan oleh Kesultanan Lingga. Gelar ini semula diberikan oleh Raja Sulaiman (Sultan Johor) kepada orang Bugis yang telah membantu mengalahkan Raja Kecil (Raja Pagaruyung).

 

Nama Istana Damnah itu berasal dari bahasa Melayu lama, yaitu “dam” dan “nah”. Kata “dam” artinya jauh. Sedangkan “nah” itu penegas, misal “sulit nah!”, “berat nah!”, dsb. Jadi, Damnah itu artinya “jauh nah!” atau “jauh banget!”. Meskipun ya sebetulnya sih nggak jauh-jauh banget. Sekitar 4 km lah kalau dari Kota Daik.

 

tempat parkir kendaraan di zaman dahulu di bekas lokasi Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Area parkir yang resmi. Tapi kami nggak parkir di sini.

 

bangunan serambi depan yang besar peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Serambi yang lumayan besar.

 

Mawan pun memarkirkan sepeda motornya di jalan aspal yang berhadapan dengan bangunan Istana Damnah. Oh iya, letak istana ini agak masuk gitu dari jalan raya. Jadi ya semacam kompleks gitu lah. Untuk masuk ke Istana Damnah nggak ditarik retribusi. Eh, jangankan retribusi, lha wong petugas yang jaga juga nggak kelihatan kok.

 

Bangunan istana yang pertama kali terlihat adalah bangunan berwujud serambi seperti foto di atas itu. Bangunan ini nggak memiliki dinding akan tetapi disangga oleh tiang-tiang kayu (jadinya adem dong ). Meski demikian, pondasinya nggak terbuat dari kayu. Kayaknya sih dari batu bata dengan adonan semen.

 

Menurut sumber yang aku baca, serambi ini digunakan sebagai tempat pertemuan umum. Misalnya Sultan atau pejabat mau memberi pengumuman ke rakyatnya tempatnya ya di sini ini.

 

cerita jalan-jalan mengunjungi peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Kalau dipandu warga setempat jadi makin pede blusukan ke tempat-tempat tak berpenjaga.

 

Mawan pun mengajak aku memasuki Istana Damnah lebih dalam lagi. Sayang, Mawan sendiri kurang begitu ngeh tentang seluk-beluk Istana Damnah, jadinya ya aku nggak banyak bertanya-tanya deh.

 

Selanjutnya, bangunan kedua yang aku lihat adalah rumah panggung besar seperti foto yang di bawah ini. Sepertinya, di sinilah kediaman Sultan Lingga. Walaupun bentuknya rumah panggung, tapi pondasinya lebih kokoh karena terbuat dari adonan semen dan batu bata. Aku nggak sempat masuk, tapi sepertinya lantainya terbuat dari kayu sama seperti dindingnya.

 

Menurut sumber yang aku baca, bangunan rumah panggung ini memiliki 2 ruang pertemuan. Yang pertama adalah Balai Rong Seri sebagai tempat audiensi Sultan dengan pejabat. Yang kedua adalah Balai Titah sebagai tempat audiensi Sultan dengan tamu asing atau rakyatnya.

 

Rumah panggung dari kayu berukuran besar ini adalah kediaman Sultan Lingga dan permaisurinya di kompleks Istana Damnah Kesultanan Lingga pada tahun 2016
Rumah panggung yang ukurannya juga besar.

 

Bekas pendopo tua di lingkungan Istana Damnah Kesultanan Lingga tempat prajurit beristirahat pada tahun 2016
Bangunan semacam tratag kalau di Jogja sini.

 

Eh eh eh, intermezzo sebentar!

 

Aku itu sebetulnya ngerasa agak gimanaaa gitu sama bangunan istana yang terbuat dari kayu. Kayaknya kok kurang pantas ya kalau disebut istana, gyahahaha.

 

Bukannya kenapa-kenapa sih. Istana dalam bayanganku itu wujudnya bangunan yang kokoh. Macamnya kastil zaman pertengahan di Eropa, atau paling ya kayak istana di Jepang lah.

 

Tapi ini kan bangunannya dari kayu dan terkesan sederhana banget sebagai kediaman Sultan. Ya, pantas saja lah kalau istana-istana (keraton-keraton) di Indonesia ini yang terbuat dari kayu sebagian besar sudah musnah. Lha ya kalau dibakar atau ditembak pakai meriam lak yo gampang hancur toh?  

 

Pembaca sendiri merasa begitu juga nggak?
Kok orang kita di zaman dulu nggak kepikiran ya membuat istana yang lebih kokoh?
Mungkin Pembaca tahu jawabannya?

 

Bangsal besar dan luas peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga pada tahun 2016
Bangsal yang besar dan luas.

 

Anyway, bangunan ketiga yang aku jumpai berbentuk serupa bangsal. Eh, pengertian bangsal kalau di Jawa itu semacam balai yang luas terbuka tanpa dinding. Mirip-mirip seperti yang ada di Keraton Yogyakarta gitu.

 

Berhubung bangsal ini tanpa pintu dan dinding yang melindunginya, jadinya aku enak-enak saja masuk ke sana, hahaha (padahal sebenarnya ya ngikutin ke mana Mawan melangkah ).   

 

Lantai bangsal ini terbuat dari keramik. Termasuk wow menurutku, karena di zaman dulu lantai keramik itu kan mewah bangeeet (apalagi granit ).  

 

Tempat cuci kaki bertangga peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Aku perhatikan tempat cuci kaki ini nggak ada lubang airnya.

 

Tapi yang menurutku unik dari bangsal ini adalah adanya semacam cekungan agak dalam berbentuk persegi dan dilengkapi tangga. Jelas ini menurutku adalah tempat untuk cuci kaki! Ya seperti yang ada di masjid-masjid gitu lah. Kan banyak toh masjid yang dilengkapi dengan tempat cuci kaki ketika masuk ke area toilet atau tempat berwudhu?

 

Eh, apa mungkin bangsal ini dahulunya dipergunakan sebagai tempat salat ya? Yang jelas, keberadaan tempat cuci kaki ini menandakan adanya tempat yang suci dan bersih di Istana Damnah. Di mana, pengunjung yang memasukinya wajib “bersuci” terlebih dahulu.

 

gang kecil di Istana Damnah Kesultanan Lingga yang membatasi area bangsal dapur dan kamar mandi sultan pada tahun 2016
Di belakang bangsal ada bangunan terakhir.

 

taman kamar mandi sultan dilengkapi gazebo peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016

kisah misteri mistis keramat di kamar mandi Sultan Riau peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Bangunan apa ini? Kok wujudnya taman beratap terbuka macam ini?

 

Bangunan yang keempat dan yang terakhir di Istana Damnah hanya berjarak 2-3 langkah di belakang bangsal. Bangunan ini berdinding batu bata, beratap terbuka, dan memiliki satu pintu kayu.

 

Tanpa banyak ba-bi-bu, aku mengikuti Mawan masuk ke dalam bangunan terakhir ini. Hooooo! Rupanya di dalam bangunan ini ada semacam taman! Lengkap dengan gazebo dan batu pijakan.

 

Tapi... kok taman yang ini tertutup sih? Bukannya di sekeliling Istana Damnah sudah banyak taman ya? Buat apa ada satu taman lagi yang tertutup semacam ini?

 

Hmmm... kok ya penasaran?

 

peninggalan sejarah di Istana Damnah Kesultanan Lingga berupa kolam mandi keramik tempat Sultan dan permaisurinya mandi telanjang pada tahun 2016
Jadi Sultan dahulu kala berendamnya di sini.

 

Aku lihat itu ada semacam struktur berkeramik di dekat dinding. Karena penasaran, aku pun mendekat ke sana.

 

Oh! Rupanya ini kolam! Tapi bukan kolam ikan! Melainkan kolam buat orang berendam. Semacam bak mandi (bathtub) zaman dulu gitu. Besar kemungkinan, dahulu sang Sultan mandinya di sini.

 

Weh! Jadi ini ceritanya bukan taman dong! Melainkan kamar mandinya Sultan!?

 

Aku semakin yakin kalau bangunan ini adalah kamar mandi karena ada ruangan seukuran kamar kos-kosan mahasiswa di sebelah kolam mandi, yang isi di dalamnya seperti foto di bawah ini.

 

bekas toilet wc Sultan peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
This is sanctuary!

 

YES! I LOVE IT VERY MUCH!

 

INI TEMPAT UNTUK MENCARI INSPIRASI!

 

TEMPAT NGENDOG-NYA SULTAN!

 

Khusus untuk “kamar ritual” yang satu ini aku nggak mau cerita berpanjang lebar. Untuk lebih jelasnya, ini foto close up kloset jongkoknya Sultan.

 

wujud kloset zaman dahulu peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Satu foto ini sudah menjelaskan semua kan?

 

Sebetulnya aku ya penasaran buat “mencari inspirasi” di ruangan ini. Tapi ya sayangnya waktu itu lagi nggak kebelet ngendog.

 

Tapi ya aku masih heran.
Kok bangunan kamar mandi plus toiletnya ini TANPA ATAP ya? Lha kalau HUJAN gimana?
Ngendog-nya payungan gitu?
Njuk ceboknya gimana? Kan satu tangannya megang gagang payung?
Mosok ngendog-nya ditemani orang?
Lha terus orangnya itu yang megangin gagang payung atau malah yang nyebokin?

 

Hiiii... mbayanginnya aku malah jadi merinding sendiri...

 

Istana Damnah Versi Asli

Usai keluar dari kamar mandinya Sultan ini Mawan ujug-ujug memberikan pernyataan yang mencengangkan,

 

“Bang, ini hanya replikanya istana Sultan. Istananya yang asli sudah hancur.”

 

Heee? ...

WHAT!?

 

JADI SEMUA YANG AKU LIHAT INI BOHONGAN!?

 

TERMASUK TEMPAT NGENDOG-NYA SULTAN!?

 

 

“Weelha... terus di mana istananya yang asli?”, aku mencoba mencari tahu

“Dekat Bang, di sebelahnya sini.”, tunjuk Mawan

“Hoooo, yuk kita lihat Wan!”

 

papan nama situs peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Jadi ini Istana Damnah yang asli!?

 

sisa tanah kosong bekas peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Wew... nggak ada bangunannya sama sekali....

 

Jadi ceritanya, Istana Damnah yang asli ini memang sudah lama hancur. Yang tersisa sekarang ya hanya tinggal puing-puing dan pondasinya saja. Makanya, di atas tadi kan aku sudah bilang, bangunan dari kayu itu nggak awet.

 

Jarak Istana Damnah yang versi asli ini hanya sepelemparan batu dari Istana Damnah versi replikanya. Di tahun 2002 sampai 2003, Pemerintah Lingga membangun replika Istana Damnah. Tujuannya sebagai daya tarik pariwisata dan juga melestarikan peninggalan Kesultanan Lingga.

 

Tapi ingat! Wujud Istana Damnah versi replika ini TIDAK 100% SAMA seperti versi aslinya lho!

 

bekas tangga di rumah panggung berlantai keramik peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Bekas tangga naik ke rumah panggung.

 

bekas pondasi kaki rumah panggung peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Sepintas mirip jejeran nisan ya? Tapi ini bekas pondasi kaki rumah panggung.

 

Aku merasakan suasana yang berbeda di lokasi Istana Damnah versi asli. Sepertinya memang betul, meskipun bangunannya sudah musnah, tapi “aura”-nya masih terasa memancar. Walaupun demikian, sisa-sisa istana yang nyaris berwujud lapangan luas ini tidak memancarkan kesan suram nan angker.

 

Di lokasi kami bersua dengan seorang bapak yang sedang menyiangi rumput dengan mesin pemotong. Kami sempat berlempar sapa, kemudian si bapak kembali melanjutkan tugasnya. Boleh jadi, berkat kerja si bapak ini, sisa-sisa peninggalan Istana Damnah nggak terlantar. Paling nggak ya lumayan bersih dari lebatnya rumput liar serta ilalang.

 

wujud struktur batu bata tua puing Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Batu bata tua Istana Damnah ini terasa lebih berat dari batu bata candi.

 

cagak bendera berkarat peninggalan Belanda di bekas Istana Damnah lama Kesultanan Lingga tahun 2016
Cagak bendera yang sudah berkarat. Dahulu, mungkin bendera Belanda pernah berkibar di sini.

 

cerita sejarah bekas gapura di kawasan Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Semacam bekas gapura.

 

 

Omong-omong, tujuanku di Istana Damnah versi asli ini jelas satu!

 

MELIHAT TEMPAT NGENDOG-NYA SULTAN YANG ASLI!

 

Ternyata, tempat ngendog-nya yang asli masih utuh! Bentuknya pun serupa dengan replikanya. Demikian pula dengan kolam tempat berendam. Hanya saja, untuk kolam bentuknya sedikit berbeda.

 

situs kamar mandi tua dan bersejarah peninggalan Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Sisa-sisa kamar mandinya ternyata masih ada!

 

wujud sebenarnya kolam pemandian raja Melayu peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Bentuk kolam buat berendamnya agak sedikit beda. Nggak ada tangganya.

 

bentuk asli kloset raja di zaman dulu peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Yang jelas sih wujud klosetnya masih sama.

 

bekas mata air sumber air kamar mandi peninggalan sejarah Istana Damnah Kesultanan Lingga tahun 2016
Sumber air kamar mandi asalnya dari sini kah?

 

Di dekat bekas kamar mandi ini aku lihat ada genangan air. Entah apakah itu genangan air hujan, rawa, ataukah memang sumber mata air.

 

Terus terang aku ya bingung dengan kamar mandinya Sultan ini. Di mana sumber airnya? Seperti apa jalur pembuangan airnya? Dan yang jelas, apakah klosetnya ini pakai septitank atau nggak?

 

Kalau ada septitank, jangan-jangan bisa nemu fosil endog-nya Sultan lagi? Wakakakak .

 

Akhir Peninggalan Bersejarah

Istana Damnah merupakan salah satu tempat bersejarah di Pulau Lingga yang mengingatkan kita pada kebesaran Kesultanan Lingga. Walaupun ya sayang, nasib Istana Damnah ini tidak begitu beruntung karena hanya meninggalkan pondasi serta puingnya saja.

 

Sekadar mengulang apa yang termuat di Wikipedia, Kesultanan Lingga berakhir pada tahun 1911 setelah dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sultan Lingga terakhir, Sultan Abdul-rahman Muazzam Syah wafat pada tahun 1930 dan dimakamkan di Singapura.

 

Dari Istana Damnah, perjalanan blusukan peninggalan Kesultanan Lingga masih berlanjut....

 

Sumber pelengkap:

http://mohddwinanto.blogspot.co.id/2009/10/istana-damnah-puing-kejayaan-kesultanan.html

http://www.tanjungpinangpos.co.id/2014/106592/istana-damnah-lambang-kebesaran-riau-lingga/

http://melayuonline.com/ind/history/dig/231/istana-damnah

http://www.haluankepri.com/lingga/48033-istana-damnah-tapak-yang-tersisa.html

http://muizzuddinlingga.blogspot.co.id/2010/10/daik-lingga-sebagai-pusat-kerajaan.html


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • BERSAPEDAHAN
    avatar 10217
    BERSAPEDAHAN #Senin, 17 Okt 2016, 14:49 WIB
    untuk blusukan ke tempat2 sepi dan ga populer memang modal utamanya keyakinan ..
    hehehe .. soalya kalau ga yakin pasti sudah pasti tidak pergi.

    Di pulau Lingga banyak tempat menarik dan indah yang belum ter-explore dan populer,
    untung ada blog mbulusuk kayak begini jadi banyak tahu tempat2 "aneh" ... hehehe

    btw .. tempat "ngendog" sultan koq seperti lubang kunci ... jangan2 itu pintu untuk ke
    dunia lain .. wkwkwk
  • BEBY
    avatar 10219
    BEBY #Selasa, 18 Okt 2016, 13:00 WIB
    Baru denger nama Pulau Lingga, Bang. Itu
    bangunannya khas Jawa banget ya. Tapi kok kayak
    mistis gitu siiiik. Serem :(
  • BERBAGIFUN.COM
    avatar 10220
    BERBAGIFUN.COM #Selasa, 18 Okt 2016, 13:26 WIB
    tergelitik ama bentuk lobang ngendog
    mirip lobang kunciii

    heuheuheu
  • ASI BOOSTER
    avatar 10226
    ASI BOOSTER #Rabu, 19 Okt 2016, 07:26 WIB
    wah pulau Lingga ya, baru denger pulau ini. tapi puas banget ya bisa jalan-jalan keliling situ.
  • LONG
    avatar 10400
    LONG #Rabu, 23 Nov 2016, 15:38 WIB
    Bangsa dan negara Indonesia sudah seharusnya mencatat sejarah kesultanan lingga ini ke dalam pelajaran sejarah di sekolah2...sebab dari keberadaan kesultanan inilah lahirnya cikal bakal bahasa persatuan...Bahasa Indonesia...