Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Sabtu, 13 Agustus 2016, 17:40 WIB

Etika Berwisata Peninggalan Bersejarah

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak peninggalan bersejarah! Kalau bisa batasi kontak fisik ke benda tersebut!
  3. Baca informasi sejarahnya. Kalau perlu difoto dan dibaca lagi di rumah.
  4. Patuhi peraturan yang berlaku!
  5. Jaga sikap dan sopan-santun!
  6. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  7. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Bagiku, salah satu hal yang menarik dari Kompleks Candi Muaro Jambi adalah saat menyusuri jalan kecil yang menghubungkan antara satu candi dengan candi lainnya.

 

Bentuk jalan kecil tersebut seperti foto di bawah ini.

 

Kondisi dan suasana jalan setapak dari Candi Tinggi menuju Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015
Jalan setapak yang menghubungkan satu candi dengan candi lain.

 

Jalannya bukan jalan tanah yang berbatu-batu, melainkan sudah diperkokoh dengan semen. Alhasil, menyusurinya dengan berjalan kaki bukanlah sesuatu hal yang menyulitkan.

 

Eh, meski demikian, aku sih menyarankan untuk menyusuri jalan kecil ini dengan bersepeda saja. Sebab, jarak dari satu candi ke candi lain terpisah jarak 1 hingga 2 kilometer.

 

Nggak bisa dibilang dekat juga kan?

 

Jembatan di bekas parit buatan Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015
Jembatan yang melintasi bekas parit buatan.

 

Di zaman dahulu, saat Kompleks Candi Muaro Jambi masih difungsikan sebagaimana mestinya oleh para pendahulu kita, cara berpergian dari satu candi ke candi yang lain adalah dengan menggunakan perahu.

 

Itu karena candi-candi yang ada di Kompleks Candi Muaro Jambi ini sebetulnya berdiri di atas “pulau-pulau” yang dikelilingi oleh parit buatan. Sayangnya, sekarang ini parit-parit tersebut tak lagi berisi air. Perahu ya nggak bisa lagi lewat situ dong?

 

Papan nama tua Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015
Selamat datang di Candi Astano Muaro Jambi!

 

Salah satu candi yang masih sangat jelas terlihat berdiri di tengah pulau yang dikelilingi oleh (bekas) parit buatan adalah Candi Astano. Candi ini terletak kira-kira 1 kilometer dari Candi Tinggi. Ya dengan menyusuri jalan kecil di atas itu.

 

Katanya di dekat Candi Astano ini ada danau yang namanya Danau Kelari. Tapi, sayang aku nggak sempat untuk menginvestigasi lebih jauh.

 

 

Berdasarkan informasi yang termuat di papan keterangan candi, dilihat dari bentuk dan struktur susunan batu batanya, bangunan Candi Astano yang bisa kita saksikan saat ini merupakan hasil pengembangan dan perluasan bangunan candi.

 

Bangunan Candi Astano yang pertama kali dibangun berada di tengah. Ukurannya 6 x 13 meter dengan tinggi 3.5 meter. Bangunan pendahulu ini dibangun memanjang dari utara ke selatan.

 

Saat ini yang bisa kita lihat dari bangunan pendahulu ini adalah bagian tubuh yang “menyembul” di tengah bangunan candi.

 

Sisa penampakan bangunan pendahulu Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015
Bangunan Candi Astano yang pertama kali dibangun. Sisanya adalah perluasan bangunan awal.

 

Sedangkan bangunan perluasan Candi Astano mengapit bangunan pendahulu di sisi timur dan barat. Ukuran bangunan perluasan di sisi timur adalah 2,9 x 3,65 meter dengan tinggi 3 meter. Untuk ukuran bangunan perluasan di sisi barat adalah 8,75 x 7,85 meter dengan tinggi 3 meter.

 

Aku amati bangunan Candi Astano tidak dihiasi relief dan tidak juga memiliki lekuk sebagai tempat arca. Bahkan bangunan Candi Astano sama sekali tidak memiliki struktur tangga! Aku sih menduganya dahulu tangganya terbuat dari struktur kayu.

 

Jadi, untuk bisa naik ke bangunan candi mau tidak mau ya harus memanjat dinding candi. Berhubung aku nggak hobi manjat memanjat bangunan purbakala, alhasil ya aku nikmati saja dari bawah.

 

Tampak timur Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015

Tampak barat Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015

Tampak utara Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015
Candi Astano dilihat dari berbagai sisi.

 

Di sekitar Candi Astano tidak nampak adanya reruntuhan bangunan lain. Katanya, di lokasi ini pernah ditemukan 2 padmasana dari batu, 14 potongan arca batu, pipisan, lesung batu, manik-manik, serta keramik lokal dan asing.

 

 

Sesuai judul artikel ini, yang menyita perhatianku dari Candi Astano adalah hamparan padang bunga yang menghiasi jalan setapak menuju “gerbang” masuk candi. Lumayan indah kan?

 

Apa di zaman dahulu di sekeliling Candi Astano juga dipenuhi padang bunga seperti ini ya?

 

Candi-candi Buddha kan sering memakai relief bunga sebagai ornamennya. Apakah mungkin bunga yang sebetulnya juga menjadi penghias candi ini?

 

Hamparan padang bunga kecil berwarna kuning di dekat Candi Astano Muaro Jambi pada tahun 2015
Bunganya kuning kecil-kecil. (Entah apa nama ilmiahnya)

 

Terus terang di dalam bayanganku selama ini candi-candi ya hanya sebatas bangunan purbakala dari batu yang disusun menumpuk. Nggak ada bayangan akan bunga hidup sama sekali.

 

Sayangnya, karena ukuran bunga-bunga kuning ini mungil, alhasil lumayan sulit untuk menghasilkan foto Candi Astano yang berhiaskan hamparan padang bunga.

 

Tapi, jujur deh. Semisal Pembaca bisa membayangkan hadir di sini, duduk di dekat hamparan bunga, kemudian memandang lepas Candi Astano....

 

“Oh, ternyata ada candi yang dikelilingi oleh hamparan bunga!”

 

Sesuatu hal sederhana yang bisa membuat senyum mengembang....

 

Sumber lain:
http://aktualsdn2.blogspot.co.id/2012/08/candi-astano.html


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • HERU ARYA
    avatar 9997
    HERU ARYA #Minggu, 14 Ags 2016, 10:40 WIB
    Aku baru tau mas, ternyata ada Candi di Muaro Jambi. Ya, meskipun agak unyu-unyu,
    gitu. Tetep aja candi.

    Keknya kalo ada kesempatan, mau nyoba ke tempat ini deh. Penasaran sama candi
    unyu ini.
  • EVI
    avatar 9999
    EVI #Minggu, 14 Ags 2016, 16:29 WIB
    Berarti di sana juga ada penyewaan sepeda ya Mas?
    Memang sih kalau jauh dan agar bisa menyusul
    kompleksnya yang luas yaitu dengan naik sepeda.
    Selain bangunan candi utama Adakah candi-candi
    lain seperti candi-candi kecil yang bisa di tengok
    dengan berjalan kaki?
  • SALMAN FARIS
    avatar 10000
    SALMAN FARIS #Minggu, 14 Ags 2016, 17:40 WIB
    Pengen sekali berkunjung ke Candi Astano dan
    candi2 lain juga pengen lah dikunjungi hehehe
  • MOMTRAVELER
    avatar 10007
    MOMTRAVELER #Selasa, 16 Ags 2016, 09:15 WIB
    sayang udah tinggal sisa2nya aja ya mas. tp iya juga kayanya sore2 duduk2 di deket bunga2 tu sambil menikmati candi syahdu kayanya )
  • NBSUSANTO
    avatar 10009
    NBSUSANTO #Selasa, 16 Ags 2016, 12:04 WIB
    lah syahdu banget kalo paritnya masih berisi air, tapi tentu harus dirawat daripada koyo
    got.. mungkin nggak dialiri air demi mengantisipasi perawatan ya?

    btw dengan bentuk dan luasan wilayahnya bikin keinget candi jiwa di karawang yang
    terbentang luas bahkan jadi pulau pulau di baratnya..
  • HANIF INSANWISATA
    avatar 10026
    HANIF INSANWISATA #Senin, 22 Ags 2016, 15:06 WIB
    Eh mas. ini dimana toh? di Jambi po? aku pengen eksplor heritage gitu je. hehe
    Candinya cakep ya. kayanya dikelola cukup baik dengan penataan bungan menjadi
    pekarangannya. namun saya, generasi kita hanya tau candi sebagai tempat wisata untuk
    foto, pacaran. padahal sejarahnya itu menarik ketika diulas. BIJAKsithikwae.
    Yg jelas. ini candi untuk pemujaan. hehe