Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Kamis, 30 Juni 2016, 07:05 WIB

Menjelang pukul 8 malam, rampung sudah agenda jalan-jalan edisi hari pertama di Pulau Belitung. Kami pulang ke hotel dan akhirnya aku bisa rebahan di atas kasur, meluruskan kaki, sambil leyeh-leyeh menikmati internet Wi-Fi gratisan dari router hotel.

 

Sekadar kilas balik singkat. Sore hari tadi, kami singgah di Pantai Tanjung Pendam. Di sana, motret-motret suasana pantai sambil menunggu momen matahari terbenam. Walaupun aku nggak bisa motret slow-speed, tapi ya Alhamdulillah pemandangannya memang bagus dan langitnya cerah.

 

Malamnya, kami menutup hari dengan memuaskan perut di Rumah Makan Belitong Tempo Duluk. Serius! Ini rumah makan di Belitung yang ENAK BANGET! Wajib dijajal sewaktu Pembaca mampir ke Belitung. Kalau perlu, pas begitu sampai di Belitung langsung booking tempat!

 

 

Salah Satu Cobaan Blogger Saat Blogwalking

“Mas, kamu di Belitung ada rencana ke mana?”, tanya Bapak di sela-sela hiburanku blogwalking via Feedly dan sesekali nge-scroll-scroll foto-foto di Instagram.

 

Tanpa pikir panjang, aku pun melontarkan jawaban singkat nan sakti, yang bilamana diucapkan oleh kaum pria maknanya akan tetap tunggal. Sedangkan, apabila diucapkan oleh kaum wanita... euuh... kadang maknanya bisa multitafsir.

 

Ah, tentu Pembaca kiranya sudah paham, jawaban apa yang bakal aku lontarkan.

 

“Aku manut, Pak.” (manut bisa diartikan sebagai TERSERAH)

 

Itu pun masih aku pertegas lagi.

 

“Aku sih fleksibel. Menyesuaikan dengan agendanya Bapak sama Ibu saja.”

 

Eeh, eeh, eeh! Tunggu dulu!

Tapi kan aku masih punya “misi” yang perlu dituntaskan sebelum usiaku beranjak ke kepala 3.

 

“Kalau aku sih, yang penting ke [itu]. Yang mana saja terserah.”

 

Pembaca yang sering ngobrak-abrik isi blog Maw Mblusuk? ini mestinya sudah paham dong dengan kata [itu] yang aku sensor di atas. Ya, apa lagi kalau bukan .... (isi sendiri yah! )

 

“Lho? Yang mana? Kan di Belitung [itu]-nya banyak?”, tanya Bapak mencari kepastian

“Ya... fleksibel lah Pak, yang searah dengan tujuan, menyesuaikan saja.”, jawabku sambil tetap menyimak layar sabak digital

“Ya kamu browsing-browsing dulu. [itu]-nya mau yang mana.”

“Oke Pak!”

 

Aku sih menduga kalau Bapak sebetulnya sudah menghimpun data-data tentang [itu] yang tersebar di Pulau Belitung ini. Coba saja intip isi buku sakti milik Bapak. Pasti ada informasi tentang [itu] di sana.

 

Buku catatan perjalanan yang berisi catatan para traveller
Bapak punya kebiasaan menuliskan bermacam hal yang terkait dengan perjalanan di buku tulis semacam ini.
Pembaca yang suka jalan-jalan juga punya kebiasaan yang seperti ini kah?

 

Bukannya aku malas browsing sih. Tapi, dengan sinyal Wi-Fi yang hanya satu strip. Ditambah dengan kecepatan akses yang kayaknya hanya berkisar puluhan kilobyte per detik, mendulang informasi di blog-blog yang memajang banyak foto beresolusi tinggi yang nggak di-resize dan di-optimize itu jelas menguji kesabaran... BANGET!

 

Cara optimisasi blog untuk menurunkan request dan mengecilkan page size agar membuat pengunjung lebih nyaman
Gilak! Satu halaman terdiri dari 279 request dan size-nya 11 MB!
Salah satu tahapan optimisasi blog adalah menurunkan jumlah request dan page size.
Untuk mengetahui statistik ini bisa menggunakan piranti Developer Tools (di Chrome atau Firefox tekan F12 dan pilih tab Network).

 

Jadi, buat para blogger yang sedang membaca artikel ini aku mau berpesan. Silakan deh nge-blog sesukamu. Tapi, aku mohon nih ya,

 

TOLONG RESIZE DAN OPTIMIZE FOTO-FOTO DI BLOG-MU!

 

Kasihan para Pembaca yang nggak dianugerahi kecepatan akses internet ber-Megabyte per detik.

Kasihan juga para Pembaca yang blogwalking pakai paket kuota. #curhat #sedih

 

Lha masak aku harus kembali ke zaman purba? Di zaman di mana aku harus menonaktifkan tampilan foto-foto plus aktivasi Javascript?

 

Apa Kata Tentang Pasar?

Di tengah perjuanganku berselancar di jagat maya yang laju ombaknya sesurut laut di Pantai Tanjung Pendam sore tadi #ups, Ibu tiba-tiba ambil suara,

 

“Pak, Ibu pingin ke pasar Pak!”

 

Yup! Ibuku ini memang hobinya jalan-jalan ke pasar tradisional. Beda banget sama hobi kedua anaknya. Si anak sulung hobinya keluar-masuk hutan (buat nyari [itu]). Sedangkan si anak bungsu hobinya menyambangi toko-toko barang bekas.

 

Terakhir kali aku ikut Ibu blusukan ke pasar ya pas ke Pasar Malino tahun 2011 silam. Sedangkan pas Ibu mampir ke Pasar Buah Berastagi aku memilih tidur di mobil dan pas ke Pasar Cinde akunya malah kabur ke Museum Purbakala Sriwijaya.

 

Bukannya aku nggak senang sama pasar tradisional sih. Toh, hampir setiap minggu aku selalu keluar-masuk Pasar Kranggan di Jogja buat nyetok persediaan tempe, tahu, wortel, brokoli, labu siam, sawi, bumbu dapur, dan ikan-ikan pindang-nya para pasukan berkumis.

 

Eh iya, aku itu hampir setiap hari selalu masak makanan sendiri. Supaya ngirit dan sekaligus menjaga kesehatan.

 

Hanya saja, aku kalau ke pasar nggak seantusias emak-emak yang hobinya belanja dan cuci mata, hahaha . Kalau aku masuk pasar ya pasti ada tujuannya. Beli ini. Beli itu. Setelah semua masuk kantong plastik ya langsung cap-cus.

 

Tapi, sekali lagi, meskipun ada hadits Rasulullah SAW yang translasinya menyatakan,

 

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim)

 

Aku sama sekali nggak menghindari pasar. Bukankah pasar adalah tempat perdagangan? Plus, ada juga riwayat hadits yang menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki itu ada dalam perdagangan?

 

Eh, meskipun ya hadits pintu rezeki di atas sebenarnya masih diperdebatkan sahih atau tidaknya. Tapi, aku malah ikut kepikiran. Kalau begitu, rezeki-nya programmer ada di pintu sebelah mana ya? Hahaha.

 

Ah, sudahlah nggak usah dibahas panjang masalah hadits ini. Kok ya aku iseng banget ini menyertakan hadits di artikel kali ini. Jarang-jarang lho!

 

Pasar di Tanjung Pandan itu Pasar yang Mana?

Kembali lagi ke request dari ibunda tercinta. Bapak pun menimpali.

 

“Kapan ya? Setelah gerhana gimana?”

“Besok saja Pak, sekalian jalan-jalan pagi.”, tawar Ibu

“Nanti dulu! Pasarnya jauh nggak dari hotel?”, Bapak ragu-ragu

 

Wajar sih Bapak ragu. Soalnya kami kan belum ada 24 jam singgah di Belitung. Masih awam dengan daerah sekitar. Apalagi, tadi Bang Yudhis, sopir mobil sewaan, sempat bilang kalau di Belitung ini nggak ada angkutan umum. Kalau mesti jalan kaki jauh ke pasar ya... gimana ya?

 

“Mas, tolong googling pasar yang dekat dari hotel ada di mana Mas.”, perintah Bapak

 

Kok ya ndilalah untuk request Bapak kali ini, akses internet Wi-Fi hotel berkenan diajak kerjasama. Padahal, beberapa menit yang lalu blogwalking saja lamanya bukan main. Apa mungkin tamu di kamar sebelah lagi istirahat streaming-an video? Apa jangan-jangan barusan ada yang lagi nge-torrent? Ah, tauk deh!

 

Langsung saja aku buka aplikasi Google Maps, yang mana aku percaya lebih butuh sedikit koneksi ketimbang bertanya ke aplikasi Google Search. Lagipula, kan nanti diberi panduan arah serta estimasi jarak dan waktu tempuh. Enak toh?

 

Peta letak lokasi pasar di Kota Tanjung Pandan dan Belitung di halaman Google Maps
Di sekitar Kota Tanjung Pandan ada banyak pasar ternyata. Wew....

 

Pas aku mengetik kata “pasar”, muncullah banyak pilihan lokasi. Aku jadi bingung.

 

“Pasar yang mana? Di Tanjung Pandan ada banyak pasar. Ada Pasar Daging, Pasar Pagi, Pasar Baru. Yang mana?”

“Yang pasar tradisional.”, balas Ibu

 

Aku susuri lagi nama-nama pasar di daftar sugesti. Ternyata, ada yang namanya Pasar Tradisional.

 

“Pasar Tradisional yang dekat sama Pasar Daging?”

“Ya, yang itu.”, jawab Ibu (yang aku rasa sekenanya )

“Kalau dari Hotel Meigah ini ke Pasar Daging jaraknya ada sekitar 3 km.”

“Tiga kilometer? Jauhnya seberapa itu?”

“Nggg, 3 kilometer itu kira-kira dari kampus FMIPA Utara (UGM) ke rumah.”

 

Pengalaman masa muda itu. Zaman belum ada TransJogja. Aku sering jalan kaki dari kampus ke rumah. Niatnya sih ngirit ongkos Kopata sama Kobutri. Maklum, namanya juga mahasiswa kere.

 

“Kalau dari rumah ke alun-alun utara itu berapa kilo?”, Bapak ganti bertanya

“Sekitar 2 kilometer-an Pak.”

“Oh ya, berarti lumayan dekat.”

 

Jadi, diputuskanlah agenda besok pagi adalah jalan-jalan pagi ke Pasar Daging (atau Pasar Tradisional) di Kota Tanjung Pandan. Rencananya, Bapak sudah meminta agar sopir mobil sewaan nanti menjemput kami di sekitar pasar. Itu karena Bang Yudhis esok hari berhalangan dan mengalihkan tanggung-jawabnya pada juru mudi baru. 

 

Semoga saja rencananya berjalan mulus ya. Aamiin...

 

Jalan Kaki Sampai ke Pusatnya Tanjung Pandan

Hari Selasa (7/3/2016), pukul 7 pagi kurang sedikit, kami sudah siap untuk mengeksplorasi Belitung di hari kedua yang diawali dari... ruang makan hotel! Gyahahaha .

 

Sebelum jalan kaki jauh, jelas butuh asupan tenaga dong! Berhubung masih pagi, jadinya ruang makan hotel masih sepi. Menunya prasmanan dengan pilihan lauk oseng kentang buncis dan telur pindang. Lumayan lah sesekali sarapan tanpa tempe goreng. #menu.sehari.hari

 

Sarapan menu tradisional di hotel khas tanjung pandan, Belitung
Kalau Tiwul lihat pasti dibilang aneh. Kentang kok dimakan sama nasi? Kan sama-sama karbohidrat?

 

Pukul 7 lebih sedikit, kami bertiga mulai menjejakkan kaki di aspal jalan raya Kota Tanjung Pandan. Patut disayangkan karena Jl. Gatot Subroto yang membentang di depan Hotel Meigah itu nggak ada trotoarnya!

 

Papan batas wilayah kelurahan paal satu di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Jalan-jalan hari ini dimulai dari kelurahan Paal Satu. Eh, ada Paal Dua berarti?

 

Jalan kaki di aspal yang seperti ini membuatku teringat dengan kenangan pas jalan kaki panas-panasan sejauh 4 kilometer lebih ke Kompleks Candi Muaro Jambi. Karena sekarang aku jalan kaki bareng Bapak dan Ibu, jadinya nggak ada pikiran liar yang berkecamuk. Soalnya kan ada temannya, hahaha.

 

Oh iya, Bapak dan Ibu sendiri memang hobinya berjalan kaki. Hampir setiap pagi beliau-beliau ini meluangkan waktu untuk olahraga ringan berjalan kaki. Entah ke pasar. Entah ke mana. Bagi mereka yang sudah terhitung lanjut usia, berjalan kaki adalah satu-satunya pilihan olahraga yang mudah, ramah, dan minim resiko cedera (asal nggak ada pengendara motor yang ngawur saja! #masih.jengkel.sama.kejadian.kapan.itu)

 

Wisatawan terpaksa berjalan kaki di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016 karena tidak ada angkutan umum di kota tersebut
Jarang-jarang bisa jalan-jalan pagi sama Bapak dan Ibu. Dulu pas kecil sih sering.

 

Karena Tanjung Pandan itu kota dengan kepadatan populasi yang hanya 227 jiwa per kilometer2 (data tahun 2014) jadi suasana di sepanjang jalan lumayan sepi. Apa mungkin juga karena pas pagi ya? Jadi, belum banyak warga yang berlalu-lalang di jalanan?

 

Spanduk berisi promo iklan cicilan sepeda motor ringan yang terdapat di pinggir jalan Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Pantas saja banyak warga Belitung yang punya sepeda motor. Buat nyicilnya saja gampang kok.
Kalau begini ceritanya bagaimana orang-orang bisa tertarik naik angkutan umum?

 

Dari Jl. Gatot Subroto kami berbelok menuju Jl. Dr. Susilo. Wah, ternyata nama Bapak jadi nama jalan di Belitung, hahaha . Tapi kan Bapak gelarnya Drs, bukan Dr.

 

Anyway, di Jl. Dr. Susilo ini pemandangannya kurang sedap karena di sepanjang jalan raya terlihat BANYAK SAMPAH! Apa di kawasan ini nggak ada tempat penampungan sampah ya? Kok bisa-bisanya sampah berceceran di jalan raya semacam ini? #jengkel

 

Jalan Dr. Susilo di Kota Tanjung Pandan, Belitung kotor dengan sampah-sampah berceceran pada tahun 2016
Kebangetan banget! Kok bisa-bisanya jalan raya kotor dengan sampah begini!?
Apa bak tempat pembuangan sampahnya jauh jadinya orang-orang pada membuang sampah di sini?

 

Perbedaan lain yang cukup mencolok (kali ini bukan hal buruk) adalah di sepanjang Jl. Dr. Susilo terlihat banyak berdiri rumah-rumah warga. Kalau di sepanjang Jl. Gatot Subroto tadi kan didominasi sama bangunan tempat usaha.

 

Suasana pemukiman rumah-rumah warga di Jl. Dr. Susilo yang ada di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Di sekitar sini masih banyak tanah kosong dan juga rumah-rumah yang dijual. Siapa tahu minat. #eh

 

Salah satu contoh wujud rumah orang kaya raya di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016

Salah satu contoh wujud rumah orang miskin melarat di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Bermacam wujud rumah warga di sepanjang Jl. Dr. Susilo. Beberapa masih ada yang terbuat dari kayu.
Tapi, tiap rumah pasti tersedia kendaraan. Sebab, di Belitung bisa dibilang nggak ada angkutan umum.
Untuk menangkap siaran televisi harus memakai parabola atau malah berlangganan televisi berbayar.

 

Oleh sebab Pulau Belitung juga banyak dihuni sama warga Tionghoa, jadinya di setiap rumah banyak yang memelihara anjing. Tapi ya anjing-anjingnya nggak bebas berkeliaran seperti di Pulau Bali sana kok. Selain anjing ya tetap masih ada juga kok mamalia lucu berkumis di Belitung sini.

 

Anjing ras yang dipelihara warga di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016

Kucing hitam yang dipelihara warga di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Berbeda dengan suasana di Kota Jogja, di Kota Tanjung Pandan ini menjumpai rumah dengan peliharaan anjing adalah pemandangan lumrah. Tapi, kucing di mana-mana tetap ada sih.

 

Dari Jl. Dr. Susilo kami jalan lurus terus ke Jl. Teuku Umar. Pemandangan di sepanjang Jl. Teuku Umar sedikit-sedikit mulai disusupi oleh tempat-tempat usaha.

 

Suasana Jalan Teuku Umar di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Setelah sekian lama jalan kaki dan sampai di Jl. Teuku Umar tetap saja nggak ada trotoarnya!
Apa Kota Tanjung Pandan ini memang dirancang untuk tidak ramah pejalan kaki ya?

 

Bentuk nisan khas Belitung di makam muslim di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Sebetulnya, aku punya hobi untuk mampir ke pemakaman. Yah, sekadar untuk dzikrul maut, mendoakan para ahli kubur, dan mengamati siapa tahu ada sesuatu yang "menarik" di sana.
Di salah satu pemakaman muslim ini misalnya, bentuk nisannya berbeda karena tertancap dua pasak kayu kecil.

 

Dari Jl. Teuku Umar sampailah kami di Jl. Sriwijaya yang bisa dibilang sebagai jalan utama di Tanjung Pandan. Pusat geliat ekonomi Tanjung Pandan ya di sini ini!

 

Gapura besar yang ada di Jalan Sriwijaya di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Di sepanjang Jl. Sriwijaya ini penuh dengan tempat usaha dan kantor.
Semisal di gapura ini tertulis kalimat "Kota Tanjung Pandan", mungkin bakal terlihat lebih menarik.

 

Ibu sempat membeli sejumlah jajanan pasar yang dijual oleh kedai jajanan pagi di Jl. Sriwijaya. Jenis jajanan pasar yang dijual di sini nggak jauh berbeda dengan apa yang dijual di pasar pagi di Jakarta, semacam di Pasar Senen atau di Blok M.

 

Suasana xxx di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Berbagai macam jajanan pasar yang dijual di pinggir Jl. Sriwijaya dekat dengan perempatan lampu lalu lintas.
Sayang, penjualnya warga Tionghoa lansia yang kurang mahir berbahasa Indonesia. Yah, dimaklumi lah ya.

 

Harga jajanan pasar di Tanjung Pandan ini juga masih relatif murah. Waktu itu, keseluruhan jajanan pasar yang dibeli Ibu dikenai harga Rp22.000.

 

Monumen Batu Satam Landmark Tanjung Pandan

Dari Jl. Sriwijaya kami masih jalan lurus terus sampai di simpang lima Tugu Batu Satam. Kalau Jogja punya Tugu Pal Putih, maka Tanjung Pandan punya Tugu Batu Satam sebagai landmark kota. Kalau landmark kota tempat tinggalnya Pembaca apa ya?

 

Beda dengan Tugu Pal Putih, pengunjung yang hendak berfoto-foto ria dengan latar Tugu Batu Satam nggak perlu takut diserempet kendaraan yang melintas. Itu karena sudah disediakan pelataran taman tersendiri yang dihiasi air mancur. Lumayan juga buat segar-segar. Hawa Tanjung Pandan kan panas, hehehe.

 

Suasana pagi hari di bundaran Batu Satam yang ada di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Satu-satunya ruang publik yang menarik di Kota Tanjung Pandan ya Tugu Batu Satam ini.
Kalau di Kota Jogja sini air mancur sudah dikerangkeng supaya nggak jadi tempat mandinya para gelandangan.
Oh iya, di Belitung itu NGGAK ADA gelandangan dan pengemis. Keren ya?

 

Batu Satam sendiri adalah batu unik yang hanya ditemukan di Belitung. Mulanya, Batu Satam adalah batu meteorit yang jatuh di Belitung. Kemudian bereaksi dengan kandungan timah yang banyak terdapat di pulau ini. Alhasil, terbentuklah batu yang berwarna hitam pekat.

 

Nama Satam sendiri berasal dari kata Sa yang artinya pasir dan Tam yang artinya empedu. Jadi, Satam artinya empedu pasir. Batu Satam sendiri termasuk temuan baru karena baru diketahui eksistensinya di Belitung pada tahun 1973.

 

Wujud batu satam yang ada di bundaran Batu Satam di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016 dipotret dari dekat
Replika batu satam dari dekat. Kalau benar-benar ada batu satam segitu besarnya, yang punya bakal kaya raya, hahaha.

 

Eh, kalau ngobrolin batu meteorit entah kenapa jadi teringat sama Mbah Gundul yang dulu hobinya berburu batu meteorit sampai ke Gua Cerme. Mungkin kapan-kapan Simbah perlu pindah lokasi buruan ke Belitung, hehehe .

 

Blusukan di Pasar dan Dermaga

Dari bundaran Tugu Batu Satam ke Pasar Tradisional jaraknya tinggal sedikit lagi. Di sepanjang jalan menuju pasar, kami melintasi beberapa ruko yang menjual beraneka macam perabot plastik. Setelah itu masuk Gang Kim Ting dan sampai deh di Pasar Tradisional.

 

Kios servis jam di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Jalan ke pasar juga dipenuhi oleh kios-kios kecil semacam ini.
Mulanya aku kira ini kios jual-beli emas, eh ternyata setelah didekati kios servis jam toh.

 

Gapura Gang Kim Ting arah ke Pasar Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Gapura Gang Kim Ting (金镇街) arah ke Pasar Tanjung Pandan.
Kalau dari suku katanya: 
artinya emas, artinya kota, dan artinya jalan.

 

Ruko-ruko yang menjual perabot plastik di sekitar Pasar Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Jalan dari Gang Kim Ting menuju ke pasar ini dipenuhi ruko-ruko yang menjual perabot plastik.

 

Jam menunjukkan pukul 8 pagi lebih sedikit. Jadi, dari Hotel Meigah ke Pasar Tradisional ini jalan kaki sekitar 1 jam-an lah ya.

 

Seperti lazimnya pasar tradisional, di pasar ini (yang aku nggak tahu nama pasarnya apa, soalnya aku nggak lihat ada papan namanya ) terdapat wilayah kios-kios yang spesifik menjual buah, bumbu dapur, sayur, daging, dan lain sebagainya.

 

Suasana di Pasar Tradisional terbesar di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Inilah dia tujuan akhir jalan-jalan pagi yaitu Pasar Tanjung Pandan.
Yuk kita coba masuk!

 

Suasana los penjual daging di Pasar Tradisional Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016

Suasana los penjual sayur di Pasar Tradisional Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Kalau di Jawa kan umumnya penjual di pasar tradisional itu warga pribumi.
Tapi di Pasar Tanjung Pandan ini penjualnya banyak juga yang warga Tionghoa.
Sebagian besar sayur-mayur didatangkan dari luar Belitung. Beras saja dari Cianjur, Jawa Barat kok!

 

Yang menjadi tujuan kami hari itu adalah melihat pasar ikan. Sebab, Belitung itu kan terkenal dengan hasil lautnya. Pasar ikan sendiri letaknya ada di ujung selatan, dekat dengan laut.

 

Suasana los penjual pakaian di Pasar Tradisional Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Dari pasar sayur-mayur ke pasar ikan melewati lorong yang dipenuhi penjual pakaian.

 

Sepengamatanku, luas pasar ikan ini nggak seberapa luas. Pengunjung bisa berputar-putar mengelilingi setiap kios di pasar ikan dalam waktu kurang dari 3 menit. Tapi ya kalau dibandingkan dengan kios-kios pasar ikan di Pasar Kranggan, Jogja ya lebih luas di Pasar Tanjung Pandan ini. Kalau di Pasar Kranggan kira-kira hanya belasan pedagang ikan. Di pasar ini pedagang ikannya mungkin sekitar 40-an.

 

Aktivitas jual-beli ikan laut segar di Pasar Tradisional Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016

Penjual ikan di Pasar Ikan Tradisional di Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016 sedang melayani pembeli
Suasana pasar yang paling ramai ada di bagian pedagang ikan ini.
Itu kepala ikan yang bentuknya bulat besar adalah kepala ikan ketarap.

 

Jenis ikan-ikan yang dijual di pasar ikan ini beraneka ragam. Mulai dari ikan-ikan laut yang umum seperti tongkol, bawal, dan kakap. Sampai ikan-ikan laut yang jarang dijumpai di Jogja seperti ekor kuning (Caesionidae sp.), kurisi (Nemipterus sp.), dan ketarap (Scaridae sp.).

 

Dari pasar ikan, kami lanjut berjalan kaki ke dermaga. Jarak dari pasar ikan ke dermaga juga tergolong dekat. Nggak sampai 5 menit jalan kaki lah.

 

Jalan dari Pasar Ikan Kota Tanjung Pandan menuju Dermaga Penyebrangan di Belitung pada tahun 2016
Dari pasar ikan ke dermaga kecil lewatnya jalan ini. Nggak ada petunjuk arahnya.

 

Dermaga di dekat pasar ikan ini bikin aku teringat sama dermaga penumpang di sepanjang Sungai Musi di Palembang. Di dermaga ini terlihat banyak kapal-kapal penumpang yang bersandar. Hanya bedanya, dermaga ini bersih dan rapi. Mungkin juga karena efek biru laut Belitung yang nggak secoklat keruh warna Sungai Musi.

 

Bekas bangunan yang terbakar yang ada di area dermaga Kota Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Ada bekas bangunan yang terbakar. Entah dahulunya ini tempat apa.

 

Perahu penyebrangan mengangkut penumpang dari pulau kecil merapat di dermaga pasar Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Selain jalur darat, warga juga memanfaatkan jalur laut untuk berpergian.
Sepertinya, perahu semacam inilah yang bisa dibilang angkutan umumnya Belitung.

 

Foto perahu cantik dengan refleksi awan di dermaga pasar Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Ketemu juga spot foto yang lumayan fotogenik di dermaga.

 

Burung elang liar terbang bebas di sekitar dermaga pasar Tanjung Pandan, Belitung pada tahun 2016
Ada elang! Akhirnya, bisa juga melihat elang terbang alam bebas.
Eh, buat yang awam dengan dunia fauna melihat elang terbang bebas seperti ini mungkin bakal bikin takut ya?

 

Yang Bikin Cemas Sewaktu Motret di Pasar

Eh iya, ada peristiwa yang bikin aku agak kurang nyaman memotret di pasar tradisional seperti ini. Pas aku memotret di kios-kios sayur, mendadak ada seorang bapak yang berseru,

 

“Ayo, ayo, bayar kalau motret!”

 

Ucapan yang seperti itu seketika langsung bikin jantung jadi berasa “deg”. Padahal, aku sudah “main aman” alias menghindari aksi motret close-up dan menjaga jarak sekitar 2-3 meter dari obyek. Tapi ya... namanya juga setelan turis yang nenteng-nenteng DSLR. Pasti ada perlakuan “khusus” dari warga setempat.

 

Kejadian ini mengingatkanku pada cerita-cerita seputar mama-mama pedagang pasar di Papua yang menerapkan aturan “motret = bayar”. Yang seperti ini, ibarat jebakan betmen buat fotografer.

 

Tapi toh kejadian yang aku alami ini nggak kemudian berakhir buruk. Bapak yang tadi berseru rupanya hanya berkelakar sambil terkekeh-kekeh. Sepertinya, beliau hanya butuh “sentuhan humanis” yang kiranya dapat merekatkan hubungan antara wisatawan dan warga.

 

Dari beliau aku dapat informasi kalau pasar ini saat gerhana besok bakal sepi karena banyak pedagang yang memutuskan untuk tidak berjualan. Jadi, rupanya karena itulah dari pengamatanku pagi ini pasar terlihat lumayan ramai. Banyak warga memanfaatkan hari sebelum peristiwa gerhana untuk berbelanja.

 

Dari Pasar Lanjut ke Mana Lagi ya?

Pukul setengah 9 pagi, kami mengakhiri jalan-jalan pagi di Pasar Tanjung Pandan. Ternyata ya seperti itu toh suasana di Pasar Tanjung Pandan. Yang menonjol di sini menurutku ya pasar ikannya. Di mana kita bisa menyaksikan hasil laut yang beraneka ragam. Mungkin karena aku di Jogja merasa varian hasil laut yang dijual di pasar kurang begitu banyak. Orang Jogja kayaknya kurang suka makan ikan deh.

 

Ibu yang biasanya membeli satu-dua benda di pasar kali ini pulang dengan tangan hampa. Sebetulnya, Ibu penasaran dengan lada putih yang jadi primadona rempah di Belitung itu. Sayangnya, ingat tentang lada putihnya pas di tengah perjalanan balik dari pasar. Mau ke pasar lagi kok malas, hahaha.

 

Dari Pasar Tanjung Pandan kami kembali lagi jalan kaki ke bundaran Tugu Batu Satam. Sembari menunggu sopir mobil sewaan datang menjemput, enaknya mengisi perut dulu deh di Mie Atep. Mumpung pagi ini rumah makan Mie Atep masih sepi nggak perlu pakai antri, hehehe.

 

Eh, perkara Mie Atep nanti aku ceritakan di artikel lain.

 

 

Semoga dengan artikel kali ini Pembaca bisa mendapatkan sekilas gambaran seperti apa suasana kehidupan di Kota Tanjung Pandan dan juga di Pasar Tradisionalnya. Pembaca sendiri, kapan terakhir kali jalan-jalan pagi ke pasar ya?


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • CETAK FOTO
    avatar 9867
    CETAK FOTO #Kamis, 30 Jun 2016, 16:35 WIB
    Itu jauh amat ya pasarnya
  • MAS FEB
    avatar 9869
    MAS FEB #Kamis, 30 Jun 2016, 18:16 WIB
    Salah satu kegemaran saya: jalan-jalan ke pasar tradisional dan bikin coret-coretan
    seperti Bapaknya mas Wijna. Hehehe..
    Btw, untung blog saya satu halamannya kurang dr 1MB. Tapi masih 100-an requestnya.
    Trims ilmunya mas.
  • AGUNG RANGGA
    avatar 9874
    AGUNG RANGGA #Sabtu, 2 Jul 2016, 10:35 WIB
    duh, saya setuju banget sama bagian optimasi blognya mas. kadang juga kesal sendiri
    kalau pas blogwalking, ketemu blog yang gambarnya buanyak, tapi gak dikompres
    ukurannya. :(
  • DWI SUSANTI
    avatar 9878
    DWI SUSANTI #Minggu, 3 Jul 2016, 12:02 WIB
    Tolong ya diresize :p baik, ampunnn
    Aku hampir tiap hari melewati pasar, masuk pasar juga...kadang sih suka ga tega nawar,
    padahal penjualnya bilang boleh ditawar. "Bu, pasnya aja deh berapa" gituu haha.
    Oh ini masuk dalam list misi sebelum kepala tiga ya?
    Aku juga mau bikin list sebelum masuk kepala dua ah.