Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Rabu, 12 November 2014, 13:00 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Salah satu tempat yang lagi hits di Dieng (khususnya buat anak muda ) adalah puncak Bukit Sikunir. Di mana, dari sana kita bisa melihat mentari terbit dari ketinggian. Malah ada pameo Belum sah ke Dieng kalau belum ke Puncak Sikunir lihat Sunrise.

 

Weleh, apakah sunrise di bukit Sikunir bener-bener semenarik itu?

 

Godaan di Rumah Bu Naryono

Pada Sabtu sore (30/8/2014), sesuai saran dari Mas Bejo, Dhe dan Wika sudah berancang-ancang buat pergi ke Puncak Sikunir sebelum subuh. Maka dari itu, alarm jam disetel agar meraung tepat pukul 3 pagi di hari Minggu (30/8/2014). Pikir kami, di pukul segitu itu waktu yang kondusif untuk cabut ke Bukit Sikunir.

 

Alarm jam memang tepat meraung pukul 3 pagi. Tapi, berhubung suhu homestay lumayan adem dingin, kami semua terkena extra time meringkuk di balik selimut untuk sekitar setengah jam ke depan. Barulah sekitar pukul setengah 4 pagi, kami berhasil mengumpulkan nyawa yang tercecer dan melangkah ke luar homestay. Ternyata, di luar homestay lebih dingin daripada di dalam! #ya.iyalah

 

Entah gimana ceritanya, di pagi buta itu Wika sempat-sempatnya kenalan sama Bu Naryono. Letak rumah beliau itu persis di seberang homestay. Beliau ini dari pukul 11 malam kemarin sudah memasak untuk persiapan prosesi ruwatan rambut gembel.

 

Bermacam-macam jenis makanan sudah tertata apik siap untuk disantap di dalam rumah beliau #eh. Selain sajian untuk prosesi, beliau juga menyiapkan santapan untuk mereka-mereka yang terlibat dalam prosesi.

 

Bu Naryono memasak makanan untuk sesaji Ruwatan Rambut Gembel pada acara Dieng Culture Festival 2014
Bu Naryono dan hasil jernih payahnya semalam suntuk.

 

Selidik punya selidik, Bu Naryono ini adalah istri dari tetua adat setempat. Kata beliau, sekitar pukul 6 pagi nanti, para anak bajang beserta keluarganya bakal ngumpul di rumah ini untuk bersiap-siap. Setelah itu, bakal ada kirab anak bajang yang titik start-nya dari rumah ini juga. Waaah, beruntung banget homestay kami dekat dengan rumah Bu Naryono.

 

Karena diiming-imingi bisa memotret para peserta dan anak bajang pas mereka lagi bersiap-siap, ditambah kondisi jalanan kampung yang padat sama mobil parkir jadi nggak mungkin untuk keluar pakai mobil, alhasil Wika dkk memutuskan nggak jadi pergi ke Bukit Sikunir. Mereka memilih menunggu di homestay buat motret para peserta.

  

Aku sendiri masih kepingin untuk tetap cabut ke Bukit Sikunir. Bukan ngotot sih, tapi ya buat menuruti rasa penasaran saja dan sekaligus mencari tantangan, hahaha . Aku paham kok bakal seperti apa kondisi Bukit Sikunir di masa Dieng Culture Festival seperti ini. Tapi ya gitu. Aku pancang niat untuk berangkat sendirian saja ke sana. Pokoknya, sak tekane dan sak entuke (sesampainya dan sedapatnya).

 

berbagai macam sesaji yang dipersembahkan untuk roh nenek moyang Dieng pada acara Dieng Culture Festival 2014
Belum cukup banyak untuk menggoda saya.

 

Asal Pembaca tahu, karena namanya Bukit Sikunir ya jelas jalan ke sananya kan nanjak dong? Terus, Bukit Sikunir itu letaknya di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah yang punya predikat sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa, karena terletak 2.306 meter di atas permukaan laut. Dari homestay ke Desa Sembungan itu jaraknya sekitar 7 km. Pembaca udah kebayang kan kira-kira gimana “perjuangan” ke sana?

 

Solo Karir ke Bukit Sikunir di Pagi Buta

Oke deh! Perjuangan dimulai dengan berjalan kaki seorang diri menembus gelap dan dinginnya pagi Desa Dieng Kulon yang menusuk tulang. Seingatku, di pertigaan jalan raya menuju ke Kota Wonosobo itu ada pangkalan ojek. Siapa tahu ada ojek yang sedang mangkal dan bisa ditumpangi. Eh, ternyata nggak ada! Wah, nasib ini jalan kaki sampai desa Sembungan.

 

Selepas Desa Dieng Kulon aku masuk wilayah Desa Dieng Wetan. Sejauh ini kondisinya masih agak ramai karena banyak homestay. Tapi, selepas Desa Dieng Wetan, kondisinya gelap segelap-gelapnya plus dikelilingi pohon lebat. Cocok ini kalau ketemu dhemit lewat, hahaha .

 

Tapi Alhamdulillah nggak kejadian. Kalau aku pikir-pikir, kelakuanku ini tuh bener-bener kayak orang hilang dan kurang kerjaan banget, hahaha . Benar-benar bisanya cuma pasrah sama Gusti Allah SWT.

 


 

Nah, pas sampai di pertigaan arah Dieng Theatre, eh ada bus kecil gitu yang berhenti di depanku. Bus apaan ini? Kok pagi buta begini sudah ada bus saja? Apa ini busnya para dhemit?

 

“Ayo Mas naik. Mau ke Sikunir kan? Kasihan jalan kaki, nanti sunrise-nya nggak kekejar.”, ajak mas kenek yang bernama Mas Kabul

 

Alhamdulillah, batinku. Gusti Allah SWT mboten sare yah mene!

 

Di dalam bus kecil itu ternyata udah ada dua penumpang yang ikutan. Namanya Noval dan Dias. Mereka ini mahasiswa angkatan 2009 dan sudah berteman lama sejak SMA. Noval ini yang punya ide menumpang angkutan umum menuju Desa Sembungan.

 

Teman naik bus ke Bukit Sikunir di Desa Sembungan
Kawan bertualang di pagi buta itu, Noval (kiri) dan Dias (kanan).

 

“Habisnya tadi minta tumpangan sama mobil nggak dikasih Bang. Cuma buka kaca jendela, diliatin, terus mereka bablas pergi. Untung lewat bus ini.”, ujar Noval sedih

 

Duh! Aku paham penderitaanmu Bro! #pukpuk

 

Lautan Manusia di Sikunir

Baru enak-enaknya duduk di dalam bus, eh muncul masalah. JALANAN MACET PARAH!

 

Selain banyak bus dan mobil yang parkir, banyak juga kendaraan yang mogok di tengah jalan. Beh! Nggak kuat nanjak sepertinya.

 

Sebenarnya ini sih sesuai perkiraanku sebelum berangkat. Tapi, nggak menduga saja bakal separah ini. Karena kayaknya macetnya ini bakal lama, Aku, Noval, dan Dias memutuskan buat turun dari bus dan jalan kaki ke Desa Sembungan.

 

Sebetulnya, bus ini rutenya bukan ke Desa Sembungan. Untuk membalas jernih payah Mas Kabul dan Pak Sopir, kami membayar Rp5.000 per orang. Makasih ya Mas!

 

Sekitar 2 km lebih kami jalan kaki dari tempat bus berhenti ke Desa Sembungan. Dari Desa Sembungan ke Bukit Sikunir jaraknya masih sekitar 1 km lagi. Itu belum selesai! Dari dasar bukit ke puncaknya jaraknya ada sekitar 1 km juga. Pokoknya, masih panjang lah perjalanan ke puncaj. Di sepanjang jalan juga sudah ramai sama anak-anak muda yang berjalan kaki.

 

para wisatawan berjalan kaki mengejar sunrise di puncak Sikunir saat Dieng Culture Festival 2014
Semua orang akhirnya jalan kaki untuk menghindari macet.

 

Begitu sampai di dasar bukit Sikunir...beh!.. PADAT BANGET!

 

Itu lapangan luas dekat Telaga Cebongan sudah berubah mirip parkiran mall-mall pas weekend. Isinya kalau nggak motor, mobil, ya bus!

 

Nggak kebayang deh, seperti apa di puncak Bukit Sikunir kalau di dasarnya sudah padat kayak gini.

 

Telaga Cebongan di Desa Dieng Kulon padat oleh kendaraan bermotor saat Dieng Culture Festival 2014
Parkiran mall pindah ke mari!?

 

Waktu itu kami sampai di dasar bukit pukul 05.30 WIB. Jelas matahari sudah mulai nongol di ufuk timur. Walaupun sunrise lolos, tapi seenggaknya kami harus bisa melihat pemandangan pagi dari puncak bukit. Jadi, ya kami lanjut jalan kaki ke puncak deh.

 

Baru sampai setengah jalan... wadooh!... ramainya bukan main! Kalau tadi pas mau ke Desa Sembungan dibikin macet sama mobil dan bus, di jalan ke puncak Bukit Sikunir ini macetnya malah sama MANUSIA!

 

Bener-bener nggak bisa gerak untuk naik ke puncak bukit! Nggak tahu deh ada kejadian apa di depan sana kok bisa macet kayak gini. Apa mungkin banyak yang berhenti di pinggir jalan buat foto-foto ya? Tau deh...

 

Lautan manusia yang mengantri naik dan turun dari puncak Sikunir saat Dieng Culture Festival 2014
Lebih ganas dari antrian premiere film di bioskop...

 

Pikirku, di puncak sana mungkin areanya lebih sempit. Sementara itu banyak orang yang mau naik ke puncak. Jadinya macet deh!

 

Berhubung setelah 30 menit lebih nggak ada pergerakan yang signifikan. Ditambah lagi beberapa pengunjung mulai teriak-teriak hilang kesabaran. Akhirnya aku putuskan mengibarkan bendera putih alias turun gunung saja.

 

Yah... mungkin ini belum rejekinya aku bisa sampai ke puncak Bukit Sikunir. Next time maybe...

 

Maaf ya Noval dan Dias, aku nggak bisa nemenin kalian sampai Puncak Sikunir buat foto-foto sambil ngicipin cilok, hehehe. Kalau ada kesempatan, kita ke Puncak Sikunir lagi yah.

 

Pemandangan pagi di Telaga Cebongan berlatar Bukit Sikunir saat Dieng Culture Festival 2014
Semoga masih diberi kesempatan untuk bisa sampai ke puncak.

 

Kebaikan Hati yang Meringkankan Perjalanan

Aku inget sudah diwanti-wanti sama Wika dkk untuk sampai di homestay lagi sebelum kirab dimulai. Aku pun nggak pakai lama untuk segera balik cabut ke Desa Dieng Kulon. Ya jalan kaki lah soalnya aku agak sungkan minta tumpangan setelah denger ceritanya Noval tadi. Pokoknya semangat saja! Yosh!

 

Sekitar 30 menit jalan kaki ada mobil pickup yang lewat dan berhenti di depanku.

 

“Mas, yuk naik, barengan aja!”, ajak salah satu mas-mas. Alhamdulillah!

 

menumpang naik mobil pickup ke Dieng Culture Festival 2014
Walaupun tingkah mereka ora kalap , tapi semoga kebaikan mereka dibalas Tuhan. Aamiin.

 

Aku sampai di pertigaan pos ojek Dieng lagi sekitar pukul 08.00 WIB. Saatnya bergegas kembali menuju homestay buat mengikuti acara kirab anak bajang. Saatnya kamera beraksi lagi.  

 

Pembaca pernah ke Dieng dan merasakan jalan kaki dari Dieng Kulon ke Bukit Sikunir? Cobain deh! Sehat lho! (tapi habis itu betis jadi pegel banget, hehehe )


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • HILDA IKKA
    avatar 6693
    HILDA IKKA #Rabu, 12 Nov 2014, 14:02 WIB
    Haduh mas, bayangin perjalanannya aja udah kebayang gimana capeknya. yah... tau gitu
    mending nungguin kirab. biar bisa dapet icip-icip di Bu Naryono :D
    Iya, ya namanya juga nyari pengalaman. Kapan lagi bisa keluyuran pagi buta jalan kaki dingin-dingin gini? hehehe.
  • TOTOK
    avatar 6694
    TOTOK #Rabu, 12 Nov 2014, 17:46 WIB
    Aku paham perjuanganmu bro utk menuruti kemauan pusaka D80 karena Nikon konon
    memang dilahirkan utk fotografi landscape :P
    Itu konon Mas... konon...
  • DITTER
    avatar 6697
    DITTER #Kamis, 13 Nov 2014, 21:44 WIB
    Ya ampun mas, nekat bingits... Gile, bener-bener kayak orang ilang, hahaha....

    Mungkin Mas Mawi sering berbuat baik, jadi ada juga orang yg berbuat baik ke Mas Mawi, nawarin tumpangan, hehe....
    Perasaan saya ini orang yang berlumur dosa semenjak lahir...#tsah

    Untungnya cuma disangka orang ilang, bukan orang gila, hehehe.
  • ANGKI
    avatar 6700
    ANGKI #Jum'at, 14 Nov 2014, 13:40 WIB
    aamiin mas semoga saya juga bisa sampe situ dah mas...em...mas makin tenar spot
    makin panas perjuangan buat muncak... untung saya gak terlalu demen naik gunung T.T,
    moga aja Dieng makin Dingin ya mas heheh jdi pada kapok ke Dieng hehe pizz, tar kan
    jadi sepi dieng haha ngimpi tapi.... wah adegan kebaikan itu bikin menyentuh hati mas...
    moga aja banyak orang baik bertebaran aamiin
    Suatu saat nanti dirimu yo mesti bisa sampai sana kok Ngki. Masih di Jawa Tengah ini, hahaha. :D
  • ELISA
    avatar 6701
    ELISA #Jum'at, 14 Nov 2014, 20:58 WIB
    perjuanganmu luar biasa...seperti luar biasanya gunung sikunir dg pengunjungnya sampai macet...
    saya pernah naik sikunir demi sunrise...apa daya mendung dan gerimis...:(
    Ternyata kita senasib ya mbak. Emang untuk ke Sikunir harus pinter2 atur strategi ya.
  • ANNOSMILE
    avatar 6702
    ANNOSMILE #Sabtu, 15 Nov 2014, 04:58 WIB
    ngeri pengunjung sikunir banyak banget..hehehe
    skip deh klo kesana juga pas akhir pekan..
    Resiko ke sana pas lagi rame acara ya kayak gini... >.<
  • OPE
    avatar 6703
    OPE #Sabtu, 15 Nov 2014, 09:14 WIB
    wah.. seru tuh.. banyak makanan pula :D
    Tapi makanannya ga boleh dimakan e...
  • ANGGI AGISTIA
    avatar 6704
    ANGGI AGISTIA #Sabtu, 15 Nov 2014, 09:39 WIB
    Waaaah serunyaaa, bikin iri mas huhu. Aku belum pernah ke Dieng malahan, semoga
    tahun depan kesampaian deh ya bisa main kesana :D
    Dirimu masih muda mbak. Masih punya banyak waktu mbak untuk menikmati Dieng, hehehe
  • CUMILEBAY.COM
    avatar 6705
    CUMILEBAY.COM #Sabtu, 15 Nov 2014, 12:48 WIB
    Eh busyet rame bener yg ke sikunir ... aku paling males datang ketempat2 yg bikin acara
    festival atau sejenis nya coz jadi kurang khusuk menikmati alam nya
    Besok-besok kemari lagi pas lagi musim ujian sekolah/kuliah aja deh, dijamin sepi, hehehe.
  • ITOX
    avatar 6708
    ITOX #Senin, 17 Nov 2014, 08:16 WIB
    elok tenin ramene....
    kapan2 aku dijak mas kalo dolan2 :D
    dolan e ndi sik kie? Numpak e opo? :D
  • ITOX
    avatar 6709
    ITOX #Senin, 17 Nov 2014, 10:16 WIB
    dolan neng ndi wae, yang penting di luar downtown jogja. sebaiknya yg gak jauh2 amat,
    aku senenge nggon alam.
    motoran atau ngglandang boleh lah, bersepeda boleh jga, tapi nunggu sepedaku selesai
    dibangun :D ... friend request fbnya di approve dong :)
    wekekeke, woke lah. FB mu kie opo je jenenge. Aku jarang nonton friend request masalah e, hehehe. Ngko tak tilikane.
  • CADERABDUL.COM
    avatar 6712
    CADERABDUL.COM #Senin, 17 Nov 2014, 19:49 WIB
    aduhhhh.....itu pasar napa pindah di mari bang....tapi seru dan asik...pengalaman yang mengasikkan....pengin juga ne seru-seruan begitu...
    Saya juga ngga ngerti kenapa mendadak ada pasar di atas gunung kayak gini. >.<
  • ANDIKA HERMAWAN
    avatar 6728
    ANDIKA HERMAWAN #Kamis, 20 Nov 2014, 13:10 WIB
    edyaaaan Sikunir sekarang serame itu ya mas? untung ga jadi jalan kaki Dieng Wetan
    sampai Sembungan ya mas, dijamin gempor :P
    Itu aja pas naik pickup kakiku gemeteran lho, hahaha. Mestinya sih dibawa santai jalan kakinya. Lha aku kan ngejar waktu sampai ke basecamp lagi.
  • MOHAMMAD LUTFI HIDAYAT
    avatar 6759
    MOHAMMAD LUTFI HIDAYAT #Selasa, 25 Nov 2014, 18:41 WIB
    Loh mas, ak udah ke Dieng 2 kali. Masa iya nggak keitung gr2 belum pernah sekalipun
    ke Sikunir? Hehehe..

    Ak pas DCF kmren juga di Dieng, tp nggak nonton DCF nya gr2 nggak dpt tiket, akhirnya
    cari tempat pelarian ke Gn. Pakuwaja (sebelah Sikunir). Itu macetnya apa nggak bikin
    stress mas? Untung kmren trip ke Sikunir nya ak cancel. Hahaha
    Kalau saya sih kan naik angkutan umum, jadi nggak begitu stress, hehehe.
  • RIFQY FAIZA RAHMAN
    avatar 6761
    RIFQY FAIZA RAHMAN #Rabu, 26 Nov 2014, 21:44 WIB
    Lama-lama Sembungan bisa melorot ketinggiannya gara-gara banyak dikunjungi orang :D

    Salam kenal mas e! :)
    Salam kenal juga! :D
  • INDRI JUWONO
    avatar 6825
    INDRI JUWONO #Senin, 15 Des 2014, 17:21 WIB
    huwah! untung aku udah pernah sempat sampai sikunir pada waktu musim hujan sekitar
    liburan natal gitu, hohoo.
    masih pengen lagi ke sana tapi tidak pas event festival.
    Dieng memang tidak cocok dikunjungi pas event festival. Ramenya bukan main!
  • IILAJAH
    avatar 6902
    IILAJAH #Senin, 29 Des 2014, 22:32 WIB
    wow,,, banyak banget yang ngantri,, udah kaya semut



    wow banyak banget yang ngantri,, udah kaya semut :D
    Padahal nggak ada gula di sana, hahaha :D
  • IRFAN PRATAMA
    avatar 6960
    IRFAN PRATAMA #Kamis, 8 Jan 2015, 10:46 WIB
    Angkat Topi Buat perjuangan Mas Wijna,
    Kalau gak salah pagi itu aku tarik selimut
    lanjut tidur mas, soalnya ademmmmm banget
    enaknya yoo tidur selimutan he he he
    Empat jempol dech untuk mas wijnanya. . .
    Kalian pada galau kok :p
  • FI LA
    avatar 6981
    FI LA #Selasa, 13 Jan 2015, 11:35 WIB
    ebuset, ane yg orang Wonosobo gak tau kalo Sikunir pernah serame itu. Ane beberapa kali
    ke sana (jadi guide nganterin temen2 dari Jogja), tapi kagak pernah malem minggu karena
    ane tau pasti bakalan super rame