Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Jum'at, 10 Agustus 2012, 07:38 WIB

Etika Berwisata Peninggalan Bersejarah

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak peninggalan bersejarah! Kalau bisa batasi kontak fisik ke benda tersebut!
  3. Baca informasi sejarahnya. Kalau perlu difoto dan dibaca lagi di rumah.
  4. Patuhi peraturan yang berlaku!
  5. Jaga sikap dan sopan-santun!
  6. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  7. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Keliling Candi Borobudur?

 

Cih! Itu sih biasa (banget)! Tinggal bayar tiket masuk, terus kelilingi deh itu candi. Selesai kan? Nggak perlu pakai capek?

 

Akan tetapi, bukan PEKOK namanya kalau nggak bisa bikin sesuatu yang biasa (banget) jadi terasa luar biasa (banget).

 

Lha mau PEKOK ngapain? Keliling candi Borobudur dari luar kompleks candi? Atau keliling candi Borobudur dari kampung di sekitar sana?

 

foto dialog percakapan pesepeda cowok pekok saat melihat candi borobudur dari persawahan
Sinopsis PEKOK kali ini.

 

Yup! Tapi bukan sedekat itu jaraknya!

 

Kami bakal bersepeda mengelilingi Candi Borobudur dari perbukitan Menoreh! Itu lho perbukitan yang jelas banget terlihat “memagari” Candi Borobudur dari kejauhan.

 

HAH!?

 

Udah deh! Daripada terkejut, mending simak petualangan aku, Pakdhe Timin, dan Yudhis pada hari Rabu (18/7/2012) yang lalu itu.

 

foto pesepeda pria berfoto bareng di depan toko besi di kawasan tugu pal putih kota yogyakarta pada zaman dahulu
Anggota PEKOK yang tersisa...

 

Dari Jogja Lewat Selokan Mataram ke Barat

Seperti biasa, untuk menuju ke Candi Borobudur kami menyusuri Selokan Mataram ke arah barat dari Kota Jogja. Bersepeda menyusuri Selokan Mataram itu mengasyikkan karena suasananya lebih sepi dan kontur jalannya (terasa) lebih datar.

 

Pemandangan berbeda kami peroleh setibanya di Bendungan Karang Talun. Air Kali Progo sudah jernih! Juga, di sekitar bendungan sudah nggak ada lagi aktivitas penambangan pasir seperti dulu itu! Alhasil, Kali Progo lebih indah dan sedap untuk dinikmati deh!

 

foto bendungan karang talun magelang saat surut pada musim kemarau 2012
Airnya sudah jernih! Nggak lagi cokelat!

 

foto bekas lokasi tambang pasir kali progo di bendungan karang talun magelang pada tahun 2012
Pada bulan Januari 2012 silam, di sini ada banyak tambang pasir.

 

foto pemandangan kali progo dari bendungan karang talun di wilayah magelang pada Juli 2012
Foto ketiga yang aku jepret dengan kondisi yang hampir sama saat aku memotretnya untuk yang pertama kali.

 

Dari Bendungan Karang Talun perjalanan berlanjut. Seperti biasa, Tanjakan Bendo sudah menanti seusai kami melewati cabang pertigaan jalan ke arah Sendang Sono.

 

Di Tanjakan Bendo kami bertiga menyerah dari awal alias melewati tanjakan dengan menuntun sepeda! Hahaha.

 

Alasannya sih menghemat tenaga. Tapi, alasan sebenarnya karena memang nggak punya tenaga. Sebab, kami semua sudah lama (banget) absen PEKOK. Doh!

 

foto sekumpulan siswi berseragam smp sedang berolahraga joging di jalan raya kalibawang magelang
Berpapasan dengan adik-adik SMP yang sedang ospek.

 

Di dekat Pasar Ngluwar kami sempat mampir lagi di warung lotek yang bertempat di halaman depan suatu rumah. Pada pertengahan tahun 2012 ini harga seporsi lotek naik sedikit menjadi Rp14.000 untuk bertiga. Eh, apa mungkin ya harganya naik karena aku dan Pakdhe Timin menyantap lotek dengan bakwan?

 

foto lotek enak murah yang warungnya berada di dekat pasar ngluwar magelang
Santapan murah meriah! Bertiga hanya Rp14.000!

 

Mencari Tanjakan Menuju Menoreh

Sekitar pukul setengah sebelas siang kami tiba di Candi Borobudur. Tujuan berikutnya adalah mencari jalan untuk mendaki Perbukitan Menoreh!

 

Kami mengambil jalan ke arah Hotel Manohara. Terus mengikuti jalan hingga sampai ke pertigaan yang menunjukkan arah ke Ngadiharjo.

 

Dari Candi Borobudur, rute yang aku lalui ini serupa dengan rute saat aku pergi untuk memotret Candi Borobudur dari Punthuk Setumbu. Hanya bedanya ya, aku dan kawan-kawan nggak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan sampai Ngadiharjo.

 

foto cabang jalan dari candi borobudur ke arah kawasan wisata puncak bukit punthuk setumbu pada zaman dulu
Lewat jalan menuju Punthuk Setumbu juga lho!

 

Setelah ini tantangan pun dimulai! Yiiihaaa!

 

Hah? Tantangan apa?

 

Ya apalagi! Tentu Pembaca semua nggak lupa kan sama tantangan yang menimbulkan adegan seperti foto di bawah ini?

 

foto pesepeda duduk kecapekan saat menanjak desa ngargoretno menoreh

foto cengkeh-cengkeh menoreh dari desa giripurno dijemur kering di sepanjang jalan desa
Tanjakan "Aroma Cengkeh Menoreh"

 

Cengkeh di Perbukitan Menoreh

Memasuki Desa Ngadiharjo tiba-tiba tercium semerbak bau harum cengkeh. Ternyata, di kanan-kiri jalan atau di halaman rumah warga banyak terlihat tampah berisi biji cengkeh yang sedang dikeringkan. Hampir bisa dipastikan mayoritas warga Desa Ngadiharjo menggantungkan hidupnya pada komoditas cengkeh.

 

Menurut harian Tribun harga cengkeh kering dapat mencapai Rp140.000 per kg. Bila sedang musim panen seperti saat ini, harga cengkeh turun di kisaran Rp80.000 per kg. Sebagai gambaran, satu pohon cengkeh berusia 25 tahun bisa menghasilkan hingga 80 kg cengkeh basah. Bila dikeringkan maka akan dihasilkan bobot hingga 1/3 dari bobot cengkeh basah. Selain bijinya, daun dan tangkainya juga laku dijual seharga Rp6.000 dan Rp1.500 per kg.

 

foto rumah tradisional jawa petani cengkeh di lereng perbukitan menoreh di desa giripurno magelang dengan tampah berisi jemuran cengkeh
Pemandangan yang umum dijumpai. Cengkeh hampir ada di setiap rumah.

 

Nggak heran, cengkeh menjadi primadona dari jaman penjajahan hingga saat ini. Pantas saja, sebagian besar rumah warga yang aku jumpai bagus-bagus.

 

Puncak Tertinggi di Giripurno

Di sebuah puncak di Desa Giripurno, aku dan kawan-kawan menyaksikan pemandangan Candi Borobudur dari kejauhan. Pemandangan yang tersaji ini mirip seperti pemandangan yang aku saksikan dari Punthuk Setumbu. Hmmm, mungkin kalau lebih pagi pemandangannya bakal lebih menarik ya?

 

Tapi semua pengalaman yang aku ceritakan di atas itu belum seberapa dibandingkan pengalaman di bawah.

 

foto bentang alam dilihat dari puncak bukit menoreh yang ada di desa giripurno magelang jawa tengah
Candi Borobudur (kecil banget) di sisi kanan bawah foto.

 

Dongkol dengan PT Margola

Pengalaman yang nggak bakal kami lupakan adalah ketika singgah di Desa Ngargoretno. Di pinggir jalan di desa ini aku melihat adanya gugusan batu yang Subhanallah indah banget! Maka dari itu, mendekatlah aku ke gugusan batu tersebut. Niatnya sih untuk foto-foto.

 

Akan tetapi, baru beberapa menit kami di lokasi guna mengagumi keindahan gugusan batu, tiba-tiba kami dihampiri oleh seorang bapak.

 

“Ada perlu apa di sini Mas? Kalau mau foto-foto minta izin dulu di (kantor) bawah”

 

foto deposit batu granit besar dan indah yang banyak tersebar di desa ngargoretno borobudur magelang
Batu marmer yang cantik, akan tetapi...

 

"Hah? Motret batu doang harus minta izin? Memang ini batunya mbahmu po Pak? Memang dirimu punya andil besar dalam proses pembentukan alami batu ini po?"

 

Padahal, pada waktu si bapak menghampiri belum ada satu pun dari kami yang mengeluarkan kamera.

 

Dongkol sih jelas, tapi kami tak mau berdebat panjang dengan si bapak. Sudah capek nanjak, masak ya mesti capek debat? Nggak berapa lama si bapak pun meninggalkan kami. Mungkin ia iba karena melihat penampilan kami yang terkesan lusuh dan ke sini naik sepeda.

 

Hmmm, kami mencium ada sesuatu yang nggak beres di sini...

 

foto bersepeda melewati tambang batu granit besar di desa ngargoretno borobudur magelang
Hanya bisa menahan dongkol dari kejauhan...

 

PT Margola dan Lahan Konflik

Selidik punya selidik, ternyata gugusan batu yang kami jumpai merupakan gugusan batu marmer. Wilayah tersebut merupakan area tambang milik PT Margola. Sesuai dugaan, rekam jejak perusahaan ini lumayan buruk. Warga sekitar nggak setuju dengan keberadaan PT Margola yang melakukan penambangan marmer besar-besaran semenjak tahun 1988. Selain menimbulkan kerusakan alam, sering juga terjadi kelongsoran dan kekeringan akibat dampak dari penambangan.

 

Protes sudah berkali-kali dilayangkan oleh warga ke pemerintah untuk menghentikan penambangan marmer oleh PT Margola. Namun, hingga sewaktu kami ke sana aktivitas penambangan nampak masih berjalan. Weh!

 

Kabarnya sih, izin penambang nggak diberikan. Tapi, kenapa sampai sekarang aktivitas penambangan di sana itu masih berjalan? Ah bisa jadi itu ulah oknum busuk yang bisa dibeli dengan uang. Bukankah begitu?

 

Aku sih nggak setuju jika ada penambangan batu marmer secara besar-besaran di sana. Nanti gugusan batuan indah itu bisa hilang dong! Lagipula, di dekat gugusan batuan marmer itu terdapat situs bersejarah Gua Lawa, salah satu tempat bersembunyinya Pangeran Diponegoro pada kala Perang Jawa.

 

foto kasus penambangan batu marmer pt margola di desa ngargoretno borobudur magelang
Ditambang besar-besaran! Rusak sudah alam negeri kita dirambah oknum-oknum seperti ini!

 

Gagal Melintasi Bukit Menoreh

Eh, sebenarnya kami mengelilingi Perbukitan Menoreh ini dengan suatu misi khusus, yaitu menuju Desa Benowo. Kalau dari peta di bawah ini kelihatan dekat kan antara Desa Benowo dengan Desa Ngargoretno?

 

foto rute bersepeda pekok keliling borobudur lewat perbukitan menoreh pada Juli 2012
Rute PEKOK dari Borobudur (niatnya) menuju Desa Benowo, Purworejo.

 

Tapi sayangnya, dua desa itu dipisahkan oleh puncak sebuah Bukit Menoreh. Alamaaak!

 

Kami pun mencari jalan memutar bukit, tetapi malah bertemu jalan turunan dan sampai di Desa Kalirejo yang letaknya di kaki bukit. Doh! Udah enak-enak di atas bukit, masak harus turun lagi ke kaki bukit sih? Bakal bersepeda mengulangi tanjakan jahanam lagi dong kalau begini ceritanya! Doooh!

 

Berhubung waktu sudah semakin beranjak sore, kami pun memutuskan untuk...BATAL. Hiks! Mission failed! >.<

 

Kami pun mengayuh sepeda menuju jalan raya sesuai arahan warga. Betapa kagetnya ketika kami berjumpa dengan Jalan Raya Magelang-Purworejo.

 

Eh? Ini kan hanya berjarak sekitar 7 km dari Candi Borobudur? Datar pula....

 

Kalau begitu, ngapain tadi kita capek-capek bersepeda menanjak Perbukitan Menoreh jikalau titik pendakian yang sesungguhnya bisa dicapai dengan mudah dan mulus?

 

... Doh!

 

Bagaimana Pakdhe? Namanya apa kelakuan kita ini?

 

Ya PEKOK! toh?


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • PARIS
    avatar 4759
    PARIS #Jum'at, 10 Ags 2012, 08:39 WIB
    itu kalo buat spot foto sama model keren kayaknya batunya
    jalannya luar biasa jahanam Le...
  • RAWINS
    avatar 4763
    RAWINS #Minggu, 12 Ags 2012, 22:20 WIB
    heee keren tenan
    besok lanjut keliling merapi start dari turgo muter sawangan dukun krinjing selo dst
    sampai balik lagi
    hehehe pisss
    modyaaar...
  • SCHADA
    avatar 4771
    SCHADA #Rabu, 22 Ags 2012, 13:33 WIB
    hhuuhuhu jdi pengiinnn...
    besok ikutan ah heheh :-D
    ckckck...dengkulnya sudah terbuat dari baja pow? :p
  • PAKDHETIMIN
    avatar 4806
    PAKDHETIMIN #Selasa, 18 Sep 2012, 22:09 WIB
    gagal pertamax...:(
    sabar yo Pakdhe
  • ADJI PAMEKAS
    avatar 5249
    ADJI PAMEKAS #Selasa, 30 Apr 2013, 21:37 WIB
    waduh pt margola payah.. aku kgx setuju klo pt itu tetep ada.. bisa abis itu marmer :(
    tapi saat ini marmer ygt ada di foto di atas masih ada.. dan tong merah yg ada di foto 3
    masih ada, tapi udah berkarat
    wah, sepertinya aktivitas penambangan masih berlangsung yah?
  • NGARGORETNO PUNYA CERITA
    avatar 7870
    NGARGORETNO PUNYA CERITA #Sabtu, 27 Jun 2015, 10:23 WIB
    Ada 2 PT di Ngargoretno. PT. MARCO dan PT. MARGOLA. Letaknya berdekatan. Nah yang MARCO tu kemana ? Itu Statusnya MARCO itu bubar atau gimana sih ? Alat-alat terbengkalai, sebagian sudah hilang, Kepengurusannya gimana siih ? Gimana urusan Hasil Investasi Saham ? Do diem diem saja. Kalau ngomong sejarah. Dahulu ada PT Batubara. Bubar / tutup Juga itu mengapa ? Apa karena hal / alasan yang sama juga. Saya mau tertawa rasanya. Harusnya cek siapa yang sudah mengantongi SIUP dan yang belum, karena dikhawatirkan terjadi pencurian hasil tambang. cek keseluruhan termasuk usaha penambangan lain disekitarnya. Door to door.
    Waduh, saya malah nggak tahu kalau di sana itu ada 2 PT. Setahu saya kemarin itu ya PT Margola. Ternyata kisruh masalah perijinan juga toh...
  • SUSI
    avatar 8152
    SUSI #Rabu, 26 Ags 2015, 12:57 WIB
    wahhh bener2 bikin iri mas...
    Kepingin nyepeda nanjak sampai pelosok juga kah? >.<
  • ANGKI
    avatar 9017
    ANGKI #Selasa, 5 Jan 2016, 11:15 WIB
    entu gawean kan ngterke ndene aku mas... jan tobat wis nek keneng virus mbulusk" haha
    haseee
    klo dirimu bisa sampai sini memang bener dirimu tertular virus kurang kerjaan Ngki :D