Maw Mblusuk?
  • RSS 2.0
  • Facebook
  • Twitter
  • Flickr
  • Instagram
  • Youtube
  • E-Mail

Diterbitkan

Jum'at, 4 Juni 2010, 15:16 WIB4 Jun 2010, 15:16 WIB

Dilihat

8059 kali

13 Komentar

[kotak komentar]

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk

Cari Artikel

PARA PENJELAJAH

Catatan Perjalananoleh: Lombokkita

blog perjalanan Catatan Perjalanan oleh Lombokkita

INSTAGRAM @MBLUSUK

https://instagram.com/p/5qhtVgyi3X/

Nyepeda Setinggi 1363m dpl ke Ketep

Apa? 1363 meter diatas permukaan laut? Seperti apa itu?

 

Kalau sekiranya pembaca bertanya seperti itu, mungkin jawaban berikut yang akan saya lontarkan.

 

Kalau kita bernapas, bakal terlihat asapnya.

 

Nah, kebayang kan dinginnya seperti apa? Hehehe.

Obsesi untuk mencari air terjun yang lebih sensasional dari air terjun di Kebumen, menggiringku, Paklik Turtlix, Mba Indomielezat, Pipink, Angga, dan Pakdhe Timin untuk menjelajah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tersebutlah suatu nama air terjun, Kedung Kayang, yang konon berparas elok.

 

Di peta, lokasi air terjun itu hanya berjarak 3 kilometer dari obyek wisata Ketep Pass. Berhubung Ketep Pass itu berada di kaki gunung Merapi dan Merbabu, yah...sudah pastilah jalan menuju kesana menanjak.

 

Demi menghemat tenaga, kami memutuskan untuk bermalam di rumah kerabatnya Pakdhe Timin di Kecamatan Pakis, Magelang. Pada hari Jum’at (28/05/2010), bertepatan dengan perayaan Waisak, kami berenam berangkat dari Jogja menuju Pakis. Kami tak menyangka bahwa ini adalah Bikepacking tergila yang bakal kami lakukan.

 

SPSS di Selokan Mataram Barat dekat Selokan Van Der Wijck
Rapat dulu, menentukan rute, dan menyiapkan mental melahap tanjakan.

 

Etape 1, Jogja – Mungkid (45 km)

Kami menyusuri Selokan Mataram ke arah barat hingga sampai di Bendungan Karang Talun. Dari Bendungan Karang Talun dilanjutkan bersepeda ke Kec. Mungkid via Jl. Kalibawang-Muntilan. Halangan utamanya adalah tanjakan di Kec. Bendo, Kalibawang yang panjang dan curam.

 

Etape 2, Mungkid – Blabak, Rumah Pipink (6 km)

Prosesi waisak membuat suasana di Mungkid ramai oleh para peziarah. Mau-tak-mau kami harus putar otak mencari jalan kampung untuk bisa menembus keramaian. Beruntunglah karena waisak, maka cuaca saat itu terik cerah.

 

SPSS di Selokan Mataram Barat dekat Selokan Van Der Wijck
Pose dulu di Selokan Van Der Wijck, dekat dengan Bendungan Karang Talun.

 

Etape 3, Blabak, Rumah Pipink – Kota Magelang (7 km)

Ikuti saja Jl. Jogja-Magelang, mudah toh? Tunggu dulu! Hari itu, Jl. Jogja-Magelang sedang diperbaiki, sehingga ada penyempitan lajur. Oleh karena kami tak mau tersenggol oleh truk dan bus antarkota, terpaksalah kami pindah jalur ke pinggir jalan raya yang medannya berupa jalan tanah yang rusak. Serasa offroad di Pakem deh.

 

Etape 4, Kota Magelang – Kota Pakis (17 km)

Tanjakan panjang sejauh 17 km disertai hujan dan cuaca berkabut, sukses membuatku cegukan dan muntah-muntah di km 16. Oh ya, Angga menjumpai “penampakan” di Jl. Magelang-Kopeng.

 

Jalan Magelang - Jogja yang sedang diperbaiki
Jalan Magelang - Jogja yang sedang diperbaiki, jadi sempit dan bikin maceeet!

 

Etape 5, Kota Pakis – Desa Kajangkoso, Rumah Pendeta Sabar (4 km)

Berhubung kami tiba di Kota Pakis menjelang maghrib. Jadilah kami harus bersepeda malam ke Desa Kajangkoso. Cukup mengerikan, soalnya jalan menuju Desa Kajangkoso penuh turunan curam dan tidak ada penerangan jalan. Ketinggian mencapai 864m diatas permukaan laut.

 

Hmm, dari info yang aku peroleh, Desa Kajangkoso ini menyimpan candi yang konon lebih besar dari Candi Borobudur. Ada yang berkata, kalau candi di Desa Kajangkso ini terkuak, maka Candi Borobudur akan runtuh. Namun, aku tak sempat menjelajah desa ini. Sebab, harus istrahat untuk hari Sabtu (29/05/2010) yang sepertinya masih penuh rute menanjak.

 

Bersama keluarga Pendeta Sabar
Bersama keluarga Pendeta Sabar di Desa Kajangkoso, Kec. Pakis, Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

Etape 6, Desa Kajangkoso, Rumah Pendeta Sabar – Desa Kaponan (8 km)

Rutenya masih penuh dengan tanjakan ekstrim. Yang menjadi penyemangat adalah rambu hijau penunjuk arah ke Ketep di Desa Kaponan. Ketinggian mencapai 1241m diatas permukaan laut.

 

Etape 7, Desa Kaponan – Ketep Pass (16 km)

Dari Desa Kaponan, kami bersepeda mencapai titik tertinggi, yaitu 1363m diatas permukaan laut. Selepas itu, rute berubah menjadi penuh dengan turunan. Rute tak hanya dihiasi oleh permainya kebun-kebun sayur. Saat melintasi Taman Nasional Gunung Merbabu, kami terpuaskan oleh pemandangan hutan pinus yang cantik.

Bertemu dengan Mark, pesepeda Australia di Ketep Pass
Bertemu dengan Mark, pesepeda Australia di Ketep Pass


Etape 8, Ketep Pass – Air Terjun Kedung Kayang (3 km)

Kami bertemu dengan Mark, warga Australia yang juga seorang pesepeda. Pada hari Sabtu itu ia telah menempuh rute Jogja – Selo dan mampir di Ketep. Rute menuju Air Terjun Kedung Kayang masih diwarnai tanjakan, turunan, dan kelokan tajam setiap bertemu dengan sungai.

 

Untuk masuk ke Air Terjun Kedung Kayang, pengunjung dikenakan biaya Rp 2.250 per orang. Pengunjung juga dapat memilih rute untuk naik ke atas air terjun, atau ke bawah air terjun. Kami memilih opsi yang terakhir. Jalan menuju bawah air terjun berupa jalan tanah dan cukup licin di musim hujan.

 

Air Terjun Kedung Kayang sendiri sebenarnya sangat elok. Ada dua buah air terjun besar dan banyak air terjun kecil di lokasi yang sama. Sayangnya, kebersihannya kurang terjaga. Ada banyak sampah tersebar dimana-mana. Airnya sendiri berwarna kecoklatan, tidak jernih. Yah, mungkin ini efek samping air terjun yang menarik banyak pengunjung.

Air Terjun Kedung Kayang, Ketep, Magelang, Boyolali warnanya coklat
Air terjunnya sih besar, sayangnya airnya coklat dan lingkungan sekitarnya kotor.


Misi sudah terlaksana, saatnya kami pulang ke Jogja. Namun, hujan deras yang mengguyur lokasi air terjun dan padatnya jadwal Pipink dan Pakdhe Timin di Sabtu malam, membuat kami memutuskan untuk loading ke Jogja dari Muntilan.

 

Etape 9, Melarikan Diri dari Air Terjun Kedung Kayang (20-an km)

Di tengah hujan lebat, kami harus menaklukkan tanjakan untuk kembali ke Ketep. Dari Ketep, kami melaju hati-hati menuruni jalan raya yang berlubang parah. Di Muntilan, sudah menanti Pak Mul dengan mobil pickupnya, siap mengantar kami kembali ke Jogja. Kecuali Angga, ia memang tidak berniat naik pickup dan tetap nyepeda sampai Jogja. Yang membuat kaget kami, Angga dengan sepedanya berhasil mendahului kecepatan mobil pickup. Wedalah...


Pernyataan Angga Sukma Wicaksono yang kontroversial ituh
Pernyataan Angga yang kontroversial dan menuai prestasi itu...


Air Terjun Kedung Kayang sudah kami jelajahi. Dengan rute yang penuh tanjakan, tak kami rekomendasikan kepada pesepeda pemula, maupun pesepeda yang tak kuat menanjak. Jadi, besok ke air terjun mana lagi ya?

NIMBRUNG YUK


UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!

  • VICKY LAURENTINA #Jum'at, 4 Jun 2010, 22:54 WIB
    Kalau di sekitar air terjun Kedung Kayang-nya sendiri apakah ada penginapan, Na?

    Saya penasaran mau lihat betis Angga yang berhasil mengalahkan kecepatan mobil pikep.. :-D
    Di sekitar Gardu Pandang Ketep ada homestay yg ditawarkan oleh warga lokal mba, tarifnya dari 10rb sampai 50rb semalam. Betis Angga itu normal kok mba. :D
  • EM
    avatar 2807
    EM #Sabtu, 5 Jun 2010, 07:32 WIB
    kontroversial!
    apa maksudmu kontroversial???
  • INDOMIELEZAT #Sabtu, 5 Jun 2010, 08:01 WIB
    kita cari aja yuk..candi di pakis ituh....blek blek blek
    oh mi got...oh no
  • PEIN
    avatar 2813
    PEIN #Minggu, 6 Jun 2010, 18:17 WIB
    Hm,
    Ya iyalah,
    Ke air terjunnya pas ujan,
    Ya kaya gitu,airnya keruh, lumpurnya pada kebawa ujan smua....

    Wah,,,,
    Kecapaian ya,
    Kangen artikel candi,
    Dah lama lho !
    Padahal masih banyak candi di sana, kaya di Semarang ada Candi Tugu yg masih masuk Kotanya, Candi Ngempon yg mini2 dengan petirtaan kunonya yg deket ama pemandian air panas alami.........

    Wah,
    Penasaran ama penampakannya Angga di Jl. Magelang-Kopeng
    Dilematis, datang pas musim ujan malah airnya keruh, kalau kemarau airnya surut.
  • PAKOSU #Senin, 7 Jun 2010, 07:09 WIB
    Wah pasti seru dan menyenangkan nggowes sama kawan-kawan dihari libur itu. Saya juga pengen...
    mumpung masih muda, marilah jalan-jalan :D
  • PEIN
    avatar 2845
    PEIN #Sabtu, 12 Jun 2010, 22:59 WIB
    kalo pengen ke air terjun,
    Mengapa ga sepeda'an ke Candi Sukuh aja,
    kan di sebelah utaranya ada Air terjun parang ijo
    Selatan ada Air terjun Jumog dan Telaga Mardido,

    Lebih jauh ada Grojogan sewu......
    Nantikan kegilaan kami selanjutnya :D
  • WARM #Minggu, 13 Jun 2010, 12:41 WIB
    bersepeda ke ketinggian segitu ? sangar !!
    salut buat kalian

    dan titip salam buat Angga yg tangguh !
    :D
    Angga ketawa-tawa baca artikel ini :D
  • MAYONG
    avatar 2855
    MAYONG #Senin, 14 Jun 2010, 20:09 WIB
    Saluuuttee,... luar biasa deh,... mantaaf... sukses ya,...
    nuwun Kang
  • CERITAEKA #Rabu, 23 Jun 2010, 13:48 WIB
    Pas kmrn aku ke Ketep koq gak ada air terjunnya??
    Btw kamu itu sinting beneran deh Wij
    iku adooooooooooh bgt tau
    naek peda lagi
    weleeeeeeeh
    Lha air terjunnya ada di papan petunjuk informasi kok, dari Ketep Pass itu sekitar 3 km (termasuk jalan kaki). Jauh-dekat itu sangat relatif mba :D
  • ANNO #Rabu, 7 Jul 2010, 08:18 WIB
    sayang ya kedung kayang airnya coklat..
    coba kalau putih..pasti cocok di foto pake efek sama seperti fotomu pas di curug perawan di kulon progo..
    mestinya kemari pas musim kemarau, tapi tahun 2010 ini musim kemaraunya kapan ya?
  • ODYDASA #Selasa, 13 Jul 2010, 20:16 WIB
    Wah... ketep ya... kamis minggu lalu touring juga, tapi pakek sepeda motor. berhenti di warung2 di Selo, menikmati tongseng. saya cek di gps, ketinggiannya 1599m
    Selo memang lebih tinggi dari Ketep Kang :)
  • WARDZ #Sabtu, 6 Ags 2011, 03:01 WIB
    seru penuh tantangan
    sepedahan yang mengasikkan
    hanya saja aku belum kuat beli sepedanya
    boleh utang dulu ga ??
    Sepeda tua pun bisa kok Wardz. :)

    Yang penting dengkul masih kuat dan sabar untuk mengayuh pedal. :)
  • EKO SUTRISNO HP #Rabu, 8 Mei 2013, 21:04 WIB
    Salam.

    Bener deh, ini perjalanan yang asli gila-gilaan. Aku sudah menjalani perjalanan seperti
    ini (mirip), tapi memakai sepeda motor.
    Kalau pakai sepeda onthel, nyerah deh !:-)

    Salam sehati
    mumpung masih punya semangat dan belum turun dengkul Pak, hihihi