Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Jum'at, 9 Januari 2009, 23:10 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Dataran Tinggi Dieng, kawasan pedesaan yang terletak di bekas kaldera Gunung Dieng ini merupakan obyek pariwisata andalan di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara yang keduanya berada di Provinsi Jawa Tengah. Ya, wilayah Dieng ini memang terbagi ke dalam dua kabupaten yang saling bertetangga.

 

Jarak Dataran Tinggi Dieng dari Kota Wonosobo tidak terlampau jauh, hanya sekitar 20 km atau kira-kira 1 jam perjalanan. Dari Kota Wonosobo menuju Dataran Tinggi Dieng menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum dengan tujuan Wonosobo – Dieng yang beroperasi mulai dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore.

 

Yang perlu diperhatikan adalah jalan yang menghubungkan Wonosobo dan Dieng didominasi oleh tebing (saat menuju Dieng) dan jurang (saat bertolak ke Wonosobo). Bagi Pembaca yang membawa kendaraan pribadi, harap berhati-hati, terutama dengan kabut yang bisa muncul sewaktu-waktu.

 

Saat memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng, setiap pengunjung ditarik biaya retribusi Rp2.000 per orang. Kalau cuaca sedang bagus, selama perjalanan mata akan dihibur oleh gugusan bukit hijau yang dipenuhi dengan komoditas khas Dieng yaitu KenDi, alias Kentang Dieng.

 

Memasuki gerbang utama Dataran Tinggi Dieng kita akan langsung disapa dengan hawa pegunungan yang sejuk dan juga bau belerang. Pembaca tidak perlu bingung untuk berwisata di Dieng. Karena di desa yang hampir di setiap sudutnya terdapat masjid ini memiliki banyak obyek wisata yang unik dan menarik dengan bumbu budaya Jawa.

 

Salah satu obyek wisata yang kami kunjungi pada liburan kali ini (25/12/2008) adalah Telaga Warna.

 

Kawah Putih-nya Jawa Tengah

Sesuai namanya, Telaga Warna adalah telaga dengan air berwarna kehijau-biruan karena mengandung belerang. Alhasil, jangan heran kalau air telaga dapat berubah warna tergantung kadar belerang saat itu.

 

Bila Jawa Barat punya Kawah Putih, maka Jawa Tengah punya Telaga Warna. Keduanya nyaris serupa. Bedanya, di Telaga Warna sering dihinggapi kabut, seperti pada kunjunganku ini. Jadi ya sayang sekali aku nggak bisa mengekspos keindahan Telaga Warna secara maksimal.

 

Foto kabut tebal di telaga warna Dieng tahun 2008
Sayang Telaga Warna tetutup kabut tebal. Efek musim hujan mungkin ya?

 

Ah, ya sudahlah mungkin aku kurang beruntung. Tapi ya baru ini pertama kalinya aku memotret di tengah tebalnya kabut. Untuk bisa menikmati keindahan Telaga Warna, setiap pengunjung ditarik biaya retribusi Rp3.000 per orang pada musim biasa dan Rp6.000 pada musim liburan.

 

Gua Keramat

Andaikan kabut yang menyelubungi Telaga Warna nggak menghilang, aku nggak akan sadar bahwa kawasan Telaga Warna ini sangat luas. Bahkan mungkin lebih luas dari Kawah Putih. Sebabnya, di sini ada dua telaga yang saling terpisahkan oleh suatu bukit.

 

Bukit ini juga menyimpan obyek yang tidak kalah menarik dari Telaga Warna yaitu gua-gua keramat tempat meditasi. Joss toh?

 

Di kawasan Telaga Warna ini terdapat tiga gua yang masing-masing memiliki nama unik. Ada Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati (panjang amat namanya), Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto.

 

Foto penampakan di Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati di telaga warna Dieng tahun 2008
Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati

 

Foto hantu di Gua Sumur Eyang Kumalasari di telaga warna Dieng tahun 2008
Gua Sumur Eyang Kumalasari

 

Gua Semar dan Gua Sumur dipagari pintu masuknya, jadinya aku tidak bisa masuk. Gua-gua ini sebenarnya merupakan ceruk-ceruk pada suatu bukit batu yang sama. Hanya posisinya saja yang berbeda-beda.

 

Foto Gua Jaran di telaga warna Dieng tahun 2008
Gua Jaran Resi Kendaliseto.

 

Selain itu, ada juga obyek Batu Tulis Eyang Purbo Waseso. Sepertinya tempat-tempat ini merupakan tempat meditasi orang-orang masa lampau. Dengan suasana Telaga Warna yang sering berkabut, memang tempat ini seakan memiliki aura mistis yang mencekam. #halah

 

Anak Bajang

Sayang sekali di internet tidak ada literatur yang menceritakan sejarah dari gua-gua di Telaga Warna ini. Namun satu yang pasti, tempat-tempat tersebut masih digunakan dalam perhelatan budaya lokal. Khususnya pada acara ruwatan rambut anak bajang.

 

Anak bajang sendiri merupakan anak-anak keturunan Dieng yang identik dengan rambut gimbal. Keunikan anak-anak bajang ini tidak lepas dari mitos klasik penduduk Banjarnegara, khususnya masyarakat Dieng. Mereka percaya, anak-anak bajang tersebut bukan anak biasa karena merupakan anak-anak kesayangan roh-roh gaib penunggu Dataran Tinggi Dieng, yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul.

 

 

Semoga suatu saat aku bisa kembali lagi ke Telaga Warna, saat kabut tidak tebal seperti ini, dan mengungkap misteri yang menyelimutinya.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • RY
    avatar 2022
    RY #Selasa, 5 Jan 2010, 22:39 WIB
    Jd kangen sama Wonosobo...
    Kbetulan skripku juga disana lho :)
    Wonosobo dingin,...hiih...skrip apaan?
  • ANNOSMILE
    avatar 2737
    ANNOSMILE #Selasa, 18 Mei 2010, 22:58 WIB
    kemarin habis darisana.
    untung nggak berkabut..
    ah ya, mestinya kesana itu musim kemarau...
  • INFORMASI WISATA DIENG
    avatar 4501
    INFORMASI WISATA DIENG #Minggu, 11 Mar 2012, 22:50 WIB
    dieng memang tempat pilihan wisata yang menawan,
    rugi jika belum mengunjunginya,
    namun memang banyak mitos-mitos dari warga setempat, sepert rambut gimbal
    Dieng ta
  • FACHMI
    avatar 6517
    FACHMI #Selasa, 30 Sep 2014, 12:50 WIB
    ke telaga warna lebih keren pas musim hujan, eksotiss parah
    Wah, saya malah belum pernah pas musim hujan. Bukannya malah ketutupan kabut yah?
  • SUPRIYANTO
    avatar 10525
    SUPRIYANTO #Sabtu, 7 Jan 2017, 00:56 WIB
    Saya dulu seorang banser di wilayah dieng
    tapi sekarang merantau jauh di kalimantan
    barat
    Wuih mantap Kang! Mencari nafkah nun jauh di Kalimantan Barat. Semoga kehidupan tetap barokah ya dan bisa nengok Dieng lagi. :D